Friday, June 17, 2011

Al-Jenazah Airlines

"Kita sedang antri menunggu AJAL"
 
Bila kita akan “berangkat” dari alam ini ia ibarat penerbangan ke sebuah Negara,
Dimana informasi tentangnya tidak di dapatkan dari brosur brosur penerbangan. Tapi dari Qur’an dan hadist. Yang mana penerbangannya bukan menggunakan US Airlines, Garuda Airlines, tapi Al-jenazah Airlines ...

Dimana bekal kita bukan lagi koper besar yang maksimal 23kg, Tapi amal perbuatan yang kita tidak tau sudah sebanyak apa kita siapkan. Tidak lagi kita pusingkan busana yang kita beli di butik merek pierre cardin tapi kain kafan putih.
Di mana pewanginya bukan channel atau polo, tapi air biasa yang suci. Yang pasportnya bukan Indonesia, British, tapi …Al-Islam. Visa kita bukan sekedar 6 bulan. Tapi, Laailahailallah … yang bukan lagi kita di layani Oleh para pramugari yang cantik seperti miss universe. Tapi Izrail dan kawan kawan.

Di mana tujuan mendaratnya bukan bandara cengkarang, Adi sucipto, Jeddah International Airport, tapi tanah perkuburan. Di mana ruang tunggunya bukan lagi ruangan ber-AC , tapi ruang 2x1 meter. Gelap gulita, suram. Inilah sebenarnya kesuraman itu.

Di mana pegawai imigrasinya adalah munkar dan nakir yang memeriksa layak tidaknya kita menuju tujuan akhirnya. Di mana lapangan transitnya adalah alam barzakh. Dan tujuan akhirnya adalah SURGA atau NERAKA.

Saat penerbangan kita berangkat , tanpa doa bismillahi tawakaltu ‘Alallah atau ungkapan selamat jalan. Tapi INALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIIUN.  Kita berangkat pulang ke Rahmatullah. MATI …
Adakah kita siap untuk berangkat ??

Allahumaghfirlana. Semoga Allah member hidayah untuk ku, dan keluargaku. Serta orang orang yang kusayang. Begitupun kalian semua …

Saturday, May 14, 2011

Setahun Kegagalanku

Aku ingin membiarkannya lepas, kepenatan itu. Tubuhku masih cukup peka untuk memberikan sinyal bahwa aku tidak mampu menanggung semua, karena itulah aku menangis. Bagaimanapun kepedihan ini tetap terasa tajam , menjadikanku terisak dan tersengal .

Akan ada satu masa ketika kebahagian ku pribadi tidak lagi berarti banyak. kebahagian yang ingin kucapai ini akan bermutasi menjadi kebahagiaan lain. Akan ada saatnya diriku lebur dalam identitas baru, orang orang bahkan diriku sendiri akan lupa pada aku yang hari ini, aku yang mana yang sebenarnya kuinginkan terus hidup ? masih belum terlambatkah ?

Ada kalanya pujangga diam, homunculus di otakku yang gemar berpuisi itu kadang kadang mogok berkarya.

Sampai kapanpun jangan kira aku bakal setuju dengan satu ini. Tapi sampai kapanpun, jangan pernah ragu juga kalau aku akan selalu mendukungmu. Setolol apapun keputusan yang akhirnya kamu ambil nanti, Aku di sini,  membaca pesan pesanmu , membalasnya dengan menjadikan kamu terus bertanya , menunggu kamu untuk akhirnya mempertanyakan satu satunya pertanyaan yang ada. Ya, aku tak lebih dari sebuah bola pingpong, di lempar dari satu sisi pertimbangan ke sisi yang lainnya, tanpa bisa memutuskan apa apa .

Dan ternyata kiamat punya edisi khusus. Kiamat personal. Sang putri tidak lagi eksis, Ia mati bersama cintanya. yang membutakan bumi. Ia hancur. seperti serbuk meteor yang membedaki langit, ia tamat.

Ada penekanan yang hampir tak kentara , namun sangat terasa. Ada serpihan waktu yang teramat singkat, saat akuterguncang mendengar pertanyaan itu. Dan ada kekekalan yang terasa ketika mereka saling menatap. Aku dan refleksiku.

Aku tidak lagi berkubang di lumpur lumpur primitive, tapi di percikan percikan listrik mobilitas pikiran ku. Bifurkasi itu momen yang mengkristal , aku tidak bisa kembali ke sana. tapi ia selamanya ada di dalam kekekalan ...

Sekalipun kakiku sudah kembali berpijak di bumi, namun sayap sayapku tidak hilang. ku dapat melepaskan ikatan tubuhku kapan saja ku mau, aku hanya ingin menikmati hidup. Bermain main, suka atau duka. tangis atau tawa. Semua terjadi bersamaan bagiku. aku merasakan emosi emosi itu memberikan reaksi, namaun dalam sekelabat ia pun pergi .

Pertanyaan ku tak akan habis habis, dan semuanya tidak ada yang perlu. aku manusia biasa sepertimu , hanya cermin yang relative lebih jernih, kita semua cermin bagi yang lain, aku melihat diriku dalam dirimu. 

Monday, May 02, 2011

Walking Westwerd In The Morning


Walking westwerd in the morning the sun follows from behind
I walk following my lengthened shadow before me
the sun and I dont argue about which one of us creates the shadow
the shadow and I dont argue about which one of us must lead the way
(Sapardi Djoko Damono)

Sunday, April 17, 2011

Elegi

Musuh musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga, Saban kali datang, Melukaiku dan kemudian menyembuhkan: “Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga,  Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa.

Saban kali mereka datang, Menanamkan cakar dan mencampakkan barang barangku: Piring, kursi, meja makan, sajak sajak, kesempatan dan keleluasaanku.

Aku mengira, Mereka dapat mengenyahkan jejak dan kebebasanku, Seperti aku mengira mereka pun akan dapat mengenyahkan kecemasan mereka sendiri, Keputusan mereka sendiri.

Kemanakah kemudian mereka pergi, bersembunyi atau menyelamatkan diri? Begitu banyak semak semak dan gua, Dalam lubuk hatiku, seperti dalam lubuk hati mereka. Hingga sering aku sendiri tak mengetahuinya, Dan tak sempat mengetahuinya.

Dan bagaimana kalau mereka temukan perang yang kuasah diam diam lebih berkilauan? Dan geraham gerahamku tak henti hentinya geram dan lebih leluasa bergerak?

Kukatakan:
Aku lebih bebas sekalipun kalian ingin membunuhku
Aku bebas sekalipun kalian mengepeung dan memburuku
Aku bebas karena pedih dan kepedihan membebaskan aku
Tapi mereka seperti aku adalah pecinta busuk
Yang tak pernah memberi tempat kepada cinta dan pecinta
Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia siaan
Mereka ingin membunuh ku karena mengira aku ingin membunuh mereka
Aku ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku
Mari kita tolong mereka, mari kita tolong diri kita

Oleh : Abdul Hadi W.M. / INDONESIA