Sunday, April 17, 2011

Elegi

Musuh musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga, Saban kali datang, Melukaiku dan kemudian menyembuhkan: “Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga,  Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa.

Saban kali mereka datang, Menanamkan cakar dan mencampakkan barang barangku: Piring, kursi, meja makan, sajak sajak, kesempatan dan keleluasaanku.

Aku mengira, Mereka dapat mengenyahkan jejak dan kebebasanku, Seperti aku mengira mereka pun akan dapat mengenyahkan kecemasan mereka sendiri, Keputusan mereka sendiri.

Kemanakah kemudian mereka pergi, bersembunyi atau menyelamatkan diri? Begitu banyak semak semak dan gua, Dalam lubuk hatiku, seperti dalam lubuk hati mereka. Hingga sering aku sendiri tak mengetahuinya, Dan tak sempat mengetahuinya.

Dan bagaimana kalau mereka temukan perang yang kuasah diam diam lebih berkilauan? Dan geraham gerahamku tak henti hentinya geram dan lebih leluasa bergerak?

Kukatakan:
Aku lebih bebas sekalipun kalian ingin membunuhku
Aku bebas sekalipun kalian mengepeung dan memburuku
Aku bebas karena pedih dan kepedihan membebaskan aku
Tapi mereka seperti aku adalah pecinta busuk
Yang tak pernah memberi tempat kepada cinta dan pecinta
Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia siaan
Mereka ingin membunuh ku karena mengira aku ingin membunuh mereka
Aku ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku
Mari kita tolong mereka, mari kita tolong diri kita

Oleh : Abdul Hadi W.M. / INDONESIA