Akan ada satu masa ketika kebahagian ku pribadi tidak lagi berarti banyak. kebahagian yang ingin kucapai ini akan bermutasi menjadi kebahagiaan lain. Akan ada saatnya diriku lebur dalam identitas baru, orang orang bahkan diriku sendiri akan lupa pada aku yang hari ini, aku yang mana yang sebenarnya kuinginkan terus hidup ? masih belum terlambatkah ?
Ada kalanya pujangga diam, homunculus di otakku yang gemar berpuisi itu kadang kadang mogok berkarya.
Sampai kapanpun jangan kira aku bakal setuju dengan satu ini. Tapi sampai kapanpun, jangan pernah ragu juga kalau aku akan selalu mendukungmu. Setolol apapun keputusan yang akhirnya kamu ambil nanti, Aku di sini, membaca pesan pesanmu , membalasnya dengan menjadikan kamu terus bertanya , menunggu kamu untuk akhirnya mempertanyakan satu satunya pertanyaan yang ada. Ya, aku tak lebih dari sebuah bola pingpong, di lempar dari satu sisi pertimbangan ke sisi yang lainnya, tanpa bisa memutuskan apa apa .
Dan ternyata kiamat punya edisi khusus. Kiamat personal. Sang putri tidak lagi eksis, Ia mati bersama cintanya. yang membutakan bumi. Ia hancur. seperti serbuk meteor yang membedaki langit, ia tamat.
Ada penekanan yang hampir tak kentara , namun sangat terasa. Ada serpihan waktu yang teramat singkat, saat akuterguncang mendengar pertanyaan itu. Dan ada kekekalan yang terasa ketika mereka saling menatap. Aku dan refleksiku.
Aku tidak lagi berkubang di lumpur lumpur primitive, tapi di percikan percikan listrik mobilitas pikiran ku. Bifurkasi itu momen yang mengkristal , aku tidak bisa kembali ke sana. tapi ia selamanya ada di dalam kekekalan ...
Sekalipun kakiku sudah kembali berpijak di bumi, namun sayap sayapku tidak hilang. ku dapat melepaskan ikatan tubuhku kapan saja ku mau, aku hanya ingin menikmati hidup. Bermain main, suka atau duka. tangis atau tawa. Semua terjadi bersamaan bagiku. aku merasakan emosi emosi itu memberikan reaksi, namaun dalam sekelabat ia pun pergi .
Pertanyaan ku tak akan habis habis, dan semuanya tidak ada yang perlu. aku manusia biasa sepertimu , hanya cermin yang relative lebih jernih, kita semua cermin bagi yang lain, aku melihat diriku dalam dirimu.

