Thursday, August 21, 2014

Autumn in August

Gw bingung memilih tema menulis gw pagi ini. ada banyak sekali hal yang ingin gw bagi. dan baru kali ini, gw ngerti arti gak tau harus cerita sama siapa. Gw selalu menganggap cerita gw gak pernah jadi hal yang mengesankan ketika diceritakan, semengesankan apapun cerita itu sebenarnya. Makanya, gw sungkan sekali curhat kalau curhat kadang bohong. Selain itu, gw memang pemalu. Malu maluin.

Autumn in August. Agustus pelangi. Agustus. Argh. Huft. Kyaa. 

Yang bisa meredakan rasa nano nano itu adalah bersepeda, merasakan semilir angin musim gugur sebut saja begitu, dengan playlist yang isinya cuma satu lagu. Paradise. Coldplay.



Tidak mewakili isi dada memang. 

Tapi, berhasil meredakan semua ramai rasa agustus. Bahkan labih jauh dari itu, meredakan rasa yang paling banyak menguasai alam sadar yaitu rasa kecewa. Ea...

Pada beberapa orang, menuliskan apa rasanya bisa menjadi alat untuk mengurai atau menemukan ide yang menggerakkan isi kepalanya untuk berbuat sesuatu. Move on. Merapikan catatan perasaan hari demi hari yang berlalu, agar mampu jujur pada diri sendiri. Mengakui kesalahan, membuat koreksi, lalu berani untuk sekali lagi meminta maaf pada mereka yang belum bisa kita relakan perlakuannya selama ini. hebatnya, kemudian dia mampu menamatkan dalam sebait puisi, atau sepatah kata iya.

Lalu memilih hal yang tidak mungkin bagi orang lain, yaitu berbahagia. Karena sadar ini adalah masalah pilihan. Memilih tidak galau adalah tindakan bijak yang jarang diketahui orang, karena dia menyimpannya dalam raut muka diam. Lepaslah. Lepaslah saja semuanya. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk mematikan bara api, jika tidak hari ini tidak pernah ada hari yang lain. Ah, ini bukan pilihan lagi. Ini adalah harus. Lepaslah. Berbahagialah.