Gw bingung memilih tema menulis
gw pagi ini. ada banyak sekali hal yang ingin gw bagi. dan baru kali ini, gw
ngerti arti gak tau harus cerita sama siapa. Gw selalu menganggap cerita gw gak
pernah jadi hal yang mengesankan ketika diceritakan, semengesankan apapun
cerita itu sebenarnya. Makanya, gw sungkan sekali curhat kalau curhat kadang
bohong. Selain itu, gw memang pemalu. Malu maluin.
Autumn in August. Agustus pelangi.
Agustus. Argh. Huft. Kyaa.
Yang bisa meredakan rasa nano
nano itu adalah bersepeda, merasakan semilir angin musim gugur sebut saja
begitu, dengan playlist yang isinya cuma satu lagu. Paradise. Coldplay.
Tidak mewakili isi dada memang.
Tapi, berhasil meredakan semua
ramai rasa agustus. Bahkan labih jauh dari itu, meredakan rasa yang paling
banyak menguasai alam sadar yaitu rasa kecewa. Ea...
Pada beberapa orang, menuliskan
apa rasanya bisa menjadi alat untuk mengurai atau menemukan ide yang
menggerakkan isi kepalanya untuk berbuat sesuatu. Move on. Merapikan catatan
perasaan hari demi hari yang berlalu, agar mampu jujur pada diri sendiri. Mengakui
kesalahan, membuat koreksi, lalu berani untuk sekali lagi meminta maaf pada
mereka yang belum bisa kita relakan perlakuannya selama ini. hebatnya, kemudian
dia mampu menamatkan dalam sebait puisi, atau sepatah kata iya.
Lalu memilih hal yang tidak
mungkin bagi orang lain, yaitu berbahagia. Karena sadar ini adalah masalah
pilihan. Memilih tidak galau adalah tindakan bijak yang jarang diketahui orang,
karena dia menyimpannya dalam raut muka diam. Lepaslah. Lepaslah saja semuanya.
Tidak banyak waktu yang tersisa untuk mematikan bara api, jika tidak hari ini
tidak pernah ada hari yang lain. Ah, ini bukan pilihan lagi. Ini adalah harus. Lepaslah.
Berbahagialah.
