Berkata buruk itu tidak baik. Apalagi
berkata-kata buruk kepada orang lain. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, terbentuk
karakter dalam diri. Terlalu kuat, akarnya mendarah daging. Apa hebatnya jika
upaya menaikkan harga diri adalah dengan menjatuhkan orang lain. Apa bagusnya,
jika upaya terlihat adalah dengan menyingkirkan orang lain.
Perubahan ini dapat terjadi jika
dalam hati mau jujur dan sadar, kita tak lebih terjamin hidupnya di dunia,
apalagi di akhirat. Tak pantas jika mau berlaku semena-mena pada kehidupan
orang lain, dosa apa mereka kita injak injak dan coreng moreng keberadaannya. Memangnya,
bau busuk tiap kalimat yang terucap tak tercium malaikat pencatat amal buruk?
Berhentilah, tengok kebelakang. Aib
apa yang sudah pernah dilakukan, kemudian oleh-Nya disembunyikan aib-aib itu. Namun
dengan sombong menghinakan lagi diri sendiri dengan menghinakan ciptaan-Nya yang
dianggap lebih hina. Memangnya kita punya jaminan lebih bernilai dihadapan-Nya.
Berhentilah, berhentilah
menghujat orang lain. Kata ebiet “Tengoklah kedalam sebelum bicara, singkirkan
debu yang masih melekat...” kita kan tidak suci toh. Kita kan tidak maksum
seperti halnya Rasulullah SAW, mau sampai kapan berangkuh-angkuhan. Memangnya tidak
malu pada langit. Kepada yang selalu mengawasi tiap kata yang dilontarkan. Mencatatnya
untuk dimintai pertanggung jawaban di hari akhir kelak. Karena tiap-tiap kejahatan
yang diperbuat, selalu ada ganjarannya. Dia maha mengetahui apa yang kamu
rahasiakan, apa yang ada dalam hatimu, Dia tau.
