Tuesday, September 02, 2014

Pengobral Dosa

Berkata buruk itu tidak baik. Apalagi berkata-kata buruk kepada orang lain. Mungkin sudah menjadi kebiasaan, terbentuk karakter dalam diri. Terlalu kuat, akarnya mendarah daging. Apa hebatnya jika upaya menaikkan harga diri adalah dengan menjatuhkan orang lain. Apa bagusnya, jika upaya terlihat adalah dengan menyingkirkan orang lain. 

Perubahan ini dapat terjadi jika dalam hati mau jujur dan sadar, kita tak lebih terjamin hidupnya di dunia, apalagi di akhirat. Tak pantas jika mau berlaku semena-mena pada kehidupan orang lain, dosa apa mereka kita injak injak  dan coreng moreng keberadaannya. Memangnya, bau busuk tiap kalimat yang terucap tak tercium malaikat pencatat amal buruk? 

Berhentilah, tengok kebelakang. Aib apa yang sudah pernah dilakukan, kemudian oleh-Nya disembunyikan aib-aib itu. Namun dengan sombong menghinakan lagi diri sendiri dengan menghinakan ciptaan-Nya yang dianggap lebih hina. Memangnya kita punya jaminan lebih bernilai dihadapan-Nya.

Berhentilah, berhentilah menghujat orang lain. Kata ebiet “Tengoklah kedalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat...” kita kan tidak suci toh. Kita kan tidak maksum seperti halnya Rasulullah SAW, mau sampai kapan berangkuh-angkuhan. Memangnya tidak malu pada langit. Kepada yang selalu mengawasi tiap kata yang dilontarkan. Mencatatnya untuk dimintai pertanggung jawaban di hari akhir kelak. Karena tiap-tiap kejahatan yang diperbuat, selalu ada ganjarannya. Dia maha mengetahui apa yang kamu rahasiakan, apa yang ada dalam hatimu, Dia tau.

Monday, September 01, 2014

Lala Poo

Rupanya mengesankan. Liburan panjang semester ini banyak hal baru yang mengesankan. ini soal teman. Orang orang yang datang memberi warna pelangi pada lembaran baru dibuku catatan. Lebih dalam lagi, mewarnai hari hariku. Hari hari dalam hidupku. Tidak, tidak berlebihan sih kataku.

Banyak sebenarnya, kalimat yang bisa dirangkai untuk menceritakan kesenangan yang aku lewati bersama teman teman dirumah. Mulai dari sibuk kumpul adu ide soal pesta kemerdekaan sampai sidang pleno karang taruna. How amazing.

Menjadi bagian dari suatu komunitas, siapa sangka aku bisa sesemangat itu. yang sudah sudah, saat merasa tidak diterima, disindir sedikit saja, mental ku bobrok. Pulang kerumah. Lain waktu ogah ikutan lagi. Sering begitu. Namun kali ini lain sekali, saat bicara sendiri ada kata pamungkas yang menguatkan. Teman. Mereka telah menjadi teman yang berharga.

Mereka baik, mereka menginspirasi, mereka rela berpeluh, mereka berbicara dengan bahasa hati. Sungguh, menyenangkan sekali bisa bertemu dan menjadi bagian dari teman teman. 

Begitulah, apa lagi namanya kalau bukan teman, jika selalu ada rencana kumpulan diatas kumpulan. Tempat dimana kita nanti pulangnya, dan yuk sepedahan. Semoga, selalu ada next time ya “guys”.