Halo semua, aku mau sharing tentang pengalaman pertama aku melahirkan anak ke dunia. Sebelumya, aku mau ingetin bahwa pengalaman ini adalah apa yang aku alami, tiap wanita punya pengalaman yang berbeda, jadi kamu tidak boleh judging ya.
Baiklah, aku akan mulai dengan suatu momen di hari sabtu saat aku terbangun pukul 2 dini hari. Sejak awal kehamilan, aku punya kebiasaan pipis 3-6 kali sepanjang malam. Hari itu, saat aku terbangun untuk pipis, aku melihat darah kecoklatan di pantilinerku, aku shock. Aku tidak mengalami flek atau blooding selama masa kehamilan, sehingga melihat hal itu aku menjadi kaget dan merasa khawatir dengan kondisiku. Setelah pipis, ternyata ada darah segar yang nempel di pentiliner baru, dan tak lama kemudian aku mulai menyadari adanya kontraksi di rahimku. Sebetulnya saat bobo juga aku merasakan ini, tapi aku khusnudzon kalau ini hanya sakit perut biasa karena kelamaan nahan pipis.
Karena panik, pertama, dan memang sudah masuk 39 minggu 6 hari, aku memutuskan minta di bawa ke RS dekat rumah, wow iam excited. Masuk IGD, lalu diobservasi, belum ada bukaan. Guys, cek bukaan tuh di cek lebar bukaan di vagina pakai jari bidan/dokter loh btw. Karena sakit yang aku rasain cuma kontraksi yang jarang, jadi aku sadar banget saat di cek bukaan, I mean "loooh gini ya rasanya". Lalu bla-bla-bla aku di infus, dan yaaa ini pertama kali aku di infus sepajang hidup.
Singkat cerita, aku sudah di kamar dan bobo lagi karena kengantukan. Beberapa kali perawat visit untuk liat kondisi aku. aku bertemu mbak sarah, mbak cantik dan baik yang auranya menyenangkan. Aku jadi lebih optimis mau lahiran. Sebangun dari tidur jam 6 pagi, kontraksiku hilang… hilang… hilang… kontraksiku hilang…
Menyadari hal itu, aku berinisiatif untuk melakukan hal-hal yang memicu kontraksi, jalan-jalan di depan halaman kamar, jongkok berdiri, sambil berharap akan terjadi bukaan hari itu. Masih pagi aku masih optimis, setiap ditanya perawat jaga, aku menjawab dengan jujur semua yang aku rasakan, dalam hati pongah bilang “gini doang ya rasanya…aku kira bakal sakit yang gimana”, dan aku masih berdarah.
Pagi beranjak, siang berlalu, sorepun datang… dokter indrawan, dokter yang aku pilih untuk mengawasi kehamilanku, visit, menyimpulkan yuk usg dulu, aku dibawa ke ruang dokter dengan menggunakan kursi roda, oya hari itu aku seperti princess yang semua dilayani, rasanya aneh, asing, kayak ada yang gak siap gitu, dan aku sehat… hasil usg menunjukkan plasenta aman, ketuban cukup, adek sehat, beratnya 3.8 kg. Lalu kami ngobrol… gimana, mau pilih tunggu sampai besok disini, atau mau pulang aja?
Kita tunggu sampai malam, kalau ada kontraksi lagi, kita nginep. Dan sampai isya gak ada, hmmm. Gimana nih, pulang aja apa ya? Tapi aku masih berdarah.
Oke, kita pulang.
Di rumah aku istirahat dan tidak menduga bahwa pukul 11.00 aku mengalami kontraksi yang oh ini baru namanya kontraksi. Tapi tidak mau gegabah, aku menunggu rasa sakit itu beneran nyata dan intens sampai pukul 04.00, pokoknya sampai gak tahan. Sudah yakin sakitnya, kami berangkat lagi. Aku menjalani pemeriksaan yang sama seperti kemarin pagi, tapi dengan focus yang kabur-kaburan karena duhhh sakit bener cui. Tambah beban akan menjalani pemeriksaan dalam.
Alhamdulillah bukaan 1.
Oke kita pesan kamar lagi. Sakit masih berlanjut ya… dan semakin menyakitikan. Di kamar aku hanya bisa aduh-aduh dan khawatir karena masih bukaan 1 tapi kok sakitnya sakit ya. Jam 07.00 di cek lagi, bukaan 3 eh ada kemajuan… wah lahir hari ini si dum-dum.
Jam 8 ibu bidan menawarkan untuk masuk ruang tindakan. Aku moh. Masih bukaan 3 ke ruang tindakan, nanti apa gak kelamaan disana, terus barengan sama bumil lain yang lagi kesakitan. Aku akan lebih stress.
Tapi Masyaa Allah… jam 9 aku sudah kesulitan mengendalikan diri. Sakitnya luar biasa… luar biasa…
“Ayo kita ke ruang tindakan mas…”
Bener kan, disana ada 1 orang bumil lain yang sedang berjuang melairkan, sama sama anak pertama. Dia mengaduh sesekali. Ruangan hanya disekat tirai. Jadi aku sangat jelas mendengar teriakan bu bidan “eh bukaan lengkap…” lalu gemeruduk mereka siap siap proses bersalin. Kurang dari 15 menit yang mendebarkan si bayi lahir.
Bagaimana perasaanku mendengarnya?
Aku memeluk suamiku, beliau mencup cup aku agar tidak tambah nervous.
Tak lama kemudian, sakit yang aku rasakan semakin heboh. Tadi kan aku bilang sakit luar biasa ya udahan, nah ini lebih sakit dari sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang tiap aku tanyakan kepada ibu-ibu yang pernah melahirkan dijawab “Tidak ada pembandingnya ridha…”
Saat seperti ini yang aku alami selain sakit adalah khawatir, gak selaw. Aku mengira akan putus asa beberapa detik kemudian, dalam hatiku bisikan “udah minta sc aja… udah minta sc aja” terus berderung-derung, padahal sebenernya rasanya akan sama saja. Aku hanya ingin segera mengakhiri rasa sakit ini gaes. Aku ratahannn meneh jika harus menunggu lebih lama.
Mengalami rasa seperti ini membuat aku yang suka menantang mati menjadi ciut. Ya Allah, ternyata sesakit ini ya, aku menyesal sungguh amat menyesal sering menantang mati ya Allah. Melahirkan membuat kita menampilkan diri kita yang sesungguhnya. Melahirkan membuat kita tau manusia macam apa kita sebenarnya.
Dan di saat paling gak bisa lagi di tahan tiba-tiba terasa & terdengar balloon pecah dari siniku. “pyuk” atau “blar” atau “jedum” lalu aku reflek teriak “ketuban aku pecaaah…”
Than semua tenaga medis yang menolong persalinanku datang dengan tenang, bukaan lengkap katanya. Aku lega. Legaaa. Rasa sakit nya mulai berkurang dan aku malah rileks. Dengan dipandu oleh dokter, aku mulai mengejan. “oke… dorong saat ada kontraksi ya… hanya saat kontraksi bla bla bla” sambil mendengarkan support dari mereka aku mengejan dan terus mengejan “krek” lalu “krek” bunyi suara tambahan jalan lahir. Tak lama ais keluar… aku kaget, bingung, lebih lega lagi. Lalu IMD. Lalu proses bersih-bersih rahim dan penjahitan yang aku tak lagi rasakan sakitnya.
Masyaa Allah.
Melahirkan begitu indah gaes…