“Tidak ada gunanya memperbaiki sesuatu diatas penyesalan”
Aku baru paham
makna kalimat itu sekarang. Percuma sekali rasanya. Yang aku rasain justru
jarak yang semakin terasa jauh. Harapan
yang semakin memudar.
Aku akan membagi
sebuah pengalaman yang banyak menyesakkan. Yang hari ini menjadi puncak
kekesalan itu. Aku akan menasehati siapapun yang akan memutuskan sesuatu yang
sudah tau akan berpengaruh banyak dihidupnya. Putuskan atas dasar yang paling
jelas. Pilihan itu karena Allah bukan? Sesuai dengan keinginan dan kemampuan
(dari banyak faktor) bukan?
Sebenarnya aku
sudah melakukan prosedur pengambilan keputusan dengan sangat baik. Tapi kenapa
yang aku rasakan justru “Penyeselan”. Aku kira ketika aku putuskan ini, pilihan
ini adalah pilihan yang tidak akan pernah membuat aku menyesal. Pilihan yang
akan membahagiakan. Pilihan yang akan terus kurasa paling tepat.
Tapi ... kenapa?
Kenapa perasaan menyesal malah datang diwaktu paling awal dari perjalanan ini.
Kenapa ya? Apa ada yang salah dengan niat awalnya? Apa waktu itu aku tidak
serius mendengarkan petuah orang lain? Apa aku terlalu bebal untuk mengulang
ulang memikirkan pilihan mana yang paling pas?
Dan, kenapa kabar-kabar
“baik” jika dilihat pada waktu yang “pas” itu datang baru baru ini. Dan sekarang
kabar baik itu telah berubah rasa. Ada rahasia apa yang Allah simpan sehingga
aku seperti digariskan takdir menjadi baru tau sekarang. Lalu aku semakin
menyesal, panas ubun ubunku. Ya, aku sedang marah. Dengan isi kepala yang
begitu ... tidak cerdasnya.Mungkin aku hanya kaget dengan
kebiasaan baru yang menuntutku bergerak lebih banyak dan cepat. Mungkin aku
belum bisa melakukannya secara efektiv dan efisien.
Tapi, apakah
tuntutan itu akan menjadi berbeda rasanya jika aku duduk di bangku dan tempat
yang lain. Di tempat yang jauh, ditempat yang dari awal kelas tiga SMA sudah di
mimpi-mimpikan, sudah dibayang bayangkan. Pernah kan kita punya passion yang
sangat besar terhadap sesuatu. Pernah kan kita selalu bermimpi menjalani hidup
seperti apa? Dan semakin merasa mimpi itu kian dekat ... semakin dekat ...
rasanya gak sabar segera menyambut hari pertama ... mungkin aku akan meledak
kalau harapan itu terjadi.
Aku terlalu dini
untuk berputus asa waktu itu, ternyata benar. Akan ada saat kamu ingat kamu
duduk disini, didepanmu ada kertas yang akan kamu tuliskan sesuatu yang besar
yang menjadi mimpi mimpimu, tapi justru kamu menulis dengan huruf lain. Kenapa
rida? Seandainya kamu lebih berani, sedikit lagi. Kalaupun kamu gagal, kamu
sudah melakukan tindakan yang mendekat kesana, bukan belok kiri.
Hal hal seperti itu
cepat sekali berlalu ya... cepat sekali aku berubah pikiran dan cepat sekali
aku bisa berpura pura senang pada diriku sendiri. Lalu kenapa juga cepat sekali
aku sadar kalau aku tidak begitu bahagia, cepat sekali aku sadar, cepat sekali
aku menyesal...
Oh hidupku, kirimi
aku secarik surat. Yang akan menjelaskan alasan dibalik takdir yang Allah
gariskan. Agar aku berbeda dengan hari ini. Agar aku paham bagaimana memulai
hidup dengan mau jujur pada diri sendiri. Menulis ini tidak selesai loh,
dipundakku ada banyak beban yang seiring waktu berlalu semakin memberatkan
saja. Dengan Cuma menulis tidak selesai loh... aku kudu gimana?