Tuesday, September 17, 2013

Its Too Late

“Tidak ada gunanya memperbaiki sesuatu diatas penyesalan”

Aku baru paham makna kalimat itu sekarang. Percuma sekali rasanya. Yang aku rasain justru jarak yang semakin terasa  jauh. Harapan yang semakin memudar. 

Aku akan membagi sebuah pengalaman yang banyak menyesakkan. Yang hari ini menjadi puncak kekesalan itu. Aku akan menasehati siapapun yang akan memutuskan sesuatu yang sudah tau akan berpengaruh banyak dihidupnya. Putuskan atas dasar yang paling jelas. Pilihan itu karena Allah bukan? Sesuai dengan keinginan dan kemampuan (dari banyak faktor) bukan? 

Sebenarnya aku sudah melakukan prosedur pengambilan keputusan dengan sangat baik. Tapi kenapa yang aku rasakan justru “Penyeselan”. Aku kira ketika aku putuskan ini, pilihan ini adalah pilihan yang tidak akan pernah membuat aku menyesal. Pilihan yang akan membahagiakan. Pilihan yang akan terus kurasa paling tepat.

Tapi ... kenapa? Kenapa perasaan menyesal malah datang diwaktu paling awal dari perjalanan ini. Kenapa ya? Apa ada yang salah dengan niat awalnya? Apa waktu itu aku tidak serius mendengarkan petuah orang lain? Apa aku terlalu bebal untuk mengulang ulang memikirkan pilihan mana yang paling pas?

Dan, kenapa kabar-kabar “baik” jika dilihat pada waktu yang “pas” itu datang baru baru ini. Dan sekarang kabar baik itu telah berubah rasa. Ada rahasia apa yang Allah simpan sehingga aku seperti digariskan takdir menjadi baru tau sekarang. Lalu aku semakin menyesal, panas ubun ubunku. Ya, aku sedang marah. Dengan isi kepala yang begitu ... tidak cerdasnya.Mungkin aku hanya kaget dengan kebiasaan baru yang menuntutku bergerak lebih banyak dan cepat. Mungkin aku belum bisa melakukannya secara efektiv dan efisien.

Tapi, apakah tuntutan itu akan menjadi berbeda rasanya jika aku duduk di bangku dan tempat yang lain. Di tempat yang jauh, ditempat yang dari awal kelas tiga SMA sudah di mimpi-mimpikan, sudah dibayang bayangkan. Pernah kan kita punya passion yang sangat besar terhadap sesuatu. Pernah kan kita selalu bermimpi menjalani hidup seperti apa? Dan semakin merasa mimpi itu kian dekat ... semakin dekat ... rasanya gak sabar segera menyambut hari pertama ... mungkin aku akan meledak kalau harapan itu terjadi.

Aku terlalu dini untuk berputus asa waktu itu, ternyata benar. Akan ada saat kamu ingat kamu duduk disini, didepanmu ada kertas yang akan kamu tuliskan sesuatu yang besar yang menjadi mimpi mimpimu, tapi justru kamu menulis dengan huruf lain. Kenapa rida? Seandainya kamu lebih berani, sedikit lagi. Kalaupun kamu gagal, kamu sudah melakukan tindakan yang mendekat kesana, bukan belok kiri.

Hal hal seperti itu cepat sekali berlalu ya... cepat sekali aku berubah pikiran dan cepat sekali aku bisa berpura pura senang pada diriku sendiri. Lalu kenapa juga cepat sekali aku sadar kalau aku tidak begitu bahagia, cepat sekali aku sadar, cepat sekali aku menyesal... 

Oh hidupku, kirimi aku secarik surat. Yang akan menjelaskan alasan dibalik takdir yang Allah gariskan. Agar aku berbeda dengan hari ini. Agar aku paham bagaimana memulai hidup dengan mau jujur pada diri sendiri. Menulis ini tidak selesai loh, dipundakku ada banyak beban yang seiring waktu berlalu semakin memberatkan saja. Dengan Cuma menulis tidak selesai loh... aku kudu gimana?