Friday, June 13, 2014

Judul

Hari ini datang juga. Untung aku datang. Untung aku perasa. Untung aku pintar membaca. Untung aku masih punya puser untuk merasa malu. Untung, untung aku hanya sampai hari ini. akhirnya rasanya jadi lain. Akhirnya, Aku tau kemudian akan seperti apa.

Melihat kebelakang, mataku basah. Untuk pertama kalinya. Setelah menertawai hari itu. hari ini telah impas. Rasanya sakit...

Berat, aku akui berat. Tapi ini bukan lagi aku yang mau. Hari ini, hari akhirnya aku sadar bukan aku yang mau. Lagi lagi, setelah ke-GR-an pasti ada rasa begini. Rasa muak, muak dengan diri sendiri. Muak dengan entah.

Pedihnya senada dengan lagu holy grail yang sudah aku potong jadi bagian 02:15-02:43. Didengerin pake headset, repeating current song. Dari aku cuma duduk disana. Sampai aku selesai menulis. Aku terlalu terbawa suasana.

Maaf ya... sekarang, aku sudah sadar untuk tau diri.


Bangga rasanya pernah jadi bagian dari kalian. Yah... si apatis gak jadi diadopsi. Gak jadi punya keluarga

Dan disaat tau diri, aku juga sekalian tau lanjutan demi apa-nya... iya. Rupanya demi merasa punya keluarga. 

Wednesday, June 11, 2014

Kenapa Lagi?

Aku langsung menulis. Setelah meletakkan tas seberat karung beras sembarangan lalu megambil segelas air hangat dari dispenser dan meneguknya buru buru. Sejak kemarin tidak kesampaian. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan, ada banyak pertanyaan yang mendesak meminta jawaban. Pertama, demi apa?

Aku sudah lupa aturan main bergabung bersama mereka. Malah lupa total tujuanku apa. Dari awal aku jawab dengan over PD, aku ingat aku yakin betul mau bergabung, susah payah mempertahankan harga diri. Lalu hari itu ...

Aku tau, ada hal lain yang tidak bisa aku kendalikan lagi. Pasang surut semangatku mengikuti kegiatan ini. lambat laun, tujuanku mulai semrawut. Mulai bertanya tanya, demi apa?

Mana bisa, aku melaksanakan tugas yang begitu menyita waktuku dengan pikiran abu abu. Waktu yang semestinya aku gunakan untuk menulis blah blah blah sebanyak itu. mana bisa? 

Aku duduk sebentar, berjalan, berbaring, lalu menghidupkan kipas. Badanku basah, peluh bercucuran, kali ini kusita segala energi untuk memikirkan keputusan apa yang hendaknya ku ambil. Tugas kuliah makin kemari makin berat, teringat tugas aku gemetar. Kapan aku selesai. Tapi, entah tiap pagi aku tak sadar mengemas barang barangku agar aku bisa mampir sebentar yang sebentar itu tidak mungkin meskipun selalu gagal karena arah motorku tak sejalan nurani.


Aku pulang. Dengan perasaan menggantung. Kenapa gak mampir saja. Geregetan. Padahal mampir kan mesti kena tegur. Mesti dapat tugas lagi dan lagi, mesti sering menyesal karena salah bicara. Tapi, diamana lagi? Aku bisa merasa selalu kembali pulang.

Ceritanya tidak sependek itu.

Aku tidak tau bisa atau tidak, sedang aku harus putuskan sekarang. agar aku tidak bimbang, terbawa sampai duduk dikelas, tertidur, dan dalam mimpi. Berhenti, atau kulanjutkan saja? Tapi... demi apa?