Aku langsung menulis. Setelah meletakkan tas seberat karung
beras sembarangan lalu megambil segelas air hangat dari dispenser dan
meneguknya buru buru. Sejak kemarin tidak kesampaian. Ada banyak hal yang ingin
aku bicarakan, ada banyak pertanyaan yang mendesak meminta jawaban. Pertama,
demi apa?
Aku sudah lupa aturan main bergabung bersama mereka. Malah lupa
total tujuanku apa. Dari awal aku jawab dengan over PD, aku ingat aku yakin
betul mau bergabung, susah payah mempertahankan harga diri. Lalu hari itu ...
Aku tau, ada hal lain yang tidak bisa aku kendalikan lagi. Pasang
surut semangatku mengikuti kegiatan ini. lambat laun, tujuanku mulai semrawut. Mulai
bertanya tanya, demi apa?
Mana bisa, aku melaksanakan tugas yang begitu menyita
waktuku dengan pikiran abu abu. Waktu yang semestinya aku gunakan untuk menulis
blah blah blah sebanyak itu. mana bisa?
Aku duduk sebentar, berjalan, berbaring, lalu menghidupkan
kipas. Badanku basah, peluh bercucuran, kali ini kusita segala energi untuk
memikirkan keputusan apa yang hendaknya ku ambil. Tugas kuliah makin kemari
makin berat, teringat tugas aku gemetar. Kapan aku selesai. Tapi, entah tiap
pagi aku tak sadar mengemas barang barangku agar aku bisa mampir sebentar yang sebentar itu tidak mungkin meskipun
selalu gagal karena arah motorku tak sejalan nurani.
Aku pulang. Dengan perasaan menggantung. Kenapa gak mampir
saja. Geregetan. Padahal mampir kan mesti kena tegur. Mesti dapat tugas lagi
dan lagi, mesti sering menyesal karena salah bicara. Tapi, diamana lagi? Aku bisa
merasa selalu kembali pulang.
Ceritanya tidak sependek itu.
Aku tidak tau bisa atau tidak, sedang aku harus putuskan
sekarang. agar aku tidak bimbang, terbawa sampai duduk dikelas, tertidur, dan
dalam mimpi. Berhenti, atau kulanjutkan saja? Tapi... demi apa?
