Mereka berempat duduk menghadap langit pagi. Matanya ke
fajar, ke langit, ke dedaunan. Berbeda denganku, mataku menatap mereka bertiga.
Lama sekali...
Kemudian aku bosan, aku pandangi dua orang yang sedang
bersandar di sana, mata mereka saling pandang, kadang juga pada kupu kupu yang
hinggap di serbuk sari, pada bening danau di depannya.
Lama lama aku bosan lagi...
Begitu terus, sampai aku melihat anak itu duduk sendirian. Memainkan
ujung rambutnya yang coklat kehitaman, badannya tegap dan muka lonjong seperti
melinjo. Tangan lainnya menyentuh permukaan danau, tangan ketiga bermain lebah
yang hinggap di batang hidungnya, tangan kesekian bermain main juga dengan
ilalang, membuat mahkota dengan ranting dan aster, bola matanya bersinar,
kadang hijau, biru dan perak.
Aku senang menatapnya, kadang digoyangkannya bangku dua
orang yang kulihat barusan, kadang menciprati kami berempat, kadang mengendus
ngendus mengagetkan nenek tua dan kucingnya di tepi danau.
Aku kuatir anak ini berlari ke arahku. Aku pura pura membuka
buku, menyenggol lengan teman ku, sibuk sendiri. Tapi lama lama aku penasaran, kutengok anak itu diam diam. Dia sudah hilang. Terbang
ke atas awan.
