Wednesday, May 27, 2015

Nadir...

Mereka berempat duduk menghadap langit pagi. Matanya ke fajar, ke langit, ke dedaunan. Berbeda denganku, mataku menatap mereka bertiga. Lama sekali...

Kemudian aku bosan, aku pandangi dua orang yang sedang bersandar di sana, mata mereka saling pandang, kadang juga pada kupu kupu yang hinggap di serbuk sari, pada bening danau di depannya.

Lama lama aku bosan lagi...

Begitu terus, sampai aku melihat anak itu duduk sendirian. Memainkan ujung rambutnya yang coklat kehitaman, badannya tegap dan muka lonjong seperti melinjo. Tangan lainnya menyentuh permukaan danau, tangan ketiga bermain lebah yang hinggap di batang hidungnya, tangan kesekian bermain main juga dengan ilalang, membuat mahkota dengan ranting dan aster, bola matanya bersinar, kadang hijau, biru dan perak. 

Aku senang menatapnya, kadang digoyangkannya bangku dua orang yang kulihat barusan, kadang menciprati kami berempat, kadang mengendus ngendus mengagetkan nenek tua dan kucingnya di tepi danau.

Aku kuatir anak ini berlari ke arahku. Aku pura pura membuka buku, menyenggol lengan teman ku, sibuk sendiri. Tapi lama lama aku penasaran, kutengok anak itu diam diam. Dia sudah hilang. Terbang ke atas awan.

No comments: