Monday, October 05, 2015

Human ERROR

Mengapakah akhir akhir ini Tuhan memberi tanggungan yang kurasa cukup berat untuk ukuran anak nakal yang suka berbohong dan jago berpura pura sepertiku. Berat sekali rasanya. Betul betul berat. Kalau boleh sebentar saja aku berhenti bermain peran, melepas topeng atau apalah namanya, aku ingin bertanya, Mengapakah qodho’ dan qodhar tentang kesedihan datang bertubi tubi. Seperti tangga nada do yang segera disusul re, mi, fa, sola-sido. Apa Tuhan yakin aku sudah siap menerima beban seberat ini?

Memangnya apa? tanyamu, mungkin.

Rahasia. 

...Seperti segala ancaman perubahan senantiasa datang dan pergi. Bila mana diukur, mungkin saja jumlah senang dan sedih sama banyaknya. Bukankah itu yang disebut seimbang? Sedih sebentar lalu senang lagi, senang sebentar lalu sedih lagi.

Sebetulnya, segala perasaan, segalanya ini tanggung jawab siapa? Sebetulnya, takdir takdir yang digariskan Tuhan boleh tidak dikeluhkan? Sebetulnya boleh tidak mengaduh dan menuntut tolong Tuhan jangan main mainkan perasaan. Kalau kira kira aku belum siap kehilangan ini dan itu, boleh tidak kembali dulu kupinjam sampai kau beri aku kemampuan untuk merelakan, atau Kau yang maha kaya menurunkan rezeki untuk dititipkan aku lagi sebagai ganti apa yang ingin Kau ambil sekarang.

Tuhan... lalu kepada siapa aku bisa menyalahkan? Kesalahan kesalahanku ini kepada siapa boleh kulimpahkan?