Tuesday, May 23, 2017

Sederhana Saja

Aku ingin hidup sederhana saja, bukan karena tidak bisa menggapai yang banyak. Aku ingin begitu. 

Sederhana dalam arti kalau pengen apa-apa sederhana mewujudkannya. Hahahaha

Aku tau, hidup tidak sebercanda hahahaha. Maka aku ingin hidup sederhana.

Seperti temanku disebalah, dia banyak bersyukur dan makannya enak. Ada orang-orang yang makan pakai apapun bisa keliatan enak, enak banget. Ngeliatnya seneng.

Aku ingin hidup sederhana seperti pacarku, dia tidak suka pakai hidup orang lain untuk di-iriin di kehidupannya. Aku begini, gak papa ya. 

Untung aku tipe perempuan yang baik, aku terima sambil ngambek. Sambil diberantemin. Tapi selip dikit bisa milih mbak-mbak seangkatan kayaknya, Hahahaha. 

Aku ingin hidup sederhana, tapi jelas mau kemana. Ketidak pastian membuat aku pusing, besok makan apa besok bekerja apa… aku galau.

Mau nikah… kata ibu nanti dulu lah.

Kehidupan Lain

Sempat terpikir begini, kenapa dulu gak nyoba aja daftar di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Perminyakan. Daftar aja dulu, di ITB misalnya… ya emang kemungkinan besar gak keterima sih, atau ke UPN yang udah mulai jadi PTN di 2013-an. Mungkin sekarang juga sama-sama belum lulus, tapi… kalau udah lulus, enakan jadi dia kayaknya.

Pacar gw Engineer, Petroleum Engineer. Denger istilah untuk profesinya aja gw suka, keren, menjual...iri. Ya meskipun gw gak pinter dan gak kuatan. Tapi kayaknya gw bisa deh.

Gw tau dikit soal kerja di bidang itu, ya tau kalau kerjanya banyak di lapangan. Sebulan... dua bulan...pisah sama orang-orang yang pengennya bisa barengan.

Tapi, dari awal pacaran sama dia, kami udah LDR. Udah kulino kalo jauhan. Pun jika menikah, sepengen-pengennya ngintilin dia, gw sadar sesadar-sadarnya bahwa itu gak bisa... gak bisa hidup kayak orang-orang. Nah, kalo sama orang ruman, yakan nanti bakal balik. Lagi pula, mereka bakal lebih bangga kalau gw ada dimana-mana, entah itu bekerja atau kuliah beasiswa. Ibu suka benget cerita ponakan-ponakannya yang kayak gitu, kayaknya Ibu pengen aku gitu juga deh. Aku juga pengen jadi mereka.

Kaki gw lagi gak napak tanah nih kalu lagi berandai andai gini. 

Lanjut ya… tanpa mikirin orang lain, calon suami, calon mertua, calon anak-anak yang masih jadi sel telur, calon kehidupan di masa mendatang… gw pengen banget punya kerjaan di perminyakan. Kalau udah nikah dan gak mungkin kerja di lapangan, ya resign... kuliah lagi terus jadi akademisi.

Tapi kan... Aduh, jadi nangis nih. Udah terlanjur 2017. Udah jadi mahasiswa tingkat akhir, dan udah mau 23 tahun juni nanti. Aih.

Yah, dengan badan kayak gini mestinya gw berani ngadu nasib berprofesi yang gak biasa, yang mengejutkan. Berani gitu ngejer cita-cita yang aneh, ya maksudnya aneh buat gw. Dulu sih mikirnya sekedar nyari aman, padahal… ya gak aman-aman banget tuh, gak banget malah. Gw malah ngeri mau ngapain abis ini.

Jadi… dengan duit, tenaga, dan semua yang udah dikorbankan, apalagi waktu… gw baru tau mestinya gw ambil peluang untuk nyoba kehidupan lain. Gw bukan tidak bersyukur, terimakasih ya Allah. justru gw menyesal kenapa tida memaksimalkan usaha 2013 lalu untuk nyoba kehidupan lain yang Allah tawarkan, soalnya takdir-takdir kayak gini kan takdir yang bisa dipilih ya. 

Maybe suatu hari gw bakal dapet jawabannya, please… gw pengen kehidupan yang lebih sejahtera, kayaknya.

A Beautiful Mind

Tidak sibuk berkegiatan membuat aku jadi banyak memikirkan hal-hal yang tidak lumrah. Ini baik, agar apa yang sering diinginkan atau tengah dijalani untuk dituju lebih jelas lagi. Baik bagiku menjeda tiap kesibukan untuk mereview dan menjadwal ulang.

Tidak sibuk itu pada kamis yang lalu, ada jeda yang tak biasa karena gagal seminar hasil akhir bulan ini. Tidak sedih atau kecewa, rasanya biasa saja. Oleh karena itu aku punya mood yang baik untuk melakukan hal-hal menyenangkan. Main sama dia, pulang ke rumah, membuat harapan-harapan baru, menulis, dan lain-lain.

Semua hal itu berjalan lancar, apalagi soal main sama dia. Ini aku ceritakan di laman lain.

Tapi pada jeda di senin yang tidak sibuk, aku mendadak sakit. Sehingga kurang optimal menjalani aktivitas yang sudah direncanakan. Akhirnya, aku putuskan untuk istirahat dikosan. Nah baru mulai nih ceritanya…

Aku agak lupa apa yang terjadi sebelum aku sakit, tapi sepertinya hal itu juga berdampak dengan persepsi yang terbentuk setelah sakit. Ketika sakit, aku biasanya marah. Aku tidak suka sakit, orang lain juga, tapi aku beneran tidak suka sakit dan tidak suka melihat orang lain sakit. Tapi pun kita sakit, kita harus ikhlas, tetap bersyukur, dan bertaubat. 

Ketika aku sakit, aku memikirkan hal ini, “lo harus A+, untuk A+”. Berlaku untuk semua hal, semoga paham tanpa dijelaskan. 

Hal ini tentu berat jika ukuran A+ meminjam ukuran orang-orang lain. Aku  tidak bisa jadi dia dengan usaha yang berbeda, aku tidak bisa jadi dia jika tetap hidup dengan caraku sendiri. 

Tapi kenapa aku ngotot sekali ya jadi orang lain? Tidak cukup baikkah menjadi diri sendiri? Apakah keingingan ini timbul karena tidak puas dengan apa yang dijalani atau ada pihak lain yang sengaja atau tidak sengaja mengarahkan untuk meniru orang lain itu? Pasti mereka pihak penting, sampai dipertimbangkan.

Tapi kan aku sudah besar, sudah baligh. Meski tidak selalu benar, tapi cukup bisa menalar semuanya. Berpikir pakai kepala, jadi benar adalah benar bukan lagi agak. 

Ketajaman berpikir dapat ditingkatkan dengan banyak melakukan hal baik, membaca yang baik dan berkegiatan yang baik. Oh my God, aku stag.

Wednesday, May 17, 2017

Cerita Kita

Ada yang menjaga perasaan orang lain agar tak ikut sedih, tidak bilang supaya tidak khawatir. Pada ibu dan bapaknya, pada walinya, pada karibnya, pada dirinya sendiri. 

Mereka adalah orang-orang jauh yang sedang sekolah, bekerja, yang memohon agar semuanya lancar supaya Ibu dan Bapak tidak banyak khawatir, atau diam saja karena bisa diselesaikan sendiri.

Mereka ada yang dekat disini, ada juga yang jauh. Yang sesekali diingat.

Pasti mereka suka rindu pulang, serindu orang-orang yang ditinggal pergi. Ada yang masih bisa bertemu, ada yang ditinggal lama tak kembali. Yang paling sedih adalah yang ditinggal tapi belum sampai selesai, semoga mereka diberkahi dengan hati yang lebih lapang tak pantang sudah.

Warna hidup orang lain sungguh banyak rupanya, menjadi cerita yang mari didoakan, disemogakan, diingat agar hati tetap teguh dan badan tetap berdiri.

Thursday, May 11, 2017

Kamu Cantik, Kamu Berharga.

Mungkin ada sejumlah orang yang berpandangan bahwa dibandingkan dengan orang lain adalah perbuatan yang jahat, semacam pelecehan. Atau diinginkan menjadi seperti orang lain, benar-benar orang lain. Terlampau jahat jika gambaran orang lain itu nyata wujudnya, dari masa lalu atau masa kini yang sama jahatnya.

Apa yang salah dengan menjadi diri sendiri?

Dia tidak membunuh, tidak merampok, tidak korupsi, tidak menista agama, tidak memecah belah persatuan, tidak melacur, tidak bau, tidak seksi, tidak.

Dia hanya senang menjadi dirinya sendiri.

Tapi kemudian dia belajar dari semua itu, untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Karena mereka punya latar belakang yang tidak pernah dia tau, pasti juga banyak sakitnya, banyak jatuh, banyak sendiri, banyak menahan, banyak yang disimpan. Mereka berhak dihormati, karena mereka berharga dan punya keluarga.

Ayo Gerak!

Aku marah, tapi banyak orang lain yang lebih marah. Aku benci, tapi banyak orang lain yang lebih benci. Aku susah, tapi banyak orang lain yang lebih susah. Aku kecewa, tapi banyak orang lain yang lebih kecewa. Aku ingin membenturkan sesuatu hingga pecah, tapi banyak orang lain yang lebih ingin melakukannya.

Lalu Aku sedih, tapi banyak orang lain yang lebih sedih. Akhirnya… aku sepi, tapi banyak orang lain yang lebih kesepian.

Dan banyak juga yang bisa menghadapinya.

Hari ini masih baru, banyak hal yang bisa diperbaiki dan diselesaikan. Kufur sekali jika sepagi ini sudah mulai kacau, kufur sekali jika sepagi ini sudah diratapi. Kamu tidak selemah itu, kamu tidak serapuh itu. Your opinion is not your reality. Tangguhlah, hari ini masih pagi.

Kamu bisa mulai lagi.