Thursday, March 29, 2018

Tidak Harus Kita Jawab Sekarang

Sore tadi saat aku sedang akan mengangkat jemuran, angin bertiup sepoi-sepoi. Warna langit saat itu putih cerah dan sedikit rona jingga senja hari. Bah, puitis sekali aku menggambarkan suasananya.

Ada aroma sore yang begitu lekat dalam ingatanku, sore ini seperti sore yang ada di rumah dan pulang kampus. Sore saat aku begitu menggebu ingin lari, ingin berkebun, ingin jalan-jalan dengan keponakan atau ibuku ke rumah mbah tini. 

Sore yang bebas dan indah. Sore yang memiliki aroma kenangan yang membahagiakan.

Hey, aku sudah begini sekarang.

Karena sudah begini, aku semakin ingin mewujudkan kehidupan yang lebih bahagia. Tapi yang aku bayangkan hanya yang tidak-tidak. Aku membayangkan kehidupan yang terlalu sulit untuk dicapai. Ck.

Dan jawaban untuk ketidak sempurnaan ini adalah “Oke hidup, mungkin semua tak bisa kuubah sekarang. Maka, aku hanya akan membayangkan kehidupan yang lebih abadi saja. Kumohon agar kali ini tidak ada yang akan mengecewakan saat aku berani ambil langkah memulainya.”

Aku sudah mengaduh, aku sudah hampir puas mencaci maki kenyataan. Lalu sekarang aku lelah sendiri… mungkin ini saatnya berhenti. Aku akan berhenti mengharapkan orang lain membahagiakanku. Aku akan mencari cara sendiri untuk membeli kebahagiaan yang sesuai dengan rencanaku semula.

Tapi, mungkinkah? Mungkinkah dengan tidak melakukan apa-apa?

Aku tidak tau, kita tidak harus menjawabnya sekarang.

Thursday, March 15, 2018

Iya, Rindu itu Berat.

Alhamdulillah.

Hari ini adalah hari ke-39 setelah aku menikah dengan seseorang bernama Mas Andi Setiawan. Menikah itu seru!

Apa-apa yang dilarang dulu kini menjadi halal nan berpahala. Kurang asik apa coba? Dan sejauh ini aku merasakan ketenangan selama hidup berumah tangga dengan Masku. Memang masih banyak sekali ilmu yang perlu kami pelajari, tapi itu tidak aku keluhkan seperti mau ujian karena sekarang kami bisa belajar sama-sama. Misalnya aku yang baca, Mas yang menyimak. Lalu berdua manggut-manggut dan bilang Hmmm… Oh… Ya ya ya. 

Atau ketika kami mendapatkan pelajarannya langsung dari pengalaman, manis sekali saat kemudian Ia menggenggam tanganku atau segera memelukku dengan tubuh harumnya. Oya, salah satu yang aku syukuri dari takdir ini adalah bahwa Mas Andi itu wangi, even sedang keringetan dia tetap wangi. Alhamdulillah.

Pada hari ke-39 ini, aku ditinggalnya bekerja di lapangan Aceh. Jauh ya… demi mendapatkan nafkah, kami LDR untuk sebulan kedepan. Baru saja ia mengabari sudah sampai di lokasi, dapat jadwal malam dari jam 19.00 sampai 08.00. Jadi pas aku bobo dia kerja, pas aku bangun dia bobo. Btw, aku tidak bekerja di luar rumah, untuk saat ini aku memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. Why? Mas pengan aku begitu, Ridho Allah itu Ridho nya suami, jadi apa lagi kalau bukan oke mas. Lagian seru juga bisa doing something dan bener-bener fokus sama something itu.

Lalu agar tetap productive, aku telah membuat to do list yang harus aku wujudkan agar tetap menjadi wanita yang dicintai suamiku. Belajar memasak, menjahit, obat-obatan, jualan… ya banyak lah PR ku ini.

Malam ini aku rindu… rindu sekali. Tapi aku kudu kuat, agar bisa menjadi supporter yang baik buat dia, jadi jangan banyak ngeluh. Ya Allah, kuatkan.