Aku pengen kita ngomongin soal mati.
Mati yang bisa dateng kapanpun, di manapun, kepada siapapun. Lucunya, aku sering menggunakan guyonan pengen mati untuk mengancam supaya semua terkendali. Tanpa berpikir konsekuensinya, tanpa berpikir akutuh bakal selamat tidak kalau udah mati.
Kemarin aku ikut pengajian, membahas tentang gimana ya caranya jadi pribadi yang kokoh? Katanya suruh sabar, ikhlas, dan syukur. Selama mendengar pengajian aku mengingkari banyak nasihat yang disampaikan guru ngajiku. Aku banyak tidak setuju.
Terjadi karena aku tengah mengalami masa yang sulit. Baru membatin begini, guru ngajiku melanjutkan lagi “Setelah kesulitan ada kemudahan…” lalu terus terdengar ditelingaku.
Kemudahan…
Kemudahan…
Kini usia kandunganku sudah 5 bulan 2 minggu. Aku sudah mulai mempersiapkan persalinanku, membayangkan gimana rasa sakitnya, mencari nama yang cantik, mengira-ngira akan beli perlengkapan dimana. Bahkan, aku sudah menyiapkan kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul setelah ini.
Kadang terlintas juga, gimana kalau takdirku mati saat melahirkan?
Siapa yang harusnya aku pikirkan? Suamiku? Anakku? Apakah perlu membuat rencana jika itu memang terjadi, misalnya menyiapkan dengan siapa anakku akan dirawat dan dibesarkan. Perempuan seperti siapa yang akan suamiku pilih untuk jadi istrinya ya, ah aku penasaran.
Aku iri membayangkannya. Aku iri membayangkan kebahagian mereka. Aku takut dilupakan. Apakah file di notebook ini akan dihapus? Notebook ini akan dipakai perempuan itu untuk liat tutorial masak di youtube. Aku akan hilang. Bajuku, bukuku, mukenaku, celana dalam, dan make-upku.
Aku bisa mati tanpa sempat mendengar anak di perut ini memanggil “Ibu…”
Mungkin dia akan memanggil ibunya ummi. Duh, geli.
Tapi…
Setelah mati aku tidak mungkin membawa pikiran macam ini kan. Aku serius mempertanggung jawabkan kegiatanku di dunia pada Allah. Aku sibuk menjawab pertanyaan para malaikat.
No comments:
Post a Comment