Tiba tiba saja aku teringat
sebuah pengalaman hidup yang begitu menyentuh, aku bersyukur karena ingatan ini
hadir ketika hatiku memang benar benar membutuhkan sebuah asupan energi yang
banyak. Kisah ini terjadi belum lama, mungkin 5 atau 6 bulan yang lalu.
Ibuku adalah seorang guru smp,
kisah ini diawali dari pertemuan ibuku dengan seorang anak muridnya yang baru
duduk dikelas 7. Kala itu sedang dilangsungkan ulangan semester, berhubung ibu
yang piket, maka ibu yang melayani seorang murid yang berhalangan mengerjakan
ujian sebagaimana mestinya. Ibu Cuma tau kalau anak ini sakit dan harus
ditunggui walinya di meja kantor untuk mengerjakan ulangan. Hal ini terjadi
beberapa hari, sampai suatu hari anak itu bertemu lagi dengan ibuku untuk bertanya
keberadaan wali kelasnya, karena anak ini mau izin pergi ke RS untuk operasi.
Berhubung anak ini hanya sempat bertemu dengan ibuku, maka dia minta nomer hp ibu untuk sewaktu waktu dihubungi kalau ada keperluan. Sejak saat itulah ibu yang paling sering dihubungi si murid di moment paling penting dalam hidupnya. Beberapa menit menjelang operasi operasi yang lain.
Setelah beberapa lama, kondisi si
murid semakin memburuk. Ibu dan teman guru yang lain mulai sering menjenguk si
murid ke RS untuk menyemangati, termasuk teman temannya dikelas.
Saat itu aku Cuma mendengar ibu
atau bapak bercerita dan belum pernah menjenguk langsung si murid, hingga tiba
suatu kesempatan aku diajak ibu dan mbak tika menjenguknya. Aku terenyuh … ya
Allah … rupanya dia tinggal disebuah rumah kontrakan yang kuukur mungkin hanya
sebesar ruang kelas bahkan lebih kecil dari itu dan hanya disekat untuk
memisahkan kamar dan dapur. Aku jadi ingat hal yang paling sedih, oh iya ...
rupanya dia hanya tinggal bertiga dengan ibu dan kakak lelakinya yang sudah
tidak bersekolah lagi. Ayahnya … belum meninggal. Ayahnya ada, tapi entah
dimana. Mereka tidak memiliki kerabat di lampung, karena dulu si istri dari
pulau jawa dan saat menikah mereka pindah ke lampung.
Aku merinding … selama ini aku
hanya melihat korban keganasan penyakit kanker dari TV atau internet atau
gambar. Dan ini, aku melihatnya langsung. Kondisinya benar benar akan membuat
orang sombong sepertiku ini loyo dan tertampar. Dia begitu kurus, dan karena
telah beberapa kali menjalanii kemoterapi maka rambut kepalanya juga tinggal
beberapa helai saja, Dan… benjolan disekitar leher dan lengan itu … yang
melekat ditubuh kurusnya itu… saat dia bernapas …
Dan saat simurid terbatuk … ya
Allah… aku seperti merasakan sebuah penderitaan yang amat dalam… disini ya
Allah… hatiku sakit membayangkan bagaimana si murid menanggung rasa sakit yang
entah seperti apa.
Tak lama kami disana, karena dia
mau beristirahat, kami pamit pulang. Dan semua orang yang pulang dari sana
mungkin akan berlinang air mata sebelum sampai rumah, termasuk aku. Sejak saat
itu aku mulai sering tanya kabar si murid ke ibu, kabar yang terakhir ibu dapat
hp si murid hilang di RS. Ya Allah dek …
Aku lupa selang beberapa minggu
tepatnya, si murid dipanggil Allah. Kami menangis lagi. Aku sangat menyesali
karena tidak bisa ikut bertakziah karena saat itu aku masih ada kewajiban
disekolah. Tapi dek … mbak dan semua orang yang mengenalmu ikut mendoakanmu. Dan
kami percaya, di alam sana kamu akan bahagia … mbak akan selalu ingat pelajaran
berharga dari kisah hidupmu dan keluargamu …
