Monday, August 12, 2013

Kamatian Itu Terasa Dekat

Tiba tiba saja aku teringat sebuah pengalaman hidup yang begitu menyentuh, aku bersyukur karena ingatan ini hadir ketika hatiku memang benar benar membutuhkan sebuah asupan energi yang banyak. Kisah ini terjadi belum lama, mungkin 5 atau 6 bulan yang lalu.

Ibuku adalah seorang guru smp, kisah ini diawali dari pertemuan ibuku dengan seorang anak muridnya yang baru duduk dikelas 7. Kala itu sedang dilangsungkan ulangan semester, berhubung ibu yang piket, maka ibu yang melayani seorang murid yang berhalangan mengerjakan ujian sebagaimana mestinya. Ibu Cuma tau kalau anak ini sakit dan harus ditunggui walinya di meja kantor untuk mengerjakan ulangan. Hal ini terjadi beberapa hari, sampai suatu hari anak itu bertemu lagi dengan ibuku untuk bertanya keberadaan wali kelasnya, karena anak ini mau izin pergi ke RS untuk operasi.


Berhubung anak ini hanya sempat bertemu dengan ibuku, maka dia minta nomer hp ibu untuk sewaktu waktu dihubungi kalau ada keperluan. Sejak saat itulah ibu yang paling sering dihubungi si murid di moment paling penting dalam hidupnya. Beberapa menit menjelang operasi operasi yang lain.

Setelah beberapa lama, kondisi si murid semakin memburuk. Ibu dan teman guru yang lain mulai sering menjenguk si murid ke RS untuk menyemangati, termasuk teman temannya dikelas.

Saat itu aku Cuma mendengar ibu atau bapak bercerita dan belum pernah menjenguk langsung si murid, hingga tiba suatu kesempatan aku diajak ibu dan mbak tika menjenguknya. Aku terenyuh … ya Allah … rupanya dia tinggal disebuah rumah kontrakan yang kuukur mungkin hanya sebesar ruang kelas bahkan lebih kecil dari itu dan hanya disekat untuk memisahkan kamar dan dapur. Aku jadi ingat hal yang paling sedih, oh iya ... rupanya dia hanya tinggal bertiga dengan ibu dan kakak lelakinya yang sudah tidak bersekolah lagi. Ayahnya … belum meninggal. Ayahnya ada, tapi entah dimana. Mereka tidak memiliki kerabat di lampung, karena dulu si istri dari pulau jawa dan saat menikah mereka pindah ke lampung.

Aku merinding … selama ini aku hanya melihat korban keganasan penyakit kanker dari TV atau internet atau gambar. Dan ini, aku melihatnya langsung. Kondisinya benar benar akan membuat orang sombong sepertiku ini loyo dan tertampar. Dia begitu kurus, dan karena telah beberapa kali menjalanii kemoterapi maka rambut kepalanya juga tinggal beberapa helai saja, Dan… benjolan disekitar leher dan lengan itu … yang melekat ditubuh kurusnya itu… saat dia bernapas …

Dan saat simurid terbatuk … ya Allah… aku seperti merasakan sebuah penderitaan yang amat dalam… disini ya Allah… hatiku sakit membayangkan bagaimana si murid menanggung rasa sakit yang entah seperti apa. 

Tak lama kami disana, karena dia mau beristirahat, kami pamit pulang. Dan semua orang yang pulang dari sana mungkin akan berlinang air mata sebelum sampai rumah, termasuk aku. Sejak saat itu aku mulai sering tanya kabar si murid ke ibu, kabar yang terakhir ibu dapat hp si murid hilang di RS. Ya Allah dek …

Aku lupa selang beberapa minggu tepatnya, si murid dipanggil Allah. Kami menangis lagi. Aku sangat menyesali karena tidak bisa ikut bertakziah karena saat itu aku masih ada kewajiban disekolah. Tapi dek … mbak dan semua orang yang mengenalmu ikut mendoakanmu. Dan kami percaya, di alam sana kamu akan bahagia … mbak akan selalu ingat pelajaran berharga dari kisah hidupmu dan keluargamu …