Sore ini memang tidak seperti
sore senin kemarin. Aku bisa melihatnya dengan jelas, tidak tampak lagi olehku
mata yang berkaca kaca dan napas yang sering dipanjang panjangkan. Karena aku
selalu duduk disini, sejak dia juga selalu duduk disana. Diposisi aku selalu
bisa melihat gerakannya dengan begitu jelas. Ini sudah kesekian kalinya aku
mencoba untuk mengambil jarak yang lebih dekat, pernah. Pernah beberapa kali
dan salah satunya tepat disore senin kemarin, aku hampir ada disana. Dijarak
paling dekat, hingga aku bisa mendengar jarum jam tangannya berdetak.
Dan baru aku menyadari, ternyata
dia bisa merasakan kehadiranku. Selama ini aku mengira dia hanya duduk disini
tanpa menyadari apa apa yang ada disekitarnya. Duduk dengan selembar kertas dan
kembali pulang dengan kertas penuh coretan, untuk dibuang ke tongsampah
disamping pintu keluar. Dan seperti biasa, aku akan menjadi yang terakhir keluar
dan memungut kertas itu. aku sampai hafal, kertas itu selalu bertuliskan,
namaku.
Aku tidak ge-er, aku kasihan. Karena
dia selalu ragu ragu. Dan sore ini, aku mendapatkan keputusannya. Aku
membuntutinya sampai dia dihalaman parkir, tapi sore ini hujan teramat lebat.
Dan kulihat dia duduk disana, sambil matanya mencari cari-ku. Aku agak gugup,
karena baru pertamakalinya dia begitu, baru pertama kalinya aku akan disapanya,
atau dipanggilnya?
Matanya berhasil melihat dimana
aku berada, walau sore ini hujan, tapi disini aku bisa jelas melihatnya
melambaikan tangan dan pesan tersirat dari matanya yang cerah. Selamat tinggal “putus
asa”.

No comments:
Post a Comment