Namaku Ridha Pangastuti.
Dipertemuan pertama, sebagian besar orang akan tanya dua kali “pangas atau
panges”. Waktu kecil aku risih ditanya itu, dan aku merasa normal ketika orang
salah nulis jadi Ridha Pangestuti. Karena ya, itu lebih enak kedengerannya.
Waktu aku kecil, aku selalu gugup pada detik detik dimana giliran namaku disebut
pertamakali oleh guru. Hanya satu dua guru yang berhasil melafalkan namaku
dengan benar. Dan sebagian besar lainnya akan mengira namaku adalah nama anak
laki laki, “ridho pangestu”. Dulu sih aku malu ketika temen temen menetawai hal
sepele ini, tapi beranjak besar badanku aku merasa punya nyali untuk ikut
menertawai kekeliruan itu.
Kata ibu, arti namaku bagus
sekali. Ridha artinya ridho Allah, dan pangastuti artinya kemenangan. Jadi
Ridha Pangastuti adalah “kemenangan yang diridhoi Allah”, atau “Allah Ridho aku
menang”.
Aku lahir hari rabu, 15 juni
1994. Aku disekolahkan oleh keduaorangtuaku ketika aku berumur 5 tahun. Di TK
Pertiwi Gadingrejo kelas B, setelah setahun aku dipindahkan ke SD 3 Purworejo
kelas nol. Jadi aku masuk kelas 1 SD tepat berumur 7 tahun, karena aku lahir
pada tanggal bagi raport. Ini jadi sebuah tradisi di keluarga mbah timan,
adikku luthfi dan sepupu sepupuku yang lain juga masuk kelas 1 umur 7 tahun.
Dan ya, kami akan masuk golongan tua di kelas. Selalu jadi 1 tahun diatas umur
rata rata teman yang lain.
Aku anak kedua dari 3 bersaudara.
Aku punya mbak Tika Alkarima dan adik laki laki Luthfi Pambudi. Akhir akhir ini
kami sudah jauh lebih stabil, karena sudah sama sama gedenya. Kalau dulu ribut
gara gara apanya beneran, sekarang jadi ribut yang lucu. Mungkin semua ini
karena kami jarang bertemu, mbak tika di klinik bu yuni diroworejo, aku
dikarang dan adikku dirumah. Kata mbak tika suatu hari, “aku biasanya kangen
banget pulang Cuma gara gara pengen makan petis bareng” aku dan luthfi. Sampai
sekarang aku juga masih pulang tiap sabtu, karena aku juga selalu kangen
rumahku, jalan pulang kerumahku.
Orangtuaku adalah ibu dan bapak
guru, bapak adalah guru di SD, dan ibu di SMP. Aku seneng ketika bapak cerita
kisah orang-orang jaman dulu. Cerita waktu bapak kecil, bapak adalah anak
pertama dari 7 bersaudara. Dan kata bulekku bapak dulu “temuo” banget jadi
mamas. Beda banget sama adikku luthfi. Aku paling seneng ketika bapak cerita
masa bapak sekolah, dulu bapak kalau jaman istirahat sering lendehan di tembok
sama temen temennya dan kalau haus lari kesumur, “pura pura cuci muka”. Dan
cerita ketika bapak ditugaskan jadi guru dibanjit sana. Waktu aku kelas 1 SMA,
kami sekeluarga pergi ke sana dan menengok SD dimana bapak mengajar. Dan aku selalu
senang ketika lewat suatu tempat bapak mulai cerita “dulu disini ....”
Kalau dulu aku meles malesan, ibu
akan bilang “dulu, waktu ibu seusia kamu mbah sanem Cuma tinggal masak aja, ibu
udah selesai beres beresnya” semuanya udah beres. Masa kecil ibu dipringsewu,
kata embah dulu ibu juara kelas terus karena rajin dan tekun. Ibu anak pramuka
yang aktiv dan aku membayangkan ibuku keren banget. Ibu seusiaku sudah jadi
guru SMA PGRI, SMA dimana aku sekolah kemarin. Karena ibu sekolahnya 2 tahun
lebih awal, dan waktu 19 tahun udah tamat D2. Aku broh ... 19 tahun masuk
kuliah dan semuanya masih ibu. Ibu. Ibu.
Inilah aku, Ridha.