Segalanya telah berlalu.
Menyisakan kenangan yang tidak bisa kita paksakan tinggal dan ganti. Sementara
semuanya berlalu timbul tenggelam. Timbul tenggelam, tenggelam.
Saat tenggelam tetap harus
melanjutkan perjalanan. Saat tenggelam satu persatu orang yang kita percayai
pergi meninggalkan kita sendirian. Bisa jadi ini ujian, atau teguran. Selama
ini telah salah mengambil jalan. Selama ini sombong. Selama ini telah sedikit
sedikit melukai mereka, orang orang yang begitu bisa dipercaya. Tanpa sadar…
ketika tiba waktunya, yaitu hari ini, luka luka yang selama ini dibiarkan, di
abaikan, telah berlalat, bernanah. Serentak semuanya marah. Diam diam, tapi
terasa begitu nyata, dan dalam. Begitu samar, menyakitkan. Sama, pasti sama
rasanya seperti sakit hati yang mereka tanggung.
Pernah beberapa kali aku coba
memanggil manggil, memohon maaf. Tapi percuma, toh yang mereka butuhkan adalah
obat merah, perban, dan plaster. Suara maaf tak berarti apa apa, kini semuanya
begitu tidak berguna. Tidak guna meminta maaf, tidak ada guna mohon maafkan,
tidak ada guna minta bicara, tidak ada guna bersuara. Maka… pulanglah.
Pulang ke rumah kosong yang
ditinggal bersawang di pojok hutan itu. Menangislah disana. Tanamlah pepohonan,
bebungaan, buatlah kolam, ayunan… untuk melihat yang pernah berlalu, mungkin
kita pernah bersama sama waktu itu. Dalam bayangan, dalam pejaman mata, dalam
genggaman doa. Dalam baris baris kata.
Sudah. Ikhlaslah… tapi…