Wednesday, April 22, 2015

Ibu, Jangan Mati

Ibu dimana?
Aku bertengkar lagi dengan Abang
Ia gadaikan emas milik Ibu
Mungkin untuk bayar hutang, atau jajan, atau jalan jalan

Ibu dimana sih?
Adik adik hampir putus sekolah
Sawah kita gagal panen, Abang malas bertani
Sekarang beras kita beli dari tetangga
Tetangga tetangga kita jadi nakal, batik ibu saja mau di ambil
Mungkin mereka lupa, jaman dulu ibulah yang sering datang
Mengasuh anak anak mereka sampai besar

Ibu… ibu belum mati kan?
Nama pertiwi belum ada kok di nisan kuburan
Ibu tolong marahi abang… marahi teman teman abang
Mereka rusak rumah kita, merampas perhiasan ibu, menelantarkan adik adik
Ibu… pulanglah, mereka sudah keterlaluan.

Tuesday, April 21, 2015

Analog

Rusaknya perkawanan ini ibarat geraham belakang gw yang hampir bolong. Meski sudah di tambal, tiap di pakai masih linu. Gak bisa kembali asik seperti semula. Sama, seperti perkawanan yang sudah hancur, meski baikan, rasa yang dulu tak pernah kembali, tak pernah akrab lagi, saling menyimpan marah, saling menyimpan emosi. Meski terlihat berkawan, tapi bohong. Entah sampai kapan begitu.

Saturday, April 04, 2015

Tanah Jawi

Sruti Respati, seorang wanita muda yang sangat menginspirasi. Aku mengenalnya barusan, Ia tampil di acara Indonesia Morning Show, menyanyikan lagu keroncong “Tanah jawi”. Aku suka lagu jawa, dan belum pernah se-melting ini sebelumnya. Darinya, aku mendapatkan pelajaran berharga, arus globalisasi begitu deras, mulai dari aku kepingin ikut ikutan jadi anak gaul, mulai dari aku mengagung-agungkan kegaulan, kini melalui tembang “Tanah Jawi”nya, Mbak Sruti mengajakku pulang kerumah…

Bahwa, Indonesia begitu kaya dengan budayanya. Begitu indah, begitu keren, dan begitu saya. Nilai nilai itu sudah melekat, aku harus melengketkannya lagi. Aku harus menjadi wanita modern yang jawa. Seperti mbak Sruti Respati. Hidup Indonesia, Hidup Budaya Nusantara!

Friday, April 03, 2015

Darah Juang


Setibanya aku dirumah, Bapak menyambutku dengan pertanyaan "kemarin demo ya nak?"

Ku jawab, "iya pak"

"Bagus! Mahasiswa harus kritis"

Aku kaget, bahagia dan lega... terimakasih Pak, Ibu...

Mimpi Panjang

Klise. “gambar negative pada film potret”

Gambarnya bergerak, tersenyum dan melambaikan tangan. Itu dimana, ada lapangan, pasar, rumah orang lain dan jalan aspal lurus yang panjang.  Ada rencana rencana, ada sibuk kesana kemari, ada adik adik kecil, ada batu akik, dan aku bersepeda sendirian.

Kadang berlari lari mengejar, kadang bersama sama, Kadang tersenyum dan tertawa, kadang berpelukan, kadang bergandengan tangan, kadang saling mendorong, lalu terjungkal. 

Mungkin… aku sedang kangen. 

Pada gambar negative film potret. Pada gambar gambar yang kuambil di mana-mana. Lalu semalam menjelma menjadi mimpi panjangku. Yang indah, sedih dan biru…

Thursday, April 02, 2015

Puing

Segalanya telah berlalu. Menyisakan kenangan yang tidak bisa kita paksakan tinggal dan ganti. Sementara semuanya berlalu timbul tenggelam. Timbul tenggelam, tenggelam.

Saat tenggelam tetap harus melanjutkan perjalanan. Saat tenggelam satu persatu orang yang kita percayai pergi meninggalkan kita sendirian. Bisa jadi ini ujian, atau teguran. Selama ini telah salah mengambil jalan. Selama ini sombong. Selama ini telah sedikit sedikit melukai mereka, orang orang yang begitu bisa dipercaya. Tanpa sadar… ketika tiba waktunya, yaitu hari ini, luka luka yang selama ini dibiarkan, di abaikan, telah berlalat, bernanah. Serentak semuanya marah. Diam diam, tapi terasa begitu nyata, dan dalam. Begitu samar, menyakitkan. Sama, pasti sama rasanya seperti sakit hati yang mereka tanggung.

Pernah beberapa kali aku coba memanggil manggil, memohon maaf. Tapi percuma, toh yang mereka butuhkan adalah obat merah, perban, dan plaster. Suara maaf tak berarti apa apa, kini semuanya begitu tidak berguna. Tidak guna meminta maaf, tidak ada guna mohon maafkan, tidak ada guna minta bicara, tidak ada guna bersuara. Maka… pulanglah.

Pulang ke rumah kosong yang ditinggal bersawang di pojok hutan itu. Menangislah disana. Tanamlah pepohonan, bebungaan, buatlah kolam, ayunan… untuk melihat yang pernah berlalu, mungkin kita pernah bersama sama waktu itu. Dalam bayangan, dalam pejaman mata, dalam genggaman doa. Dalam baris baris kata. 

Sudah. Ikhlaslah… tapi…