Thursday, April 02, 2015

Puing

Segalanya telah berlalu. Menyisakan kenangan yang tidak bisa kita paksakan tinggal dan ganti. Sementara semuanya berlalu timbul tenggelam. Timbul tenggelam, tenggelam.

Saat tenggelam tetap harus melanjutkan perjalanan. Saat tenggelam satu persatu orang yang kita percayai pergi meninggalkan kita sendirian. Bisa jadi ini ujian, atau teguran. Selama ini telah salah mengambil jalan. Selama ini sombong. Selama ini telah sedikit sedikit melukai mereka, orang orang yang begitu bisa dipercaya. Tanpa sadar… ketika tiba waktunya, yaitu hari ini, luka luka yang selama ini dibiarkan, di abaikan, telah berlalat, bernanah. Serentak semuanya marah. Diam diam, tapi terasa begitu nyata, dan dalam. Begitu samar, menyakitkan. Sama, pasti sama rasanya seperti sakit hati yang mereka tanggung.

Pernah beberapa kali aku coba memanggil manggil, memohon maaf. Tapi percuma, toh yang mereka butuhkan adalah obat merah, perban, dan plaster. Suara maaf tak berarti apa apa, kini semuanya begitu tidak berguna. Tidak guna meminta maaf, tidak ada guna mohon maafkan, tidak ada guna minta bicara, tidak ada guna bersuara. Maka… pulanglah.

Pulang ke rumah kosong yang ditinggal bersawang di pojok hutan itu. Menangislah disana. Tanamlah pepohonan, bebungaan, buatlah kolam, ayunan… untuk melihat yang pernah berlalu, mungkin kita pernah bersama sama waktu itu. Dalam bayangan, dalam pejaman mata, dalam genggaman doa. Dalam baris baris kata. 

Sudah. Ikhlaslah… tapi…

No comments: