“kepribadianmu ngeri”
Kata seseorang kepadaku pagi itu. Lalu dia melanjutkan,
“kamu pengen nunjukin kan ke orang orang, lewat instagram, facebook, twitter, liat nih gw bagian dari itu, ini kegiatan kegiatan gw, keren kan, gw udah anu banget kaann”
“gak semua orang nganggep itu keren lho, kayak
aku, biasa aja tuh”
dia mencekal kerah bajuku,
“kamu suka akting ya,
kamu terlalu show up, berlebihan. Dengan kamu begitu, kamu pengen sekalian bilang ke mereka ‘gw lebih dari kalian, gw bagian dari ini dan
liat gw sekarang, gw lebih, haha”
"Sombong!"
.... dar.
Sedetik kami diam. Saling menerka, siapa yang lebih sakit
hati.
Kuperhatikan tampangku di cermin. Kutelanjangi batok
kepalaku. Lalu aku tertawa, terguling guling. Sambil menusuk nusuk jarum di dua
telingaku, di dua bola mataku, di jidat, dan pergelangan tangan. Rasanya tidak
sakit, tidak perih, hanya benar.
Orang di cermin tetap diam, membiarkan aku merasakan
kebenaran. Sambil sesekali di tawarkannya pisau dan gunting, untuk membedah
dadaku, mengeluarkan jantung, hati dan
paru paru.
“Cuci bersih!”