Dia masih sama, menyimpan mata yang diam diam dirampasnya
waktu itu
Dia masih begitu, menunggu siapa tau bisa menyimpan satu
mata yang lain
Tapi... dua tiga hari itu, hanyalah dua tiga hari yang lalu
Karena... setelah dua
tiga hari itu tiba tiba datang rembulan
Sambil tertawa dia memaksa-nya menulis catatan:
“Hei... mata itu,
kembalikan”
Dia dan rembulan beradu
pandang, saling menyalahkan
Tentang siapa yang mestinya duluan memberi tahu dua tiga
hari yang lalu
Bahwa dua tiga hari yang lalu, atau entah sejak kapan
Dia dan rembulan sudah sama sama tau
warna langit tak pernah merah muda, tak pula biru
warnanya pucat, dua matanyalah yang salah
karena menebak warna langit dari mata yang buta
dia menduga langit bisa berwarna warnai, merah muda, biru,
dan ungu
Dia sedih, lalu menutup buku, menuntaskan catatan, dan
mengembalikan mata itu pada rembulan
sambil menangis, dan tertawa, dan diam diam menyelipkan
pesan selamat malam