Mari kita mulai dari bangun
kesiangan di kost karib gw, linda. Gw buru buru pulang ke kost untuk menyiapkan
perlengkapan rencana mendaki hari ini. Benar saja, untuk menyiapkan baju dan
perlengkapan lain, gw terlambat 1 jam. Pasang muka bersalah.
Semua feeling yang gw rasa hari
ini sama, mirip sabtu kemarin. gw rada sedih, gw excited, dan gw penasaran, kemana gw akan bawa hari
ini.
Gw memutuskan untuk naik motor
bareng reza, sudah gw wanti wanti dari awal, bila orang lain merasa “sampai”
ketika sudah ditempat tujuan, maka gw dan reza telah sampai sejak kita mulai
perjalanan ini. Gw harus bahagia, gw harus dapet sedapnya perjalanan ini.
Dengan sorak sorai selama
perjalanan, sampailah gw dan reza di lokasi. Tos hai, dibariskan, foto dan
mulai mendaki. Menjadi fotografer dalam sebuah event adalah hal yang spesial,
karna di situ gw mendapat hak untuk selalu “terserah”.
Hingga jatuhlah korban pertama,
adik tingkat gw. Gw merasa tertantang untuk berlatih berempati. Seperti pesan
ibu, gw harus belajar punya rasa kemanusiaan, care, dan penyayang.
Jadilah gw bersama adik tingkat gw yang sakit
menunggu di post pertama atau entahlah apa itu. Di sinilah hal tidak biasa itu
di mulai....
Siang itu hujan, tengah hari
disana bak senin pagi yang pilu. Gw duduk berdua dengan rani, sesekali gw
pandang adik kecil rani yang sama bosennya menunggu. Mungkin sejam telah
berlalu, gw mulai khawatir dan menghubungi satu persatu geng yang telah
berpisah sejak sejam yang lalu itu. Mati, tak ada jaringan. Cukup lama gw
menghubungi mereka, hingga tibalah saat paling memilukan itu... saat
kepercayaan gw runtuh, saat tingkat suudzon gw meningkat, dan saat dada ini
sesak sekali.
Bla... bla... bla.
“inikah solidaritas yang kalian maksud kawan kawan”
Masalahnya sepele, hanya
gara gara gw gagal ndaki, karena... teman yang kata mereka akan lewat sini tadi yang gw dan rani bisa bareng dia, gak jadi lewat jalan kami. Jadilah gw dan
rani di perintahkan menunggu sampai mereka kembali.
Deg. Hati gw hancur.
“gw di tinggalin...”
Waktu itu gw menangis, gw sedih
sekali, gw kecewa sekali, seperti cinta bertepuk sebelah tangan kawan kawan. Gw
terlalu ngarep sama kalian, gw terlalu percaya, gw terlalu sayang.... sampai gw
kira kalian gak mungkin begini. Gw belum sepenting itu.
Setelah gw timbang timbang lagi,
dari pada gw menangis dan ketika mereka benar benar kembali gw tidak siap mau
berekspresi seperti apa, akhirnya gw bergabung dengan bapak bapak di post, gw
harus juga dapat pengalaman. Hingga mereka, kawan kawan kecil gw datang...
Leli, ganis, asih... bertiga lagi
dengan cowok mereka masing masing. Gw memutuskan untuk bergabung dengan mereka
untuk mendaki. Tujuannya adalah air terjun bawah. Gw tinggal rani sendirian. Itu
kejam, tapi gw marah, gw sedang marah. Gw pintar sekali menyimpan marah dalam
ketawa gw.
Medan yang gw tempuh cukup
terjal, untuk bisa sampai ke atas, gw kadang merayap, membungkuk, pelan pelan. Cukup
jauh, mungkin 20-30 menit untuk sampai di sana. Kala itu perasaan gw masih
antara marah dan lega gw dapat pengalaman mendaki, seru banget, gw melihat
keatas, dan gw mengira ngira, kalau rombongan ini lama nanti, gw akan berani
balik sendirian. Gw merasa kuat bersama mereka.
Sampailah gw di air terjun,
terbayar sudah kemarahan gw. Gw tidak sanggup marah. Disana terlalu sejuk,
terlalu senang, naif sekali jika gw masih saja menyimpan
dendam. Mungkin gw ditinggalkan, mungkin gw di abaikan, tapi ah sudahlah... gw
lah yang memutuskan untuk semua itu.
Gw sempatkan ngobrol dengan
mereka berenam, gw makan, gw menikmati betul betul air terjun bawah itu. Gw rasakan
aromanya, gw teriaki, gw potret dengan mata hati gw. Welcome Indonesia...
Setengah jam, gw mulai kepikiran
kawan kawan gw. Gw berhitung, mungkin mereka sudah kembali, apa kata mereka
jika gw nekat kemari, gw akan salah. Maka gw berpamitan dengan kawan kawan
kecil gw itu untuk balik duluan. Gw rasa itu keputusan yang benar.
Dan ... berjalanlah gw sendirian.
Benar benar sendiri. Sampai gw menulis ini, ulu hati gw masih sakit, kepala gw
masih disana. Benarlah, ketika benar benar sendirian, kita akan tau betul
seberapa kuat diri kita.
Rupanya medan balik jauh amat
jauh lebih payah, jalanan licin, hah dan suananya cukup mencekam. Untuk seorang
perempuan penakut seperti gw, itu adalah hal yang amat amat sangat memilukan,
bayangin gw berjalan ditengah hutan, sendirian, sempet ada tempat yang rada
gelap, dan gw, Allahuakbar... kekuatan itu benar benar dari Allah. Tidak bisa
gw bayangkan, gw... anak yang gak seberapa ini, yang belum pernah masuk hutan
beneran, yang baru pertama kali ndaki, gw jalan sendiran, dan gw ketawa, gw
jalan sambil ketawa... gw menghibur diri. Semacam tolol. Dan gw masih mikirin
gw harus buru buru karna bisa jadi temen temen gw nungguin.
Ya Allah... gw kepleset berkali
kali. Gw bingung sekali caranya turun apakah harus merosot atau gw pakai kayu. Kaki
gw lecet, aaa~ dan gw masih ketawa. Menertawai kesendirian gw.
Entah berapa lama, sampai gw
bertemu persimpangan jalan, entah kemantapan dari mana, gw merasa harus
mengambil jalur kanan, padahal gw benar benar kadang ngembang soal jalan, gw
berharap betul gw tidak salah jalan, kaki gw sudah mulai kram, njarem, karna gw
mblandang dan kebingungan.
Sampai 3 orang entah yang tiba
tiba datang. Entah maksudnya apa. Karena gw menyambut mereka dengan ketawa. Pilu
rasanya hati ini. Gw ini Cuma bisa ketawa, ekspresi paling menyedihkan.
Pak... hari ini luar biasa, anak
gadis jagoan bapak naik turun gunung betung, turunnya sendirian. Dan aku sedih
mengingatnya pak.
Lalu sampailah gw di post tadi,
dengan banyak orang yang telah kesuh dengan gw, gw telah membuat mereka
menunggu lama, jenuh, gw takut sekali. Gw benar benar pengen udahan. Inilah, gw
sudah bilang bahwa hal yang tidak lillah, akan rapuh sekali. Persaudaraan ini. Meski
hanya gw yang menganggap begitu.
Luar biasa... gw tidak sengaja. Maaf,
jika hari ini gw membuat kesan yang buruk. Gw menyakiti dan membuang banyak
waktu kalian. Mestinya kalian tidak seperti ini. Bencilah gw, ghibahin gw,
pincingkan mata kalian ke gw. Gw takut... tapi gw tau betul ini salah gw. Marahlah
kawan kawan... lalu maafin gw.
Selamat malam gunung betung,
salam lestari dari kost seorang gadis berkaos merah yang setengah hari tadi
menjejekakkan kaki di tempatmu, yang setengah hari tadi ingin sekali memangis
dan mengadu. Semoga kita dapat berjumpa lagi, nanti... kalau kaki ini sudah
lebih kuat, hati ini sudah lebih siap, aku pasti merindukanmu. Semoga lain kali
aku tak pernah sendirian. Karena ngeri sekali betung, sedih sekali. Terimaksih karena
telah begitu mengesankan.
Selamat malam, siang.