Sesekali naiklah angkutan umum. Bus, angkot, atau jalan kaki-lah.
***
Sore tadi sepulang dari berkunjung ke rumah salah seorang
karib, aku naik angkutan umum. Angkot. Sejak insiden “menabrak angkot” beberapa
pekan lalu, baru kali ini aku menyadari bahwa angkutan umum yang satu ini
menyimpan kenangan yang mendalam, dan tak habis habisnya memberiku ruang untuk
meresapi macam macam cerita kehidupan orang orang.
Aku selalu gugup tiap kali akan naik dan turun dari angkutan
umum, entah mengapa. Meski gugupan begitu, aku selalu bisa menikmati tiap
moment perjalanan di dalam kendaraan. Rasanya ada saja yang membuatku takjub,
heran, de javu, flashback, terenyuh, ingat cerita cerita bapak, macam macamlah.
Seperti tadi ini, dua anak laki laki itu duduk di hadapanku.
Salah seorang membawa ransel dan sekeresek sesuatu, sedang anak yang satu lagi
mendekap sekardus sesuatu. Pemandangan ini pemandangan yang haru. Aku jadi
ingat cerita cerita lama tentang merantau. Aku menduga dua anak yang mirip
adikku lupi ini datang dari tanah yang jauh disana untuk mengadu nasib disini. Mungkin
mereka sedang menuju ke rumah salah seorang kerabat yang sudah duluan merantau.
Hatiku dingin membayangkannya.
Biasanya kalau sudah begini aku akan memutar lagu om ebiet
sembari membaca novel, memanggil kenangan kenangan haru yang lain. Yang karenanya
dapat menyemangati hati yang tengah gersang, sepi, dan hambar.
No comments:
Post a Comment