Wednesday, April 06, 2016

Unspoken

Kalau tidak pintar, kamu harus cantik. Karna dengan begitu, setengah masalah hidupmu selesai.

Kurasa pengungkap pertama kalimat itu tidak main main, dia serius. Dengan cantik, kamu bisa berudzur bolos kuliah karena kebetulan dosennya masih muda, masih suka sama yang cantik cantik. Dengan kamu dikenal pintar dari awal, semua opini yang kamu ungkapkan, seberbelit belit apapun isinya, seselip apapun jawabannya, itu bukan masalah salah hanya sedikit keliru. Bum!

Sarkastik ya, seperti orang putus asa yang cuma berani menuliskan kesedihannya dalam blog yang kemungkinan besar tidak berpembaca. Lalu sembari menulis tersenyum simpul memincingkan mata, xixixi.

Entah benar atau tidak, semua yang aku suudzon-i ini adalah nyata adanya di “mataku”, dengan cantik, kamu bisa munafik segimanapun dan tidak disalahkan oleh siapa siapa, dengan cantik kamu bisa dibela mati matian, dengan cantik kamu bebas dari khawatir tentang apapun. Tidak seberuntung yang cantik memang, sometimes si pintar tak begitu mulus kehidupannya, beberapa harus friendless, dikira ngesok, dikira macam macamlah. Tapi masih lebih mending dari tidak cantik sekaligus tidak pintar sih, bermasalah sekali.

Aku? Hahaha.

1 comment:

Hanna Benedicta Simanjuntak said...

Apalah daya, aku si anak buruk rupa yang juga tak berakal luar biasa