Kalau tidak pintar, kamu harus cantik. Karna dengan begitu,
setengah masalah hidupmu selesai.
Kurasa pengungkap pertama kalimat itu tidak main main, dia
serius. Dengan cantik, kamu bisa berudzur bolos kuliah karena kebetulan
dosennya masih muda, masih suka sama yang cantik cantik. Dengan kamu dikenal
pintar dari awal, semua opini yang kamu ungkapkan, seberbelit belit apapun
isinya, seselip apapun jawabannya, itu bukan masalah salah hanya sedikit
keliru. Bum!
Sarkastik ya, seperti orang putus asa yang cuma berani
menuliskan kesedihannya dalam blog yang kemungkinan besar tidak berpembaca.
Lalu sembari menulis tersenyum simpul memincingkan mata, xixixi.
Entah benar atau tidak, semua yang aku suudzon-i ini adalah
nyata adanya di “mataku”, dengan cantik, kamu bisa munafik segimanapun dan
tidak disalahkan oleh siapa siapa, dengan cantik kamu bisa dibela mati matian, dengan
cantik kamu bebas dari khawatir tentang apapun. Tidak seberuntung yang cantik
memang, sometimes si pintar tak begitu mulus kehidupannya, beberapa harus
friendless, dikira ngesok, dikira macam macamlah. Tapi masih lebih mending dari
tidak cantik sekaligus tidak pintar sih, bermasalah sekali.
Aku? Hahaha.
1 comment:
Apalah daya, aku si anak buruk rupa yang juga tak berakal luar biasa
Post a Comment