Friday, April 15, 2016

Unspoken 5

Hujan, dalam derasnya hujan banyak hal bisa disembunyikan. Banyak yang mencintai hujan, begitu juga aku. Hujan seperti memberi spasi antara hidup satu dengan hidup lainnya, dimana saat itu kita bisa berdamai dengan siapapun, dengan apapun.

Ya..., tiba tiba seperti hidup di tempat yang lain. Indahnya, kita bisa memilih di mana hendak berteduh, bisa ke narnia, ke urk, ke rumah, baker street, kemanapun, ke tempat tempat yang ada dalam mimpi.

Lalu, setelah berteduh sebentar disana, hilang semua rasa lelah, gelisah, macam macamlah. Yang tinggal hanya kedamaian dan... kenyataan. Kadang juga dia, yang selalu kita rindukan.

Unspoken 4

Seringkali perasaan seperti ini datang, perasaan yang mengajak kita untuk berangkat pergi mengunjungi seseorang yang nun jauh disana.

Perasaan ini menyenangkan, kadang mengundang tangis haru seperti rindu tapi bukan. Rasanya lebih seperti kepiluan. Karena sesak di dada, tapi hanya ada kepasrahan disana.

Dalam bayanganku, tergambar sebuah perjalanan seperti di lagu ebiet, di scane film laskar pelangi kala ikal pulang ke belitong, atau pada iklan iklan sampoerna. Dan yang aku ingat adalah bapak.

Indah sekali sebenarnya, mengingat masa yang sudah berlalu, kuwarnai dengan effect gingham. Pagi yang sejuk, siang yang bahagia, senja yang jingga... dan malam yang penuh rahasia.

Begitulah, sebuah rasa ingin pergi kepada seseorang, tanpa harus lagi pulang.

Thursday, April 14, 2016

Unspoken 3

Beranjak dewasa, mungkin banyak yang melatih wajahnya untuk bisa hanya berekspresi baik baik saja, sehingga semua urusan pribadi benar benar hanya dia dan beberapa orang yang diizinkan tau apa dan bagaimana sesungguhnya. Menarik sekali, yang sungguh sungguh berhasil akan jadi rebutan sana sini, karena yang seperti itu sungguh damai dan mendamaikan hatinya, menyenangkan pribadinya, bikin gemas. Sialnya, bagi yang belum berhasil, dia akan terlihat muna, dibuat buat, tidak orisinil dan malah banyak mengundang suudzon, bertanya tanya tulus enggak anak ini.

Lain lagi, selain keduanya, ada orang lain yang berusaha menampilkan dirinya untuk berekspresi sesuai isi hati. Pada awalnya orang orang seperti itu menggemaskan juga, menarik. Tapi... lama kelamaan banyak yang mulai jengah dan undur diri, kuatir menjadi korban ke-gegabahan anak anak ini. Lambat laun orang orang seperti ini menjadi yang paling menjengkelkan. Kasihan sekali.

Friday, April 08, 2016

Unspoken 2

Hidup terlalu gumas kadang gak asik. Rentan sekali, bentar bentar meledak.

Setahun ini hidup gumasku banyak berantakannya. Sangat berantakan malah. Terutama di akhir akhir ini lah, seperti ada upaya mengakumulasi data kebangkrutan perasaan. Minus.

Sejak dua hari yang lalu pola tidurku mulai mengkhawatirkan, aku tidur larut, lalu melanjut tidur sampai tengah hari. Kipas hidup selama aku di kamar, dan aku kencing berkali kali. Tapi di kepalaku tidak ada intruksi untuk ganti gaya, tidak ada tuh peringatan keluar nyari hiburan. aku dibiarkan tidur, lama sekali... rusaknya pola tidur dan makan adalah indikasi bahwa aku sedang dalam masa masa paling menyusahkan orang lain.

Orang yang hanya tau kalau aku pengeluh dan pemarah pasti sudah gumoh dengan cerita yang beginian, aku ulang tiap kali ada kesempatan. Lucu ya, meski seterang ini kenyataan kejelekanku yang minta ampun, tapi aku masih mencoba membela diri. Dikenal dark side nya saja itu kan artinya seluruh gambaran tentang diri bernilai jelek, itu menyedihkan. Dan justru yang kubangkitkan adalah rasa tidak suka balik. Gila bukan.

Lalu aku konfirmasi, aku tidak bangga loh punya hidup seperti yang banyak aku ceritakan. Aku ini sedih, kadang ingin kulempar apapun, ku mintai maaf semua yang pernah aku buat kesal, berbuat hanya kebaikan. Aku juga mau, mau... mau jadi seperti gambaran orang orang tentang anak perempuan manis yang baik hati dan banyak teman.

Yah, ini kalau ada yang mengira bahwa aku menulis hanya main main dan senang pamer perasaan.

Wednesday, April 06, 2016

Unspoken

Kalau tidak pintar, kamu harus cantik. Karna dengan begitu, setengah masalah hidupmu selesai.

Kurasa pengungkap pertama kalimat itu tidak main main, dia serius. Dengan cantik, kamu bisa berudzur bolos kuliah karena kebetulan dosennya masih muda, masih suka sama yang cantik cantik. Dengan kamu dikenal pintar dari awal, semua opini yang kamu ungkapkan, seberbelit belit apapun isinya, seselip apapun jawabannya, itu bukan masalah salah hanya sedikit keliru. Bum!

Sarkastik ya, seperti orang putus asa yang cuma berani menuliskan kesedihannya dalam blog yang kemungkinan besar tidak berpembaca. Lalu sembari menulis tersenyum simpul memincingkan mata, xixixi.

Entah benar atau tidak, semua yang aku suudzon-i ini adalah nyata adanya di “mataku”, dengan cantik, kamu bisa munafik segimanapun dan tidak disalahkan oleh siapa siapa, dengan cantik kamu bisa dibela mati matian, dengan cantik kamu bebas dari khawatir tentang apapun. Tidak seberuntung yang cantik memang, sometimes si pintar tak begitu mulus kehidupannya, beberapa harus friendless, dikira ngesok, dikira macam macamlah. Tapi masih lebih mending dari tidak cantik sekaligus tidak pintar sih, bermasalah sekali.

Aku? Hahaha.