Hari berganti, lalu menyisakan cerita yang jika indah ku
sebut-sebut sebagai “kenangan”, pada beberapa kenangan yang teramat indah aku
lebih keras mengendalikan diri untuk pasrah menerima kenyataan bahwa itu telah
berlalu. Mungkin orang lain sudah lupa, atau sengaja melupakan, atau memang
tidak cukup indah untuk dikenang baginya.
Sementara kita sendiri susah payah mengendalikan perasaan,
khusus untuk kenangan kenangan yang kita jaga agar tidak ada orang yang tahu
bahwa kita sebahagia itu. Kita kenal sekali bagaimana air muka yang berubah tegang
saat menutup hari, gerakan yang di lambat lambatkan dan perasaan yang di tekan
dalam dalam. Bahkan, pada calon kenangan yang kita tahu benar itu teramat
singkat, dari awal sudah dibuat yakin bahwa semuanya akan sudah, jadi sudah
sudahlah jangan buncah.
Di lain hari, aku suka diam saja untuk melupakan kenangan-kenagan
itu. Menjaganya agar tetap menjadi rahasia. Dalam desis yang panjang dan tidak
terdengar, aku berterimakasih kepada segalanya. Kepada hari hari yang sudah kita
tinggalkan untuk menyambut kenangan yang lain, mungkin dengan orang orang yang
sama, atau orang baru yang kita belum tau siapa.
No comments:
Post a Comment