Sejak jumat lalu adikku Luthfi
terserang DBD, dan sampai hari ini masih dirawat di rumah sakit Mitra Husada
Pringsewu. Selama di rumah sakit, Ibu dan aku menemaninya menginap, dan selama
itu pula aku merasakan hal-hal yang tidak biasa. Mulanya aku menawarkan diri
untuk menjaga Luthfi sendirian, supaya Ibu dapat berangkat ke sekolah seperti
biasanya. Tapi, atas saran Bapak sebaiknya Ibu juga menginap. Semalam pertama,
aku baru sadar akan apa yang tengah aku hadapi, malam pertama di rumah sakit
suhu badan adikku tinggi dan badannya menggigil, wajahnya pucat mengerikan. Aku
tidak bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan jika hanya sendirian, karena
nyatanya sepanjang malam Ibu-lah yang terjaga untuk adikku.
Begitulah Ibu.
Lalu, malam-malam selanjutnya juga
begitu. Sampai 2 malam lalu adikku sudah mulai tidur mendengkur seperti
biasanya ketika sehat, secara biology mendengkur ini bukan indikator sehat,
justru… tapi Ibu dan aku cukup lega karena mungkin ini pertanda adikku mulai
pulih. Namun, sampai hari ini trombositnya makin menurun, meski terlihat sehat,
namun sebenarnya dia sedang dalam fase kritis, dokter menyarankan agar kami
terus berupaya menjalankan anjuran-anjuran dokter.
Kalau saja aku sudah kompre, mungkin
aku tengah membantu ibu menjaga Adikku, yah untuk sekedar membelikan makan
malam atau menghabiskan makanan dari saudara-saudara yang membesuk. Aku tidak
banyak perannya, hanya ada disana. Tapi, makin besar kami, justeru “ada”-lah
yang paling kami harapkan. Semenatara aku dikosan, kini aku merasakan kesepian.
Hari ini baik, besok harus lebih
baik.