Alhamdulillah.
Atas berkah rahmat Allah, aku hidup
di sebuah lingkungan yang religius. Bapak dan Ibu adalah orang-orang baik yang
mendidik anak-anaknya melalui contoh. Kemudian contoh itu tidak disuruhkan,
tidak diceritakan, kami paham dengan melihat bagaimana semua terjadi, mereka
seperti membiarkan kami memahami sendiri kemudian terinspirasi untuk meniru.
Akhir-akhir ini banyak sekali proyek
pembangunan dan renovasi mushola di RT Desaku, MasyaaAllah. Aku menyaksikan
warga bergotong royong membangun, bergotong royong meramaikan. Ada sebuah
mushola tua di dekat rumah, mushola yang sedari kecil Aku dan Mbak Tika datangi
ketika Ramadhan tiba, sebuah mushola tua yang penuh dengan kenangan. Ukuruan
mushola itu benar benar kecil, hanya bisa digunakan untuk 4 shaf yang isi tiap
shafnya 5-6 orang, pokoknya mini. Malah setauku, mushola itu dibangun oleh
salah seorang KK (bukan mushola resmi hasil bangun desa). Seperti tadi sudah kubilang,
kesadaran masyarakat disini untuk mulai membangun dan meramaikan mushola dan
masjid makin tinggi. Itu pula yang menggerakkan para pemuda di sekitar rumah
untuk juga merenovasi mushola tua itu.
Pada suatu malam, ada 3 orang Bapak
muda yang mendatangi rumahku, menyampaikan dan mengajak Pak Eko berdiskusi
mengenai renovasi mushola tua, meski Bapak bukan jama’ah mushola (karena
bapak sholat di masjid Tegalsari), namun Pak Eko merupakan salah satu masyarakat
yang dituakan dan mungkin atas pertimbangan bahwa Pak Eko orang alim, Iya
sudah kubilang Bapak dan Ibuku adalah orang alim yang kece.
Sampai aku menulis ini, mushola tua
penuh kenangan itu sudah berdiri tegak, sudah lebih besar dan tinggi, hanya
belum beratap. FYI, pembangunan mushola-mushola disini dibiayai oleh uang hasil swadaya
masyarakat lho (bener ya bahasanya? uang iuran...), keren kan. Memang hasilnya gak ujug-ujug jadi, mereka menabung
dulu, dan dikerjakan tiap akhir pekan (ini bekerjanya gotong royong, bukan hanya
ahli bangunan, tapi banyak masyarakat lain yang ikut membantu sehingga dijadwalkan tiap
weekend agar tidak mengganggu kerja hariannya).
Dan hal seperti ini juga terjadi di
banyak RT-RT lainnya, diinisiasi oleh para pemuda maupun Bapak-bapak muda. Aku sungguh
terenyuh, haru sekali.
Tak sampai disitu, pada masjid Nurul
Iman, masjid besar di Purworejo juga sudah lebih dulu digalakkan Gerakan Subuh
Berjama’ah sebuah start up untuk subuh yang berasa jum’atan. Dari cerita yang cukup panjang ini,
kesimpulanku adalah: Aku bersyukur tinggal di lingkungan religius dan kece, aku
berharap dapat juga menebar manfaat untuk bekal di akhirat.
Allahuakbar!
