Tuesday, September 26, 2017

Para Pemburu Syurga

Alhamdulillah.

Atas berkah rahmat Allah, aku hidup di sebuah lingkungan yang religius. Bapak dan Ibu adalah orang-orang baik yang mendidik anak-anaknya melalui contoh. Kemudian contoh itu tidak disuruhkan, tidak diceritakan, kami paham dengan melihat bagaimana semua terjadi, mereka seperti membiarkan kami memahami sendiri kemudian terinspirasi untuk meniru.

Akhir-akhir ini banyak sekali proyek pembangunan dan renovasi mushola di RT Desaku, MasyaaAllah. Aku menyaksikan warga bergotong royong membangun, bergotong royong meramaikan. Ada sebuah mushola tua di dekat rumah, mushola yang sedari kecil Aku dan Mbak Tika datangi ketika Ramadhan tiba, sebuah mushola tua yang penuh dengan kenangan. Ukuruan mushola itu benar benar kecil, hanya bisa digunakan untuk 4 shaf yang isi tiap shafnya 5-6 orang, pokoknya mini. Malah setauku, mushola itu dibangun oleh salah seorang KK (bukan mushola resmi hasil bangun desa). Seperti tadi sudah kubilang, kesadaran masyarakat disini untuk mulai membangun dan meramaikan mushola dan masjid makin tinggi. Itu pula yang menggerakkan para pemuda di sekitar rumah untuk juga merenovasi mushola tua itu. 

Pada suatu malam, ada 3 orang Bapak muda yang mendatangi rumahku, menyampaikan dan mengajak Pak Eko berdiskusi mengenai renovasi mushola tua, meski Bapak bukan jama’ah mushola (karena bapak sholat di masjid Tegalsari), namun Pak Eko merupakan salah satu masyarakat yang dituakan dan mungkin atas pertimbangan bahwa Pak Eko orang alim, Iya sudah kubilang Bapak dan Ibuku adalah orang alim yang kece.

Sampai aku menulis ini, mushola tua penuh kenangan itu sudah berdiri tegak, sudah lebih besar dan tinggi, hanya belum beratap. FYI, pembangunan mushola-mushola disini dibiayai oleh uang hasil swadaya masyarakat lho (bener ya bahasanya? uang iuran...), keren kan. Memang hasilnya gak ujug-ujug jadi, mereka menabung dulu, dan dikerjakan tiap akhir pekan (ini bekerjanya gotong royong, bukan hanya ahli bangunan, tapi banyak masyarakat lain yang ikut membantu sehingga dijadwalkan tiap weekend agar tidak mengganggu kerja hariannya).

Dan hal seperti ini juga terjadi di banyak RT-RT lainnya, diinisiasi oleh para pemuda maupun Bapak-bapak muda. Aku sungguh terenyuh, haru sekali.

Tak sampai disitu, pada masjid Nurul Iman, masjid besar di Purworejo juga sudah lebih dulu digalakkan Gerakan Subuh Berjama’ah sebuah start up untuk subuh yang berasa jum’atan. Dari cerita yang cukup panjang ini, kesimpulanku adalah: Aku bersyukur tinggal di lingkungan religius dan kece, aku berharap dapat juga menebar manfaat untuk bekal di akhirat. 

Allahuakbar!

Saturday, September 23, 2017

Sempat Tertunda 3 Minggu, Sidang Kompre Mahasiswa Ini Ditutup dengan Haru

Sebetulnya cerita ini akan aku buat ala rilis berita, tapi pasca siding aku terlalu excited pengen sharing dan gak sempet lagi buatnya. Buat mengabadikan kisah itu, aku mau cerita ah soal skripsiku.

Pada suatu hari pada semester yang ada mata kuliah metodologi penelitian pendidikan, aku bersama kelima temanku bisik-bisik soal rencana bertim untuk mulai menulis skripsi. Waktu itu ada Aku, Nala, Meita, Adam, Kinasih dan Aulia. Itu formasi geng, kecuali Aulia. Aulia bergabung atas saran Kinasih yang kemudian kami berempat setujui, Aulia adalah anak baik yang pinter banget, kami berharap bisa dibimbing dan dimonitor oleh si Ukhti satu ini. Oke, sepakat kami berenam mengajukan diri sebagai tim peneliti dan siap meminang para dosen menjadi pembimbing kami, waktu itu kami berencana meminang Dr. Tri Jalmo, M.si dan Ibu Rini Rita T. Marpaung, selain dosbing kami juga sudah buat rancangan jadwal tahap demi tahap penggarapan skripsi ini, kalau itu bulan Mei, kami berencana seminar proposal September, penelitian Oktober, seminar hasil November, dan InsyaaAllah kompre Desember. Rencanya kami mau wisuda bulan Januari 2017.

Hahahaha.

Itu rencana enam orang mahasiswa yang berapi-api menyelesaikan studi dengan proses yang ideal, penuh kelancaran dan kebahagiaan. Lalu pada bulan Juli (2 bulan setelah rakor pertama) kami KKN, sibuk dengan kisah KKN masing-masing. Rencana observasi di sekolah PPL berubah jadi euphoria guru baru yang masih galau galaunya mau jadi guru yang gimana. Lepas KKN, rencana September kandas.

Semua jadi diluar dugaan.

Tim skripsi tahun ini ditentukan oleh prodi, disesuaikan dengan anak bimbingan PA. Hanya kinasih yang se-PA denganku, rencana kami gagal semua. Dari sini, aku mulai sibuk sendiri, aku jalani hari demi hari yang saat itu aku rasa sangat kesal dan berat hingga target wisuda januari berubah jadi maret karena pada akhirnya baru 11 Januari aku seminar proposal. 

Setelah satu tahap terlewati, aku revisi cukup lama. Pada februari baru bisa penelitian, lalu menulis hasil, dan nyatanya menulis hasil ini lama banget… Maret-April-Mei. 3 bulan lebih, dan baru seminar hasil di Juni, 5th. Maka target wisuda mundur ke Juli…

Rupanya ada badai satu lagi, jurnal. Target mundur jadi wisuda September. Masa menulis dan revisi jurnalku cukup lama, mulai dari pasca semhas sampai di acc ke-lima reviewer dan dekanat itu di minggu ke tiga agustus (2 bulan lebih). Lalu menjadwal kompre di August 23th, tapi gagal dan mundur sampai 3 minggu kemudian di September, 15th 2017. Masyaa Allah.

Sebuah perjalanan yang panjang… yang lama. Yang telah menguras keringat dan air mata. Dari target Januari, Maret, Juli hingga September. Sebuah target yang tidak terealisasi di bulan tujuan, tapi “Semua akan di wisuda pada waktunya”. Proses ini sungguh bukan main rasanya, mengingat semua yang sudah berlalu aku ingin tertunduk hormat kepada semua sarjana yang telah melewati masa-masa penuh perjuangan seperti ini. Kadang melewati masa senang dan masa sedih, masa semangat dan masa letih, masa riang dan masa bosan, masa ramai dan kesepian. Tak hanya itu, masa-masa lain rasanya semua ada dan dialami. Semua rasa pernah dilewati. 

Terimakasih ya Allah, hidup ini sungguh asik!

Wednesday, September 06, 2017

Kisah Pilu

Tadi pagi aku berangkat ke kosan dengan hati yang pilu. Sambil menangis di jalan, aku berdoa “Ya Allah… sembuhkan Ghaisan dan Khalila”. Mereka berdua adalah keponakanku, dua kakak beradik itu tengah flu dan batuk. Aku tidak kuasa melihat si Mamas yang gak mau makan, gak bisa buang ingus, si Adek yang bersin-bersin dan ingusnya meler, badannya anget. 

Rasa pilu ini sebetulnya tak hanya disebabkan karena dua kesayanganku sakit, dibalik cerita sakitnya banyak hal memilukan lainnya. Mbak Tika, si bunda adalah sesosok perempuan perekasa yang betulan ada. Bermula dari 5 tahun yang lalu sejak beliau mulai bekerja di wilayah barat Lampung, di Pesisir Barat sana. 5 tahun lalu juga merupakan tahun pernikahan Mbak Tika dengan suami, 5 tahun sejak menikah mereka LDR. Suami yang sudah duluan bekerja di RSAM, adalah seorang ayah yang suka dicari Ghaisan ketika di ngambur, kata Mbak Tika. “Kadang suka sedih kalo Ghaisan nanya ayah mana bunda…” terbayang, beberapa hari yang lalu juga aku melihatnya langsung, ketika si Ghaisan dipamiti ayahnya bekerja, cukup lama anak itu menatap ayahnya sampai sadar dan bilang “Aku mau ikut…” pas ditinggal nangis. "Dia tau, kalau ayahnya pamit kerja biasanya baliknya lama..." kata mbak tika.

Berjauhan itu menyakitkan. FYI, sebelum Ghaisan nangis, aku udah nangis duluan sebenernya. Aku malah yang suka sedih, aku yang paling gak bisa nahan perasaan.

Tadi siang, setelah lama ini aku menyadari lagi bahwa rasa sayang itu beneran nyata. Saat aku siap-siap ke kosan, Ghaisan menghamipiriku, beberapa kali bertanya mau kemana? Sambil matanya awas memandangi aku yang sebenarnya tidak kuasa menaham tangis. Sepertinya lebay ya. Tapi ini sungguhan, aku jawab sebisaku, "Tante mau sekolah...", "Aku juga mau cekolah, anterin aku". terus ngintilin. Aku buru-buru ngeluarin motor tanpa sanggup salim. Tidak menengok lagi, Ghaisan mau ikut, kayaknya. 

Sebetulnya malah aku yang paling sedih kalau mau pergi ketika masih ada dua malaikat kecil itu di rumah. Sungguh tidak ada pamit, aku tidak sanggup menatap mata bening Ghaisan dan Khalila, tatapan mata yang putih dan suci. Tatapan mata anak-anak baik.

Dan ini sering terjadi, ketika mereka pamit pergi ke perantauan. Aku juga tidak pernah sanggup melepas, hanya mengunci diri di kamar sambil mendengar Mbak Tika berpamitan di depan rumah. Aku sudah sesegukan. Aku tau, Bapak dan Ibu juga sebenarnya tidak sanggup, makanya tidak ada kata-kata yang terucap, sama-sama menahan pilu. Hanya suara Mbak Tika yang samar-samar menguatkan diri, sambil tertawa, tapi aku yakin hatinya juga menangis. Mbakku itu, seciwek aku. Malah lebih parah aslinya.

Pasti ada hikmah dari semua ini. Ada… menjadi lebih menghargai kesempatan yang ada.

Salam cinta, tante ridha. Yang selalu rindu, yang selalu ingin bersama-sama.