Tadi pagi aku berangkat ke kosan
dengan hati yang pilu. Sambil menangis di jalan, aku berdoa “Ya Allah…
sembuhkan Ghaisan dan Khalila”. Mereka berdua adalah keponakanku, dua kakak
beradik itu tengah flu dan batuk. Aku tidak kuasa melihat si Mamas yang gak mau
makan, gak bisa buang ingus, si Adek yang bersin-bersin dan ingusnya meler,
badannya anget.
Rasa pilu ini sebetulnya tak hanya
disebabkan karena dua kesayanganku sakit, dibalik cerita sakitnya banyak hal
memilukan lainnya. Mbak Tika, si bunda adalah sesosok perempuan perekasa yang
betulan ada. Bermula dari 5 tahun yang lalu sejak beliau mulai bekerja di
wilayah barat Lampung, di Pesisir Barat sana. 5 tahun lalu juga merupakan tahun
pernikahan Mbak Tika dengan suami, 5 tahun sejak menikah mereka LDR. Suami yang
sudah duluan bekerja di RSAM, adalah seorang ayah yang suka dicari Ghaisan
ketika di ngambur, kata Mbak Tika. “Kadang suka sedih kalo Ghaisan nanya
ayah mana bunda…” terbayang, beberapa hari yang lalu juga aku melihatnya
langsung, ketika si Ghaisan dipamiti ayahnya bekerja, cukup lama anak itu menatap
ayahnya sampai sadar dan bilang “Aku mau ikut…” pas ditinggal nangis. "Dia tau, kalau ayahnya pamit kerja biasanya baliknya lama..." kata mbak tika.
Berjauhan itu menyakitkan. FYI,
sebelum Ghaisan nangis, aku udah nangis duluan sebenernya. Aku malah yang suka sedih, aku yang paling gak bisa nahan perasaan.
Tadi siang, setelah lama ini aku
menyadari lagi bahwa rasa sayang itu beneran nyata. Saat aku siap-siap ke
kosan, Ghaisan menghamipiriku, beberapa kali bertanya mau kemana? Sambil matanya
awas memandangi aku yang sebenarnya tidak kuasa menaham tangis. Sepertinya lebay
ya. Tapi ini sungguhan, aku jawab sebisaku, "Tante mau sekolah...", "Aku juga mau cekolah, anterin aku". terus ngintilin. Aku buru-buru ngeluarin motor tanpa sanggup salim. Tidak
menengok lagi, Ghaisan mau ikut, kayaknya.
Sebetulnya malah aku yang paling
sedih kalau mau pergi ketika masih ada dua malaikat kecil itu di rumah. Sungguh
tidak ada pamit, aku tidak sanggup menatap mata bening Ghaisan dan Khalila,
tatapan mata yang putih dan suci. Tatapan mata anak-anak baik.
Dan ini sering terjadi, ketika
mereka pamit pergi ke perantauan. Aku juga tidak pernah sanggup melepas, hanya
mengunci diri di kamar sambil mendengar Mbak Tika berpamitan di depan rumah. Aku
sudah sesegukan. Aku tau, Bapak dan Ibu juga sebenarnya tidak sanggup, makanya
tidak ada kata-kata yang terucap, sama-sama menahan pilu. Hanya suara Mbak Tika yang
samar-samar menguatkan diri, sambil tertawa, tapi aku yakin hatinya juga
menangis. Mbakku itu, seciwek aku. Malah lebih parah aslinya.
Pasti ada hikmah dari semua ini. Ada…
menjadi lebih menghargai kesempatan yang ada.
Salam cinta, tante ridha. Yang selalu
rindu, yang selalu ingin bersama-sama.
No comments:
Post a Comment