Wednesday, September 06, 2017

Kisah Pilu

Tadi pagi aku berangkat ke kosan dengan hati yang pilu. Sambil menangis di jalan, aku berdoa “Ya Allah… sembuhkan Ghaisan dan Khalila”. Mereka berdua adalah keponakanku, dua kakak beradik itu tengah flu dan batuk. Aku tidak kuasa melihat si Mamas yang gak mau makan, gak bisa buang ingus, si Adek yang bersin-bersin dan ingusnya meler, badannya anget. 

Rasa pilu ini sebetulnya tak hanya disebabkan karena dua kesayanganku sakit, dibalik cerita sakitnya banyak hal memilukan lainnya. Mbak Tika, si bunda adalah sesosok perempuan perekasa yang betulan ada. Bermula dari 5 tahun yang lalu sejak beliau mulai bekerja di wilayah barat Lampung, di Pesisir Barat sana. 5 tahun lalu juga merupakan tahun pernikahan Mbak Tika dengan suami, 5 tahun sejak menikah mereka LDR. Suami yang sudah duluan bekerja di RSAM, adalah seorang ayah yang suka dicari Ghaisan ketika di ngambur, kata Mbak Tika. “Kadang suka sedih kalo Ghaisan nanya ayah mana bunda…” terbayang, beberapa hari yang lalu juga aku melihatnya langsung, ketika si Ghaisan dipamiti ayahnya bekerja, cukup lama anak itu menatap ayahnya sampai sadar dan bilang “Aku mau ikut…” pas ditinggal nangis. "Dia tau, kalau ayahnya pamit kerja biasanya baliknya lama..." kata mbak tika.

Berjauhan itu menyakitkan. FYI, sebelum Ghaisan nangis, aku udah nangis duluan sebenernya. Aku malah yang suka sedih, aku yang paling gak bisa nahan perasaan.

Tadi siang, setelah lama ini aku menyadari lagi bahwa rasa sayang itu beneran nyata. Saat aku siap-siap ke kosan, Ghaisan menghamipiriku, beberapa kali bertanya mau kemana? Sambil matanya awas memandangi aku yang sebenarnya tidak kuasa menaham tangis. Sepertinya lebay ya. Tapi ini sungguhan, aku jawab sebisaku, "Tante mau sekolah...", "Aku juga mau cekolah, anterin aku". terus ngintilin. Aku buru-buru ngeluarin motor tanpa sanggup salim. Tidak menengok lagi, Ghaisan mau ikut, kayaknya. 

Sebetulnya malah aku yang paling sedih kalau mau pergi ketika masih ada dua malaikat kecil itu di rumah. Sungguh tidak ada pamit, aku tidak sanggup menatap mata bening Ghaisan dan Khalila, tatapan mata yang putih dan suci. Tatapan mata anak-anak baik.

Dan ini sering terjadi, ketika mereka pamit pergi ke perantauan. Aku juga tidak pernah sanggup melepas, hanya mengunci diri di kamar sambil mendengar Mbak Tika berpamitan di depan rumah. Aku sudah sesegukan. Aku tau, Bapak dan Ibu juga sebenarnya tidak sanggup, makanya tidak ada kata-kata yang terucap, sama-sama menahan pilu. Hanya suara Mbak Tika yang samar-samar menguatkan diri, sambil tertawa, tapi aku yakin hatinya juga menangis. Mbakku itu, seciwek aku. Malah lebih parah aslinya.

Pasti ada hikmah dari semua ini. Ada… menjadi lebih menghargai kesempatan yang ada.

Salam cinta, tante ridha. Yang selalu rindu, yang selalu ingin bersama-sama.

No comments: