Thursday, November 30, 2017

Adinda Kepingin Tau

Apa yang sebetulnya adinda inginkan? Hidup bebas tak ada beban, menjadi teman baik untuk seseorang. Tidak hidup sekali ya begini? Minimal seseorang harus punya satu rutinitas kerja yang dapat digunakan untuk bercerita, mendapat uang, dan menjadi alasan tidak bisa pergi semau-maunya. Seseorang yang hidup harus punya satu yang seperti itu, itu baru namanya lengkap.

Ah, adinda tidak punya.

Gimana nih? Aku takut. Aku takut karena sampai hari ini tidak punya keinginan apa-apa, tidak punya rencana apa-apa, hanya sedang menunggu saja. Tau tidak apa yang adinda tunggu? Kayaknya ada, tapi tidak yakin dengan semuanya. Terlalu mengandalkan sesuatu. Adinda tidak tau menunggu apa.

Lalu, apa yang sebetulnya adinda inginkan? 

Aku ingin… segera mapan secara batin. Aku dibayang-bayangi dengan tidak bisa lagi senang-senang, tidak libur banyak, aku takut sibuk dan terikat. Tapi bebas begini juga menyesakkan ternyata. Huhu, adinda pusing.

Oke, mari kita serius. Mari kita benar-benar bicara dari hati ke hati tentang apa yang sesungguhnya aku inginkan? Jujur saja, katakanlah yang sebenarnya? Apa yang kamu inginkan?

Saat ini aku ingin bekerja di sebuah ruangan ber-AC, dari jam 9.00-15.00, dari senin sampai jumat dengan id card dan baju seragam, agar tidak bingung akan pakai baju apa hari ini besok dan lusa. Tidak dengan kontrak, hanya semau aku saja sampai kapan kerjanya. Kayaknya seru. Tapi dimana ya… tapi aku takut sama orang-orang.

Wednesday, November 29, 2017

Berubah ah

Sudah lama menganggur, perkerjaan menyenangkan mulai jadi membosankan. Memang masih terisisa banyak list, tapi rasanya sudah tidak berapi-api. Sudah sedikit sekali motivasi yang aku punya untuk menggerakkan badanku untuk beraktivitas dan mencheck dari pada list pengangguran. Lalu tiba-tiba saja aku mendapatkan ide cemerlang. Ide langka yang sungguh mencengangkan.

Apa itu???

Berubah!!!!! Yeah! Aku hendak berubah.

Tidak ada pertimbangan apa-apa, aku hanya ingin berubah. Seperti dulu pernah punya niat mengurangi segala negative treats, nah kali ini aku akan benar-benar bakal mengeksekusinya. Satu yang paling menonjol dari aku adalah sifat ….. lah banyak ding. Oleh karena itu, aku akan set goal satu sifat andalan dulu. Yaitu… jeng jeng jeng “Wala”.

Habis-habisan baik, begitu kira-kira.

Jadi, aku akan melakukan kebaikan secara totalitas. Sementara aku akan mulai dengan apa yang ada di depan mata aku, aku akan menyapu dengan sapuan terbaik, aku akan menulis dengan tulisan terbaik, aku akan jadi anak Ibu & Bapak jadi yang terbaik, dan jadi pasangan terbaik. Hahahaha 

Aku kurang paham juga maksud dari semua ini apa, yang aku rasakan ketika mau melakukannya hanya feel better. Dan perasaan yang nyaman ini akan mahal harganya, sesuai dengan usaha yang dikorbankan.

I know, kualitas tulisan aku buruk banget. Kosong.

Tuesday, November 28, 2017

Sudah Sehat dan Selesai Satu Novel

Puji syukur atas kesehatan yang Allah beri lagi. Rasanya lega hampir pulih begini. Habis sakit, ada yang berubah? Belum tau. Tapi aku ada banyak cerita… dari kisah wisuda, tanaman aku yang mulai berbuah, suudzon sama ayam tapi salah sasaran, isi novel yang aku baca, banyak banget yang pengen aku bagi.

Kali ini aku mau cerita tentang mimpi-mimpi yang aku alami selama sakit kemarin. aku selalu mimpi buruk ketika tidur di kala sakit, kadang tidak buruk hanya aneh. Yang pada intinya aku suka tiba-tiba nangis kalau mengingat mimpi itu, perasaanku menjadi sedih pada banyak hal. Aku sedih, tapi aku baik. Aku tidak marah kepada siapa-siapa.

Lalu makin sedih karena melihat bapak yang juga sedang sakit tiba-tiba suaranya parau hampir menangis ketika cerita di ruang makan. Saat menengok tak sengaja aku melihat rambut bapak yang hampir putih semua, menyisakan beberapa helai rambut yang hitam dan kelabu. Lalu ketika semua sudah berangkat sekolah aku nangis sendirian di kamar. Sedih sekali, hatiku teriris-iris.

Cerita ini berarti banyak.

Tak kuasa kulanjutkan sekarang.

Monday, November 20, 2017

Jadi Cerita

Aku senang bercocok tanam, melihat biji yang kusemai berkecambah membuat hatiku bedebar-debar. Selain itu, aku suka tak malu pergi ke rumah orang untuk meminta bibit tanamannya, sudah minta ngambilnya banyak. Hehe

Lalu saat aku sedang akan bercocok tanam pagi-pagi, ada tetangga ku Mbah Karsini datang kerumah, beliau mencariku. Ada apa? Masyaa Allah, beliau menyuruhku datang dan mengambil jambu air putih di rumahnya. Tau betul aku gemar metis, ah surgaaa. Pekarangan rumah Mbah Karsini sudah dari dulu indah dipenuhi macam-macam tanaman. Ingat sekali aku saat masih kecil suka terkagum-kagum dengan bunga yang sedang mekar, aneh-aneh bunganya, cantik warna warni. Maka, tak lupa aku minta juga bibit di beliau, minta buahnya juga.

Setelah berterima kasih, aku ingat ingin sekali menanam daun sirih. Daun sirih di rumah habis kena tebang bapak saat itu, pergilah aku ke rumah pakdeku untuk meminta bibitnya, tapi berhubung sudah tidak punya lagi, aku disuruh mencoba ke tetangga depan rumahnya yang ada tanaman sirih. Malu-malu aku memanggil dan meminta, sudah dibolehkan Ibunya Mbak Riska, aku mengmabil banyak, dan ketika pamit aku dioleh-olehi mangga yang kemudian kutau rasanya legit, enak banget! 

Tak henti-hentinya aku ber-Alhamdulillah di jalan pulang, aku tersentuh sekali. Waktu itu pulang lari pagi aku juga pernah iseng nyapa dan dipetikkan mangga (saat aku benar benar pengen metis dan belum musim buah di rumah), lalu ini aku di beri mangga yang sama yang sudah matang. Orang-orang baik. Orang-orang yang sangat baik.

Lalu aku belajar tentang pemberian, bahwa ada ketika orang lain betul-betul membutuhkan, memberi ketika orang lain begitu pengen adalah sesuatu yang sangat indah. Sangat indah. Menjadi yang tidak disangka-sangka, baik tanpa kenal siapa.

Tuesday, November 14, 2017

Kapan?

Kapan pertama kali kamu membuat keputusan yang dampaknya besar dan lama? Aku lupa, tapi salah satu yang aku pernah lakukan tentang ini adalah memutuskan sekolah dimana. Aku punya kenangan pahit soal memilih sekolah, rasanya cuma saat TK saja aku berjalan bangga menyandang gelar murid. Setelahnya yang aku ingat semua jadi serba malu-maluin.

Sekolah kemudian menyumbang pengaruh pembentukan karakter, kalau boleh aku menyalahkan. Entah datang dari mana, sejak SD aku mengalami kejadian direndahkan karena bersekolah dimana, aku jadi tak PD dengan diriku sendiri. Menjadi paling memilukan saat SMP dan SMA, sering aku berandai andai bila aku tidak terpaksa sekolah di SMP tentu SMA dan hidupku saat ini lebih keren. Itu saja.

Kemudian aku menjumpai hari ini, hari-hari sama yang banyak khawatir. Aku memutuskan untuk hidup dengan santai, apa yang ada di film korea tentang seseorang yang berpesan “kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu” ku percaya dengan serta merta. Bedanya, kalau di korea si penerima pesan itu akan tetap menjalankan hidupnya dengan penuh waspada, tetap membangun hidupnya sendiri. Sayang, aku percaya mentah-mentah, kutelan sebulat itu dan kini kutau aku salah pilih sikap.

Meski aku tau aku telah salah, aku terlanjur malas bangun. Padahal begitu banyak tekanan untuk itu. Dan yang ingin kusampaikan adalah, jangan gitu atau bertanggung jawablah.