Aku senang bercocok tanam, melihat
biji yang kusemai berkecambah membuat hatiku bedebar-debar. Selain itu,
aku suka tak malu pergi ke rumah orang untuk meminta bibit tanamannya, sudah
minta ngambilnya banyak. Hehe
Lalu saat aku sedang akan bercocok
tanam pagi-pagi, ada tetangga ku Mbah Karsini datang kerumah, beliau mencariku. Ada apa?
Masyaa Allah, beliau menyuruhku datang dan mengambil jambu air putih di
rumahnya. Tau betul aku gemar metis, ah surgaaa. Pekarangan rumah Mbah Karsini
sudah dari dulu indah dipenuhi macam-macam tanaman. Ingat sekali aku saat masih
kecil suka terkagum-kagum dengan bunga yang sedang mekar, aneh-aneh bunganya, cantik warna warni. Maka,
tak lupa aku minta juga bibit di beliau, minta buahnya juga.
Setelah berterima kasih, aku ingat
ingin sekali menanam daun sirih. Daun sirih di rumah habis kena tebang bapak saat itu, pergilah aku ke rumah pakdeku untuk meminta
bibitnya, tapi berhubung sudah tidak punya lagi, aku disuruh mencoba ke
tetangga depan rumahnya yang ada tanaman sirih. Malu-malu aku memanggil dan
meminta, sudah dibolehkan Ibunya Mbak Riska, aku mengmabil banyak, dan ketika pamit aku dioleh-olehi
mangga yang kemudian kutau rasanya legit, enak banget!
Tak henti-hentinya aku ber-Alhamdulillah
di jalan pulang, aku tersentuh sekali. Waktu itu pulang lari pagi aku juga
pernah iseng nyapa dan dipetikkan mangga (saat aku benar benar pengen metis dan
belum musim buah di rumah), lalu ini aku di beri mangga yang sama yang sudah matang. Orang-orang
baik. Orang-orang yang sangat baik.
Lalu aku belajar tentang pemberian,
bahwa ada ketika orang lain betul-betul membutuhkan, memberi ketika orang lain
begitu pengen adalah sesuatu yang sangat indah. Sangat indah. Menjadi yang
tidak disangka-sangka, baik tanpa kenal siapa.
No comments:
Post a Comment