Ini adalah sebuah nasihat pernikahan
yang kubuat untuk diriku sendiri pada 51 hari menjelang pernikahanku. Dimana
aku sedang merasa haru-harunya.
Hari ini aku mengalami sebuah waktu
dimana aku mengingat dengan jelas 23 tahun kehidupanku selama ini, lalu
menangis lama sekali. Belum pernah aku menangis semenggugu ini. Aku sedang
rindu… sedang sangat rindu… padahal aku belum pergi kemana-mana. Tapi aku
sangat rindu, rindu sekali.
Lalu aku ingin menulis sebuah surat
yang tidak mampu aku katakan langsung kepada Bapak dan Ibu, Mbak Tika dan Adik
Luthfi. Karena suaraku tercekat,tertahan oleh air mata yang berderai lama.
Rasanya sesak.
Pertama,
Teruntuk Bapak Eko yang ridha
sayangi…
Pak…ingat tidak pak, dulu bapak
sering membawaku sekolah di SD N 3 Karang Rejo. Disana aku dimomong sama
murid-murid SD bapak, rasanya senang sekali. Bermain sama mbak-mbak SD dan beli
opak di depan sekolah. Aku masih ingat wajah mbak-mbak yang momong aku, dengan
logat ngapaknya ketika menyebut nama bapak “la kie aneke Pak Eko”.
Ingat tidak pak, dulu waktu aku
sakit batuk dan muntah karena belum tau cara ngeluarin dahak, bapak yang ngepel
muntahanku.
Ingat juga tidak pak? Saat seminggu
pertama aku tinggal di pesantren dan ada kesempatan untuk libur, aku menelpon
bapak. Aku tidak tau itu apa, tapi saat mendengar suara bapak di sebrang, tiba
tiba suaraku parau dan mulai menangis. Padahal seminggu sebelumnya saat bapak
dan ibu pamit pulang ketika mengantarku di pesantren sampai hari ini aku
telpon, aku masih begitu ceria karena mendapat pengalaman baru yang sangat
seru, tapi saat itu sungguh entah apa namanya, aku menangis… mungkin itu
pertama kali aku mengenal rasanya rindu.
Tapi… tiga tahun berlalu aku malah
yang membuat bapak menangis karena mengirimi surat minta dikeluarkan dari pesantren.
Maafkan ridha ya pak… sampai hari ini aku belum pernah minta maaf sama bapak
untuk rasa sakit yang kubuat 7 tahun yang lalu.
Lalu, setelah itu semunya berlalu
dan tau-tau aku sudah besar dan 51 hari lagi aku akan menikah. Tanpa sempat
berbuat apa-apa untuk bapak. Maka hari ini diam-diam aku ingin berterima kasih
dengan sangat kepada bapak… terima kasih banyak ya pak… untuk 23 tahun yang
luar biasa, untuk 23 cinta yang bapak berikan buat ridha, untuk 23 tahun doa
bapak yang senantiasa menyertai kehidupan ridha.
Ridha minta maaf atas semua
kesalahan yang pernah ridha buat, ridha minta maaf atas semua luka yang pernah
ridha buat… ridha minta maaf atas semua kemarahan ridha yang membuat bapak
sedih… ridha minta maaf ya pak…
Mohon restui ridha membangun rumah
tangga bersama dia yang berani menemui bapak untuk melamar. Bapak adalah cinta
pertama ridha, terima kasih sudah menjadi bapak yang galak sekaligus penuh
cinta. Terimakasih atas semuanya pak, ridha sayang bapak.
No comments:
Post a Comment