Wednesday, April 04, 2018

Love is Real #2

Pagi itu tidak seperti biasanya, aku bangun lebih awal dan bergegas menyiapkan semua peralatan sekolah dan menyapu rumah. Setelah morning routineku beres, aku ke dapur membantu ibu memasak, yang ini baru tidak biasa. Sejak semalam aku telah diam-diam menyisihkan sayur-mayur dan membuat perkedel kentang sendiri. Sebagian perkedel terbaik aku simpan di lemari dan kusimpan sembunyi-sembunyi. 

Tak lama, bento istimewaku beres. Dengan 2 kepal nasi yang kubentuk emoticon, mi goreng special, sayur hiasan, telur dadar istimewa, dan tentu saja perkedel kentang terbaik yang bisa kubuat. Ah, lega… 

Setengah jam kemudian aku sudah berada di sekolah, aku tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Aku sudah menyiapkan bento dan baju ganti untuk rencana rahasiaku siang ini. Aku sudah nervous membanyangkannya. SMA ku memang bukan sekolah yang popular, yah meski dikenal, orang mengenalnya sebagai sekolah dengan murid yang pandai tawuran dan tentu saja cewek-cewek hot yang sebagian adalah teman kelasku. Aku sekolah hanya sampai pukul satu siang, setelah dzuhur masuk satu jam pelajaran lalu pulang. Tapi hari ini aku tidak akan langsung pulang,aku akan berkencan.

Aku hampir tertidur saat bel sekolah tanda berakhir pelajaran berbunyi. Yeay! Akhirnya selesai juga penantianku. Kubuka ponsel untuk mengirim pesan singkat kepada seseorang yang mungkin sudah 2 jam lalu menungguku di depan gerbang sekolah.

“Kamu di mana mas? Ini udah bel pulang”

“Iya dek, mamas nunggu di depan sekolah”

Aku keluar gerbang dan mendapati seorang laki-laki berjaket biru duduk di motornya sambil matanya mencariku. Itu dia!

“Hey… udah lama nunggu ya?”

“Iya, tadi mamas nunggu kamu di masjid sana itu sambil tidur. Yuk, mau kemana kita?”

Tanpa disuruh, aku langsung naik di boncengnya, sambil mengarahkan kemana tujuan kami hari ini. Tak sabar aku menyajikan bento cintaku padanya. Hingga berminggu-minggu kemudian, dia terus berteria kasih untuk bento cintaku. Dia senang aku mau sedikit repot membuatkan bekal sebagai penawar lelah setelah lebih dari 3 jam perjalanan demi menemuiku sepulang sekolah. 

“Dek, mamas berangkat ya”

“Eh, iya sayang… ini bento nanti buat makan siang di kantor”

Dia tersipu, dia masih terus begitu sampai kami menikah. 

“I love you… terimaksih untuk bento cintanya ya sayang”

Aku mengantarnya sampai gerbang rumah hijau kami. Aku sudah tak sabar menunggunya pulang sore nanti.

Tuesday, April 03, 2018

Love is Real #1

Aku tidak sempat memakan cokelatku yang terakhir saat Dave menarikku untuk cepat-cepat mengikutinya ke tepi pantai. Aku memang sudah lama sekali tidak keluar rumah, hal ini berlangsung sejak Dave berangkat ke Aceh bulan lalu. Saat dia bekerja jauh, aku hanya menunggunya kembali pulang sembari menata rumah kami yang baru. Sebuah rumah yang hijau nan sejuk yang ku desain sendiri dengan saran dan masukan dari suamiku, Dave. 

Rasanya seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan sejak aku bertemu Dave untuk pertama kalinya. Saat itu dia mengenakan kaos lengan panjang berwarna orange dengan gambar lebah di dada kirinya, santai sekali. Aku tak begitu ingat bagaimana kami memutuskan untuk akhirnya bertemu setelah sekian lama menjalin hubungan melalui facebook.

Kami hanya diam dan sesekali saling memandang saat itu, sebetulnya tidak memandang seperti yang biasa dilakukan dalam film atau dituliskan dalam novel. Tentu malu, malu sekali rasanya kasmaran. Aku melihatnya saat dia tak melihatku, dan aku tak tau apakah dia  melakukan hal yang sama. Badannya tinggi dan bugar, untunglah. Untuk perempuan jangkung sepertiku, mendapatkan laki-laki yang seimbang tentu sebuah takdir yang indah.

“Hey, kamu lagi mikirin apa sayang? Kok sampai bengong gitu…”

Aku tersadar dari lamunanku yang jauh di 7 tahun lalu. Aku menatap matanya yang agak sayu dan menarik tubuhnya untuk kupeluk. 

“Terima kasih untuk mencintaiku Mas…”

Dave memelukku lebih erat saat matahari senja hampir habis tenggelam. Aku benar-benar bersyukur bisa menjadi utuh dengannya. Dave, dia adalah laki-laki pendiamku. Aku selalu mencintainya, dan akan terus begitu.