Pagi itu tidak seperti biasanya, aku
bangun lebih awal dan bergegas menyiapkan semua peralatan sekolah dan menyapu
rumah. Setelah morning routineku beres, aku ke dapur membantu ibu memasak, yang
ini baru tidak biasa. Sejak semalam aku telah diam-diam menyisihkan sayur-mayur dan
membuat perkedel kentang sendiri. Sebagian perkedel
terbaik aku simpan di lemari dan kusimpan sembunyi-sembunyi.
Tak lama, bento istimewaku beres. Dengan 2 kepal nasi yang kubentuk emoticon, mi goreng special, sayur hiasan, telur
dadar istimewa, dan tentu saja perkedel kentang terbaik yang bisa kubuat. Ah,
lega…
Setengah jam kemudian aku sudah
berada di sekolah, aku tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Aku sudah
menyiapkan bento dan baju ganti untuk rencana rahasiaku siang ini. Aku sudah
nervous membanyangkannya. SMA ku memang bukan sekolah yang popular, yah meski
dikenal, orang mengenalnya sebagai sekolah dengan murid yang pandai tawuran dan
tentu saja cewek-cewek hot yang sebagian adalah teman kelasku. Aku sekolah
hanya sampai pukul satu siang, setelah dzuhur masuk satu jam pelajaran lalu
pulang. Tapi hari ini aku tidak akan langsung pulang,aku akan berkencan.
Aku hampir tertidur saat bel
sekolah tanda berakhir pelajaran berbunyi. Yeay! Akhirnya selesai juga
penantianku. Kubuka ponsel untuk mengirim pesan singkat kepada seseorang yang
mungkin sudah 2 jam lalu menungguku di depan gerbang sekolah.
“Kamu di mana mas? Ini udah bel
pulang”
“Iya dek, mamas nunggu di depan
sekolah”
Aku keluar gerbang dan mendapati
seorang laki-laki berjaket biru duduk di motornya sambil matanya mencariku. Itu
dia!
“Hey… udah lama nunggu ya?”
“Iya, tadi mamas nunggu kamu di
masjid sana itu sambil tidur. Yuk, mau kemana kita?”
Tanpa disuruh, aku langsung naik di
boncengnya, sambil mengarahkan kemana tujuan kami hari ini. Tak sabar aku
menyajikan bento cintaku padanya. Hingga berminggu-minggu kemudian,
dia terus berteria kasih untuk bento cintaku. Dia senang aku mau sedikit repot
membuatkan bekal sebagai penawar lelah setelah lebih dari 3 jam perjalanan demi
menemuiku sepulang sekolah.
“Dek, mamas berangkat ya”
“Eh, iya sayang… ini bento nanti
buat makan siang di kantor”
Dia tersipu, dia masih terus begitu
sampai kami menikah.
“I love you… terimaksih untuk bento cintanya ya sayang”
Aku mengantarnya sampai gerbang rumah
hijau kami. Aku sudah tak sabar menunggunya pulang sore nanti.
No comments:
Post a Comment