Aku tidak sempat memakan cokelatku
yang terakhir saat Dave menarikku untuk cepat-cepat mengikutinya ke tepi pantai.
Aku memang sudah lama sekali tidak keluar rumah, hal ini berlangsung sejak Dave
berangkat ke Aceh bulan lalu. Saat dia bekerja jauh, aku hanya menunggunya
kembali pulang sembari menata rumah kami yang baru. Sebuah rumah yang hijau nan
sejuk yang ku desain sendiri dengan saran dan masukan dari suamiku, Dave.
Rasanya seperti mimpi, mimpi yang
menjadi kenyataan sejak aku bertemu Dave untuk pertama kalinya. Saat itu dia
mengenakan kaos lengan panjang berwarna orange dengan gambar lebah di dada
kirinya, santai sekali. Aku tak begitu ingat bagaimana kami memutuskan untuk
akhirnya bertemu setelah sekian lama menjalin hubungan melalui facebook.
Kami hanya diam dan sesekali saling
memandang saat itu, sebetulnya tidak memandang seperti yang biasa dilakukan
dalam film atau dituliskan dalam novel. Tentu malu, malu sekali rasanya
kasmaran. Aku melihatnya saat dia tak melihatku, dan aku tak tau apakah dia melakukan hal yang sama. Badannya tinggi dan
bugar, untunglah. Untuk perempuan jangkung sepertiku, mendapatkan laki-laki
yang seimbang tentu sebuah takdir yang indah.
“Hey, kamu lagi mikirin apa sayang? Kok
sampai bengong gitu…”
Aku tersadar dari lamunanku yang
jauh di 7 tahun lalu. Aku menatap matanya yang agak sayu dan menarik tubuhnya
untuk kupeluk.
“Terima kasih untuk mencintaiku Mas…”
Dave memelukku lebih erat saat
matahari senja hampir habis tenggelam. Aku benar-benar bersyukur bisa menjadi
utuh dengannya. Dave, dia adalah laki-laki pendiamku. Aku selalu mencintainya,
dan akan terus begitu.
No comments:
Post a Comment