Tuesday, April 03, 2018

Love is Real #1

Aku tidak sempat memakan cokelatku yang terakhir saat Dave menarikku untuk cepat-cepat mengikutinya ke tepi pantai. Aku memang sudah lama sekali tidak keluar rumah, hal ini berlangsung sejak Dave berangkat ke Aceh bulan lalu. Saat dia bekerja jauh, aku hanya menunggunya kembali pulang sembari menata rumah kami yang baru. Sebuah rumah yang hijau nan sejuk yang ku desain sendiri dengan saran dan masukan dari suamiku, Dave. 

Rasanya seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan sejak aku bertemu Dave untuk pertama kalinya. Saat itu dia mengenakan kaos lengan panjang berwarna orange dengan gambar lebah di dada kirinya, santai sekali. Aku tak begitu ingat bagaimana kami memutuskan untuk akhirnya bertemu setelah sekian lama menjalin hubungan melalui facebook.

Kami hanya diam dan sesekali saling memandang saat itu, sebetulnya tidak memandang seperti yang biasa dilakukan dalam film atau dituliskan dalam novel. Tentu malu, malu sekali rasanya kasmaran. Aku melihatnya saat dia tak melihatku, dan aku tak tau apakah dia  melakukan hal yang sama. Badannya tinggi dan bugar, untunglah. Untuk perempuan jangkung sepertiku, mendapatkan laki-laki yang seimbang tentu sebuah takdir yang indah.

“Hey, kamu lagi mikirin apa sayang? Kok sampai bengong gitu…”

Aku tersadar dari lamunanku yang jauh di 7 tahun lalu. Aku menatap matanya yang agak sayu dan menarik tubuhnya untuk kupeluk. 

“Terima kasih untuk mencintaiku Mas…”

Dave memelukku lebih erat saat matahari senja hampir habis tenggelam. Aku benar-benar bersyukur bisa menjadi utuh dengannya. Dave, dia adalah laki-laki pendiamku. Aku selalu mencintainya, dan akan terus begitu.

No comments: