Sering banget ya aku ngebahas soal kematian? Pengen mati, kalau mati, giliran mati beneran, emang siap? Atau kalau ditinggal mati?
Hmmm.
Aku mau cerita tentang dua teman sekolahku. Sama-sama perempuan, sama-sama sudah menikah.
Pertama kali aku ketemu dia, sebut saja mawar, saat kami mau tes wawancara di sekolah. Pada pertemuan pertama itu, dia sudah cerita kalau dia adalah janda dengan 2 anak perempuan. Suaminya meninggal saat berangkat kerja, waktu itu dia sedang hamil tua anak kedua. Really.
Aku terduduk, ternganga.
Cerita lainnya ketika kembali ngajar setelah cuti melahirkan yang luama banget, aku ketemu pegawai baru yang boleh kita sebut sebagai melati. Dia menawan, Idolaku. Pertama kali ketemu aku menabak jika masih single, melati adalah perempuan independen high-class. Kalau dia sudah menikah, dia pasti punya kehidupan pernikahan yang indah, intim, bebas. Meski sebenernya dia keliatan kurang friendly, karena tipe wajahnya tegas jadi berkesan judes.
Nyatanya enggak. Cukup sebulan untuk tau bahwa dia masyaa Allah, baik.
dan… Janda.
Suaminya meninggal ba’da sholat ashar ketika otw ke TKP, polisi.
Sekarang dia sendirian.
Kadang update status di whatsApp, dia rindu suaminya. Oh God.
Kepada teman-temanku yang takdirnya sebegitu sedih (buatku), again aku bukan iba, oh God, they are special, kalau mau kasihan justru aku kasihan sama diriku yang emang jarang mensyukuri keberadaan orang yang sekarang ada buat aku, masih bisa ditanya apa kabar, udah makan belum, ayo berantem.
Aku ngeri ngebayangin bakal mati atau ditinggal mati karena pasti sedih dan rindu banget ya? Meskipun yang ditinggalkan gak cuma kenangan yang baik.
Dan kalau boleh berandai-andai, jika takdirnya aku yang mati duluan, Ais gak boleh punya ibu tiri. Ini jadi semacam entry yang isinya adalah sebuah wasiat. Hehe
Dia (suamiku) boleh punya pendamping, maybe kehidupannya bakal lebih bahagia dari pada sama aku, tapi pendampingnya gak bakal bisa jadi ibu buat Ais.
Ais akan diasuh ibu Titin atau mbak Tika. Kelak saat dia dewasa dan akan dipinang, Ais hanya boleh dinikahkan dengan laki-laki yang sholeh dan punya rumah sendiri.
Ais harus bahagia, dia boleh menentukan pilihannya (selama pilihannya adalah pilihan yang tidak melanggar syariat) mau berprofesi apa, siapapun tidak berhak mengintervensi.
Btw, laporanku di alam barzakh gimana ya.
No comments:
Post a Comment