Saturday, May 29, 2021

Janji Jiwa

Hai sayang, hai diriku yang awal tahun lalu berjanji untuk berhenti melakukan dosa ghibah.

Ternyata menjadi seperti Ibu Titin yang belum pernah aku dengar ngata-ngatain orang itu susah banget buatku. Kebiasaaan yang aku lakukan sejak lama, setiap hari, sudah menjadi karakter. Susah banget untuk tidak julid diam-diam, bahkan kadang di keramaian.

Padahal, aku sendiri tidak suka dengan pribadi seperti itu, mudah terpancing untuk menambahkan informasi tentang aib orang lain saat ngobrol, manas-manasin teman geng di grub WhatsApp. Ini keterlaluan, tidak etis, norak.

Padahal kepada orang yang aku nilai buruk, aku gak berani menegaskan kemarahan atau ketidak sukaanku langsung di depan orangnya, aku tetep cupu, muka dua, pengecut. Persis seperti gambaran suamiku ketika aku sedang curhat berapi-api, dia tau betul aku cuma berani ngomong gitu di belakang, tipe domba-domba yang bergerombol.

Setiap hari aku menyadari dan menyesali perbuatanku ini, setelah janjian sama diri sendiri untuk berubah, ada perasaan bersalah yang begitu dalam ketika dosa ini aku lakukan lagi, dan itu bagus banget, bisikan untuk taubat… itu bagus banget, dan sudah semestinya aku ikuti.

Aku beneran pengen jadi orang yang baik, definisi baik buat aku adalah… manusia yang bisa bersikap sama ketika ada atau tidak ada orang yang melihatnya, mendengarnya, membicarakannya. Aku pengen jadi orang yang tulus tidak palsu, yang sama baiknya di depan atau belakang. Aku pengen berhenti khawatir orang jadi tau Ridha yang asli, ridha yang kalau di rumah…ridha yang kalau di grub geng sekolah… aku mah pengen jadi ridha yang ridha aja, udah gak pakai yang dimana, dimana, karena sama aja. Ridha mah orang baik.

dan yang paling penting adalah, aku pengen sama baiknya di hadapan keluarga maupun orang lain. Aku pengen keluargaku tau gimana baiknya aku ke oranglain, juga sebaliknya, aku pengen orang lain tau gimana aslinya aku ke keluargaku.

Kenapa baru pengen? Berarti emang belum terjadi ya, eh gak papa diri ini, jangan putus asa. Kita bisa mulai dari hari ini kok, kita bisa mulai sekarang. I love you Ridha, kamu berharga, kamu pasti bisa.

Hidupku Sekarang (Ridha, 2021)

Pertama, biar gampang aku akan mulai hobi menulis ini dengan menulis apa yang sedang aku lakukan. Gampang banget kan ceritainnya, cuma ngasih tau aku siapa, lagi dimana, ngapain aja.

Jadi hey aku di masa depan yang mungkin bakal iseng baca tulisan ini, aku yang sekarang mau ngasih tau kalau umurku hari ini adalah 27 tahun, Ibu dari seorang anak perempuan yang usianya sudah 2 tahun. Aku adalah seorang Guru di sekolah swasta di dekat rumah mertua. Jangan terlalu detail, however, ini adalah ruang publik, dan sejak setahun yang lalu, aku memutuskan untuk membatasi diriku dari memposting informasi pribadi terlalu spesifik.

Mumpung lagi ngomongin soal privasi, aku mau ngasih tau juga bahwa, aku sekarang udah gak main social media. Kalau ditanya kenapa, jawabannya adalah karena aku merasa kecanduan, kepalaku yang gampang panas ini terlalu ramai oleh apa yang social media berikan buat aku, kepalaku gak sanggup buat menampungnya, dan aku kira dengan berhenti akan menyepikan jiwaku, isi kepalaku, dari begitu berisiknya dunia maya.

Kisah ini berawal dari aku menonton social dilemma, lalu banyak dengerin wawancaranya Marisa Anita tentang isu ini.

Terus apa yang aku rasakan sekarang setelah membuat keputusan itu? Aku belum bisa bilang lebih damai, lebih baik, lebih apapun, karena aku juga sedang dalam proses mendapatkan itu, namun yang paling terasa adalah kepalaku jadi sepi… ternyata aku gak papa gak tau apa apa. Kehidupanku yang biasa aja, berjalan seperti biasanya, ternyata bener seperti dugaanku, aku emang gak butuh informasi itu, dan dengan gak dapet itu, ya gak rugi… tapi satu-satunya yang tersisa adalah perasaan penasaran, everybody udah nyampe mana ya hidupnya…

Tau kan perasaan itu? Perasaan kepo orang udah sekaya apa sekarang? Kalau ketemu lagi apakah aku akan PD, apakah nanti jika aku tau faktanya, aku tidak akan minder, tidak menghargai hidup yang sudah aku lalui dalam keheningan selama ini. Itu saja, dan aku rasa aku hanya harus menghadapinya, pasti juga gak papa… paling iri bentar, sedih bentar, terus move on.

Karena udah terlanjur ambil jalan ini, jadi sekalian aja aku bersihin kontak di handphone, saat ini aku cuma menyimpan kontak keluarga, teman kerja, teman lama yang masih peduli dan aku pedulikan. Aku cuma tau kabar dari whatsapp tentang orang-orang ini saja, dan ternyata emang hanya ini yang mampu aku tampung di kepalaku, mungkin dengan begini aku jadi lebih care, karena perhatianku emang sudah ku kerucutkan hanya untuk sebagian orang. Namun kadang aku jadi terlalu peduli. 

Itu aja dulu untuk hari ini.

Oya aku mau tambahin foto di postingan ini, karena ternyata, lagi-lagi aku baru sadar, selain tulisan ini, foto itu menyimpan kenangan yang manis di masa depan, mungkin pas ambil foto itu sekarang aku biasa aja rasanya, tapi pas di liat beberapa tahun lagi, itu akan jadi lebih manis, kadang ada yang manis banget. So, yaaa, ini aku sekarang, sedang bersama anakku di sekolah, karena ada jadwal piket, aku beryukur untuk hari ini. Alhamdulillah.




Tuesday, May 04, 2021

Layangan Putus

Namanya Kendra, usianya 27 tahun saat dia menulis tentang pengalaman belasan tahun lalu yang diingatnya begitu saja.

Ini tentang Bapaknya. Bapak adalah guru SD yang terkenal dengan kewibawaan dan inovasinya. Sepertinya semua guru sekecamatan kenal dengan Bapak, Pak Eko.

Hari itu hari Sabtu, Kendra sedang asik belajar menggunakan komputer baru yang dibelikan Bapak, tak terhitung berapa kali dia pamer pada teman-teman nya soal betapa canggihnya komputer barunya. Dia bisa menggambar dengan aplikasi paint, bahkan main game The Sims yang dikenalnya dari sepepunya di Kota. Betapa modern pikirnya.

"Ini diketik ya, terus di print..." Perintah Bapak pada Kendra.

Kendra mengangguk, segera membuka aplikasi ms word dan bersiap mengetik isi kertas yang diberikan Bapak. Isinya hanya sebuah soal dan kunci jawaban.

•••

"Kendra, Rabu besok ada olimpiade Sains di Kecamatan, kamu ikut ya" Pinta Bu Supri, Guru kelas 6 di SDnya.

Kendra yang sebenarnya tidak begitu menyukai kompetisi mau tidak mau harus ikut, Kendra memang pintar, tapi terlalu pengecut, perutnya sakit, peluhnya bercucuran tiap menjelang lomba. Bagaimanapun Kendra adalah pengecut yang sedikit punya darah juang.

Lalu tibalah hari itu, seleksi tes tulis dilaluinya dengan mudah, skor sempurna. Ranking 1 dari sekian banyak peserta lain. 

"Teeet, Tut Wuri Handayani"

"100"

"Teeet, Usus Buntu atau apendisitis"

"100"

Hampir 10 pertanyaan babak rebutan hanya Kendra yang menjawab, Ia memberikan 1 kesempatan pada Dania, saingan sekaligus teman lombanya dari SD lain, hanya 1 kesempatan.

Hingga sampai ke pertanyaan terakhir yang di lontarkan oleh juri,

"Komnas HAM adalah singkatan dari..."

Semua hening. Tajam mata Kendra menelusuri siapakah yang akan menjawab 1 pertanyaan terakhir. Ia Optimistis sekaligus ragu, bagaimana mungkin dia menjawab semuanya, bukankan perlombaan ini menjadi tidak fair karna Kendra terlalu hebat.

Dia masih menunggu... Memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab 1 pertanyaan ini. Namun nafasnya sesak, dia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya memencet belnya.

"Teeet"

"Komisi Nasional Hak Asasi Manusia"

"Ya, 100" pekik juri.

Para pendamping dan hadirin yang ada bertepuk tangan dengan meriah, bahkan satu dua ada yang berdiri sambil geleng geleng mengagumi kecerdasan Kendra. Bu Supri, pendamping Kendra sibuk merencanakan keberangkatan mereka untuk seleksi berikutnya di tingkat Kabupaten.

Di antara hiruk pikuk itu, Kendra hanya diam. Matanya tak lepas dari Bapak, di antara semua yang hadir, hanya Bapak yang terlihat kecewa. Padahal putrinya, meskipun tidak satu sekolah, putrinya adalah pemenang pada olimpiade ini. Bukankan seharusnya Bapak yang paling bangga.

Setelah menerima piala dan nasi bungkus, Kendra berpamitan pada gurunya untuk pulang bersama Bapak. Di perjalanan, Kendra tetap diam, begitupun Bapak, tak ada ucapan selamat, tidak ada pelukan hangat. Di atas motor Supra X Bapak, Kendra memeluk piala kemenangan nya namun hatinya sesak. Bagaimana bisa kemenangan menjadi sangat menyakitkan.

Sejak hari itu hingga saat ini, dia tak pernah lupa bagaimana kemenangan yang diperoleh dengan cara yang curang begitu menyakiti harga dirinya. Ia dan Bapak tidak pernah membahas bagaimana bisa soal yang diketiknya 17 tahun lalu, adalah juga soal yang ditanyakan pada olimpiade yang dia ikuti. Membawanya pada kemenangan.

Kemenangan yang pahit.

Apakah Bapak sengaja? Kendra tidak pernah tau dan tidak berani bertanya. Tapi sungguh, inilah sebab ia tak pernah melakukan kecurangan sekecil apapun selama hidupnya kemudian. 

Bapak, terima kasih... 

Saat itu memang Kendra merasa seperti layangan putus, terbang tinggi lalu putus dan terombang ambing. Tapi layangan putus mengajarinya untuk memilih tali yang kuat dan jalan yang benar untuk bisa terbang tinggi, dan membanggakan.

Jadi Bapak, terima kasih.