Tuesday, May 04, 2021

Layangan Putus

Namanya Kendra, usianya 27 tahun saat dia menulis tentang pengalaman belasan tahun lalu yang diingatnya begitu saja.

Ini tentang Bapaknya. Bapak adalah guru SD yang terkenal dengan kewibawaan dan inovasinya. Sepertinya semua guru sekecamatan kenal dengan Bapak, Pak Eko.

Hari itu hari Sabtu, Kendra sedang asik belajar menggunakan komputer baru yang dibelikan Bapak, tak terhitung berapa kali dia pamer pada teman-teman nya soal betapa canggihnya komputer barunya. Dia bisa menggambar dengan aplikasi paint, bahkan main game The Sims yang dikenalnya dari sepepunya di Kota. Betapa modern pikirnya.

"Ini diketik ya, terus di print..." Perintah Bapak pada Kendra.

Kendra mengangguk, segera membuka aplikasi ms word dan bersiap mengetik isi kertas yang diberikan Bapak. Isinya hanya sebuah soal dan kunci jawaban.

•••

"Kendra, Rabu besok ada olimpiade Sains di Kecamatan, kamu ikut ya" Pinta Bu Supri, Guru kelas 6 di SDnya.

Kendra yang sebenarnya tidak begitu menyukai kompetisi mau tidak mau harus ikut, Kendra memang pintar, tapi terlalu pengecut, perutnya sakit, peluhnya bercucuran tiap menjelang lomba. Bagaimanapun Kendra adalah pengecut yang sedikit punya darah juang.

Lalu tibalah hari itu, seleksi tes tulis dilaluinya dengan mudah, skor sempurna. Ranking 1 dari sekian banyak peserta lain. 

"Teeet, Tut Wuri Handayani"

"100"

"Teeet, Usus Buntu atau apendisitis"

"100"

Hampir 10 pertanyaan babak rebutan hanya Kendra yang menjawab, Ia memberikan 1 kesempatan pada Dania, saingan sekaligus teman lombanya dari SD lain, hanya 1 kesempatan.

Hingga sampai ke pertanyaan terakhir yang di lontarkan oleh juri,

"Komnas HAM adalah singkatan dari..."

Semua hening. Tajam mata Kendra menelusuri siapakah yang akan menjawab 1 pertanyaan terakhir. Ia Optimistis sekaligus ragu, bagaimana mungkin dia menjawab semuanya, bukankan perlombaan ini menjadi tidak fair karna Kendra terlalu hebat.

Dia masih menunggu... Memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menjawab 1 pertanyaan ini. Namun nafasnya sesak, dia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya memencet belnya.

"Teeet"

"Komisi Nasional Hak Asasi Manusia"

"Ya, 100" pekik juri.

Para pendamping dan hadirin yang ada bertepuk tangan dengan meriah, bahkan satu dua ada yang berdiri sambil geleng geleng mengagumi kecerdasan Kendra. Bu Supri, pendamping Kendra sibuk merencanakan keberangkatan mereka untuk seleksi berikutnya di tingkat Kabupaten.

Di antara hiruk pikuk itu, Kendra hanya diam. Matanya tak lepas dari Bapak, di antara semua yang hadir, hanya Bapak yang terlihat kecewa. Padahal putrinya, meskipun tidak satu sekolah, putrinya adalah pemenang pada olimpiade ini. Bukankan seharusnya Bapak yang paling bangga.

Setelah menerima piala dan nasi bungkus, Kendra berpamitan pada gurunya untuk pulang bersama Bapak. Di perjalanan, Kendra tetap diam, begitupun Bapak, tak ada ucapan selamat, tidak ada pelukan hangat. Di atas motor Supra X Bapak, Kendra memeluk piala kemenangan nya namun hatinya sesak. Bagaimana bisa kemenangan menjadi sangat menyakitkan.

Sejak hari itu hingga saat ini, dia tak pernah lupa bagaimana kemenangan yang diperoleh dengan cara yang curang begitu menyakiti harga dirinya. Ia dan Bapak tidak pernah membahas bagaimana bisa soal yang diketiknya 17 tahun lalu, adalah juga soal yang ditanyakan pada olimpiade yang dia ikuti. Membawanya pada kemenangan.

Kemenangan yang pahit.

Apakah Bapak sengaja? Kendra tidak pernah tau dan tidak berani bertanya. Tapi sungguh, inilah sebab ia tak pernah melakukan kecurangan sekecil apapun selama hidupnya kemudian. 

Bapak, terima kasih... 

Saat itu memang Kendra merasa seperti layangan putus, terbang tinggi lalu putus dan terombang ambing. Tapi layangan putus mengajarinya untuk memilih tali yang kuat dan jalan yang benar untuk bisa terbang tinggi, dan membanggakan.

Jadi Bapak, terima kasih.

No comments: