Thursday, June 03, 2021

Idul Fitri 1442H

Ini cerita tentang hari lebaran tahun ini, lebaran ke-4 setelah aku menikah.

Kalau belum tau, lebaran pertama setelah menikah aku LDR dengan suamiku, lebaran kedua tidak LDR dan kami mudik ke Jawa Timur, lebaran ketiga aku LDR lagi, tapi aku di Prabumulih, rumah iparku (tahun pertama pandemic, PSBB), dan ini adalah lebaran ke-empat, LDR lagi… berhubung LDR, jadi aku diantar pulang ke kampung halaman di Purworejo.

Aisha saat lebaran sudah berusia 2th lebih, namun aku belum berhasil mendidik Aish untuk bersosialisasi dengan baik, kalau sudah ketemu keramaian, dia panik dan minta pergi, dan itulah yang terjadi di hari lebaran.

Aku punya ekspektasi, karena 2 tahun tidak menikmati kumpul lebaran, aku harap tahun ini bisa ikutan kumpul, merasakan lagi hikmatnya hari raya bersama keluarga besar Bapakku. Untuk mengantisipasi Aisha panik, aku memilih tidak ikut ke lapangan untuk sholat Ied, lagi pula ini masih situasi pandemi,

Namun yang terjadi adalah…

Tentu saja Aisha tetep panik, saat rombongan keluarga Bapak mulai berdatangan di rumah Embah, Aisha panik dan manggilin aku, ngajak pergi… padahal aku sudah siapkan datang duluan supaya dia sempat beradaptasi sama lingkungannya, ternyata gagal.

Jadi hari pertama lebaran, saat semua kumpul-kumpul pada makan dan foto, aku ngajak anakku keliling naik motor, berharap paniknya segera mereda dan segera bisa ikut bergabung dengan yang lain. Sayangnya, dua kali coba merayu kembali, dia tetep masih gak mau, rayuan ketiga gagal aku ikut ngambek dan gak mau ikut kumpul, jadi aku pulang duluan…

Aku ikut marah. Jadi gak cuma Aisha yang tantrum hari itu, aku juga ikutan.

Kok gak dewasa banget ya?

Ya itu, ternyata aku belum siap lebaran sendirian, aku mengasuh sendirian, menghibur sendirian. Kemana semua orang ya? kenapa dalam hiruk pikuk lebaran ini aku merasa hanya aku yang capek ngurus anak tanpa bantuan.

Jadi, lebaran tahun ini yang membekas dalam hati adalah kesedihan dan kesepian. Sampai-sampai aku berharap lebaran cepat berlalu, aku mau hari biasa aja, aku mau pulang Yukum, aku mau kalau sepi sepi sekalian, jangan merasa kesepian padahal ramai orang.

Akhirnya lebaran pertama kuisi dengan nonton konsernya Didi Kempot di TV.

Tuesday, June 01, 2021

Gila Kerja

Hai masa depan, dua hari ini aku kepikiran untuk cerita tentang apa yang aku rasain soal kerjaan. Hal ini begitu menganggu pikiran karena perasaan begitu suka sama “Kerja” malah membuat aku su’udzon jangan-jangan gak lama lagi aku bakal dikecewain sama apa yang aku kerjain sehingga yang terjadi aku malah sakit hati dan berhenti menyukai pekerjaanku.

Awalnya, aku sering banget bertanya tentang sepadan gak ya gaji yang aku terima dengan semua kerja yang aku lakuin. Karena ketika aku kerja, aku meninggalkan Aish di rumah, waktuku yang seharusnya kugunakan untuk merawat Aish jadi teralihkan untuk orang lain, apakah bayarannya sepadan? Untuk waktu yang lama bahkan hingga kini aku merasa enggak sepadan, gak pernah sepadan. Tapi bedanya, kalau dulu fakta itu membuat aku tidak semangat kerja sehingga mager kalau disuruh kerja di luar jam, namun kini yang terjadi adalah…

I do a lot of working list. Aku ngerjain semua itu dengan happy.

Aku melihat diri Ibu Titin dalam diriku. Workholic. Workholic tapi ikhlas worknya, kerja bukan hanya demi uang. Aku gak tau apa motivasi Bu Titin, tapi motivasiku adalah perasaan keren dan awesome ketika kerjaan selesai, ngerasa diri naik satu level, Serem gak?

Serem, karena jelas yang merasakan itu hanyalah aku, merasakan happy dan semangat datang sekolah, merasa keren dan pengen foto tiap pakai seragam, mungkin hanya aku. Aku serem ngebayangin aku doang yang excited, padahal semua orang biasa aja. Aku takut semangat kerja yang aku bawa malah bikin orang lain jadi menjauh dan mengira aku pengen naik pangkat, atau cari muka, ih padahal mah enggak, aku emang lagi diliputi rasa suka aja sama kerja… itu doang.

Tapi mungkin setelah semua euphoria ini berlalu aku akan kembali ke duniaku yang lama, kerja ya kerja… biasa aja… mungkin aku akan excited dengan dunia yang lain.

Tapi seandainya suka dan semangat kerja bisa bikin aku tambah kaya dan berkah, aku mah gak mau melepas perasaan ini. mari bertahan selamanya.

(Berawal dari, "Nip aku mau bikin id card ya")