Hai masa depan, dua hari ini aku kepikiran untuk cerita tentang apa yang aku rasain soal kerjaan. Hal ini begitu menganggu pikiran karena perasaan begitu suka sama “Kerja” malah membuat aku su’udzon jangan-jangan gak lama lagi aku bakal dikecewain sama apa yang aku kerjain sehingga yang terjadi aku malah sakit hati dan berhenti menyukai pekerjaanku.
Awalnya, aku sering banget bertanya tentang sepadan gak ya
gaji yang aku terima dengan semua kerja yang aku lakuin. Karena ketika aku
kerja, aku meninggalkan Aish di rumah, waktuku yang seharusnya kugunakan untuk
merawat Aish jadi teralihkan untuk orang lain, apakah bayarannya sepadan? Untuk
waktu yang lama bahkan hingga kini aku merasa enggak sepadan, gak pernah sepadan. Tapi bedanya,
kalau dulu fakta itu membuat aku tidak semangat kerja sehingga mager kalau
disuruh kerja di luar jam, namun kini yang terjadi adalah…
I do a lot of working list. Aku ngerjain semua itu dengan
happy.
Aku melihat diri Ibu Titin dalam diriku. Workholic. Workholic
tapi ikhlas worknya, kerja bukan hanya demi uang. Aku gak tau apa motivasi Bu
Titin, tapi motivasiku adalah perasaan keren dan awesome ketika kerjaan
selesai, ngerasa diri naik satu level, Serem gak?
Serem, karena jelas yang merasakan itu hanyalah aku, merasakan
happy dan semangat datang sekolah, merasa keren dan pengen foto tiap pakai
seragam, mungkin hanya aku. Aku serem ngebayangin aku doang yang excited,
padahal semua orang biasa aja. Aku takut semangat kerja yang aku bawa malah
bikin orang lain jadi menjauh dan mengira aku pengen naik pangkat, atau cari
muka, ih padahal mah enggak, aku emang lagi diliputi rasa suka aja sama kerja…
itu doang.
Tapi mungkin setelah semua euphoria ini berlalu aku akan
kembali ke duniaku yang lama, kerja ya kerja… biasa aja… mungkin aku akan
excited dengan dunia yang lain.
Tapi seandainya suka dan semangat kerja bisa bikin aku tambah kaya dan berkah, aku mah gak mau melepas perasaan ini. mari bertahan selamanya.
(Berawal dari, "Nip aku mau bikin id card ya")

No comments:
Post a Comment