Wednesday, March 26, 2014

Menyoal Kembali Biaya UKT

Biaya kuliah mahal. Itu bukan mitos dan gak perlu membesarkan hati karena kami sudah mengalami. Awal bulan masa kuliah angkatan 2013, mungkin ada beberapa mahasiswa baru yang kaget dengan aturan UKT. Termasuk saya. 

Dari coretan tadi malam, saya kaget lagi. Ternyata tidak main main mahalnya. Saya ambil sample mahasiswa yang UKTnya Rp. 3,900,000 per semester. Dalam satu semester ambil 24 SKS, berarti 1 SKS nya Rp. 162,500. Misal tiap mata kuliahnya 3 SKS, dan dalam 1 semester ada 16 kali pertemuan. Maka tiap pertemuan biaya kuliahnya adalah Rp. 30,468,75.

Oke kalau dalam sehari ketemu 1 mata kuliah, kalau sehari 3 mata kuliah dan masing masing 3 SKS, maka sehari kuliah habis duit Rp. 91,406,25. Sehari loh itu. Ini hitungan mentah semisal uangnya cuma buat mendanai proses belajar mengajar dikelas tapi.

Namun, bagi saya, itu mahal. Apalagi kalau ingat dikelas kita masih sering ngantuk dan kurang fokus. Malah kalau dosen gak dateng seneng. Bisa jadi motivasi ini. Bayangkan, bapak ibu dirumah yang mengusahakan biaya ini untuk kuliah “anda-anda” semua. Belum termasuk ongkos, kost, makan dan jajan ya. 

Rupanya anggaran kita mahal sob, itu hitungan UKT 3,9 juta ya. Itung sendiri deh yang dapet UKT lebih dari itu. good luck kuliahnya, semoga berkah. 


Thursday, March 13, 2014

Aduh, Sakit!

Bermula di hari rabu kemarin. Usai mengikuti kuliah biologi sel, betis kiriku tiba tiba linu. Aku kira itu hanya kram biasa. Lalu akupun berjalan menuju dekanat untuk mengurus transkrip yang dari kemarin belum ketemu. Tepat disamping mushola, betisku kram lagi. Santai, aku duduk dibawah pohon. Menunggu linunya reda.

Setelah urusanku selesai, akupun pulang kekostan. Perasaanku tidak tenang. Kakiku semakin linu jika digerakkan. Selepas isya aku berbaring, dan mencoba tidur. Seperti biasa, aku terbangun ditengah malam, dan rupanya rasa linu di kakiku belum juga sembuh. Malah kaki kananku juga mulai terasa linunya.

Sempat beberapa kali aku wow karena saat digerakkan rasanya semakin wow. Aku mencoba tidur tanpa bergerak. Berhasil.

Bangun tidur kakiku masih linu, dua duanya. Pagi ini jam 06.45 aku berangkat menuju kampusku, dan sampai siang ini rasa linunya... masih. Ibu, aku sakit.

Tuesday, March 11, 2014

Batu Apung (Teknokra)

Dulu sekali, saat gue menganggap menang cuma sekedar dapet juara satu dikelas, Puas dan bahagia akan sesederhana itu. 

Siapa yang pernah tau duluan takdir yang digariskan dalam hidupnya akan seperti apa, bored! Semua orang sibuk mengeluh, mengumpat. Gue juga. Gue tidak menyangka, setelah beranjak dari SD, gue akan seperti manusia pada umumnya. Diperbudak oleh persepsi yang umum. Bored! 

Apakah hidup selalu "coba dulu aku begitu... ?" 

Hanya gue kah yang punya sesi masa menyesal tiap waktu berlalu. Haruskah gue benar benar menjadi mereka, perlukah gue melihat langit dengan warna yang sama. 

Gue ridha, ridha pangastuti. Sejak kecil sudah cokelat, tidak perlu susah mencari, gue akan selalu paling tinggi. Kemiripan gue dengan nadya hutagalung membuat gue amat terkenal di alam mimpi. Gue terlahir dalam keadaan sempurna. Meski dulu ibu pernah blooding saat mengandung, Maha sempurna Allah... Gue tetap berjasad lengkap. Tapi hidung mancung bapak ibu tidak turun ke hidung gue. 

Masa kecil yang menyenangkan. Gue bersekolah sesuai jenjang pendidikan pada umumnya, TK, SD, MTs, SMA. Lalu kuliah. Lingkungan sekolah banyak membuat perubahan dalam cara berpikir dan setiap tindakan yang gue ambil. Semakin biasa sekolah gue dimata orang lain, gue akan pesimis dan malu malu menyebutkan "asal sekolah". 

Saat kakak perempuan gue berumur 4 tahun , gue dilahirkan. Saat gue berumur 3 tahun, adik laki laki yang sekarang sudah bujang dilahirkan. Kami bertiga akrab, mereka lah yang terlalu sering membuat gue jatuh hati dan pingin pulang tiap pekan. 

Ibu dan bapak adalah seorang guru. Mbah kakung juga guru. Gue kuliah keguruan. Biologi. 

Secara sangat sadar, pada saat gue memutuskan mengambil studi keguruan gue terbayang seorang wanita yang punya pembawaan riang dan mencintai alam semesta, mengajari muridnya melihat warna bunga yang indah. 

Ya, Begitulah.

Wednesday, March 05, 2014

Bukit Berbunga

Ada banyak hal didunia ini yang selalu membuat kita berhenti sejenak untuk sekedar berdiri, terpaku dan terpukau. Bagi perempuan berkulit agak gelap yang kuamati sedari tadi, mungkin batang pohon pulai yang tegak berdiri dibalik jendela itu yang paling menarik hatinya. Sesekali dia tersenyum pada orang yang kebetulan lewat, senyumnya tenang, menandakan dia baik baik saja.

Tangan kirinya memainkan ujung jilbab warna merah hati, pandangan nya tidak bergeser. Masih disitu. Sementara aku, tidak tertarik pada hal apapun, selain perempuan dibalik jendela, aku hanya menatap ruang kosong didalam hatiku, harus ada. Dia harus kembalai kesini, menyelesaikan cerita panjang yang sering kutuliskan. 

Monday, March 03, 2014

Bungsu

Mereka mungkin lupa, atau bahkan tidak tau. Ditempat ia duduk disana sendiri, sambil melamunkan banyak hal, ada lebih banyak suara. Meski sendirian, dia merasa sumpek dengan refleksi kekhawatirannya. Berkali kali dia menatap kedalam buku tebal bersampul biru, berkali kali pula dia gagal menemukan semangat itu. Diejanya satu persatu huruf bercetak tebal, semakin berusaha dia mengingat, semakin sulit baginya bergerak, dia terkurung dalam lamunan, dalam khayalan.