Tuesday, March 11, 2014

Batu Apung (Teknokra)

Dulu sekali, saat gue menganggap menang cuma sekedar dapet juara satu dikelas, Puas dan bahagia akan sesederhana itu. 

Siapa yang pernah tau duluan takdir yang digariskan dalam hidupnya akan seperti apa, bored! Semua orang sibuk mengeluh, mengumpat. Gue juga. Gue tidak menyangka, setelah beranjak dari SD, gue akan seperti manusia pada umumnya. Diperbudak oleh persepsi yang umum. Bored! 

Apakah hidup selalu "coba dulu aku begitu... ?" 

Hanya gue kah yang punya sesi masa menyesal tiap waktu berlalu. Haruskah gue benar benar menjadi mereka, perlukah gue melihat langit dengan warna yang sama. 

Gue ridha, ridha pangastuti. Sejak kecil sudah cokelat, tidak perlu susah mencari, gue akan selalu paling tinggi. Kemiripan gue dengan nadya hutagalung membuat gue amat terkenal di alam mimpi. Gue terlahir dalam keadaan sempurna. Meski dulu ibu pernah blooding saat mengandung, Maha sempurna Allah... Gue tetap berjasad lengkap. Tapi hidung mancung bapak ibu tidak turun ke hidung gue. 

Masa kecil yang menyenangkan. Gue bersekolah sesuai jenjang pendidikan pada umumnya, TK, SD, MTs, SMA. Lalu kuliah. Lingkungan sekolah banyak membuat perubahan dalam cara berpikir dan setiap tindakan yang gue ambil. Semakin biasa sekolah gue dimata orang lain, gue akan pesimis dan malu malu menyebutkan "asal sekolah". 

Saat kakak perempuan gue berumur 4 tahun , gue dilahirkan. Saat gue berumur 3 tahun, adik laki laki yang sekarang sudah bujang dilahirkan. Kami bertiga akrab, mereka lah yang terlalu sering membuat gue jatuh hati dan pingin pulang tiap pekan. 

Ibu dan bapak adalah seorang guru. Mbah kakung juga guru. Gue kuliah keguruan. Biologi. 

Secara sangat sadar, pada saat gue memutuskan mengambil studi keguruan gue terbayang seorang wanita yang punya pembawaan riang dan mencintai alam semesta, mengajari muridnya melihat warna bunga yang indah. 

Ya, Begitulah.