Dulu sekali, saat gue menganggap menang cuma sekedar dapet
juara satu dikelas, Puas dan bahagia akan sesederhana itu.
Siapa yang pernah tau duluan takdir yang digariskan dalam
hidupnya akan seperti apa, bored! Semua orang sibuk mengeluh, mengumpat. Gue
juga. Gue tidak menyangka, setelah beranjak dari SD, gue akan seperti manusia
pada umumnya. Diperbudak oleh persepsi yang umum. Bored!
Apakah hidup selalu "coba dulu aku begitu... ?"
Hanya gue kah yang punya sesi masa menyesal tiap waktu berlalu. Haruskah gue
benar benar menjadi mereka, perlukah gue melihat langit dengan warna yang sama.
Gue ridha, ridha pangastuti. Sejak kecil sudah cokelat,
tidak perlu susah mencari, gue akan selalu paling tinggi. Kemiripan gue dengan
nadya hutagalung membuat gue amat terkenal di alam mimpi. Gue terlahir dalam
keadaan sempurna. Meski dulu ibu pernah blooding saat mengandung, Maha sempurna
Allah... Gue tetap berjasad lengkap. Tapi hidung mancung bapak ibu tidak turun
ke hidung gue.
Masa kecil yang menyenangkan. Gue bersekolah sesuai jenjang
pendidikan pada umumnya, TK, SD, MTs, SMA. Lalu kuliah. Lingkungan sekolah
banyak membuat perubahan dalam cara berpikir dan setiap tindakan yang gue
ambil. Semakin biasa sekolah gue dimata orang lain, gue akan pesimis dan malu
malu menyebutkan "asal sekolah".
Saat kakak perempuan gue berumur 4 tahun , gue dilahirkan.
Saat gue berumur 3 tahun, adik laki laki yang sekarang sudah bujang dilahirkan.
Kami bertiga akrab, mereka lah yang terlalu sering membuat gue jatuh hati dan
pingin pulang tiap pekan.
Ibu dan bapak adalah seorang guru. Mbah kakung juga guru.
Gue kuliah keguruan. Biologi.
Secara sangat sadar, pada saat gue memutuskan
mengambil studi keguruan gue terbayang seorang wanita yang punya pembawaan
riang dan mencintai alam semesta, mengajari muridnya melihat warna bunga yang
indah.
Ya, Begitulah.