Sunday, October 09, 2016

Kesepian

Sering kan lo di tanya sama ibu, hari minggu gak pulang ada kegiatan apa di kampus? 

Yang asli anak rantau yang gak di jatah pulang tiap minggu sama orang tuanya mungkin punya cerita sedih yang lain. 

Kalau anak anak semi rantau kayak gw, itu pertanyaan yang gampang gampang susah buat dijawab. Kalo beneran lagi ada kegiatan, ya jawablah pake judul kegiatannya. Kalo enggak.. misal karna cuma mager mau pulang, pengen main, atau sok sibuk, itu agak lebih susah ngalesannya.

Kayak kemaren jumat, orang-orang normal senang weekend leleyehan di rumah, gw malah sibuk nyari event murah yang bisa gw hadiri. Semangat gw yang menggebu gebu untuk show up bener bener kelewat batas kayaknya. 

Sabtu pagi pagi, adek ghaisan pergi rantau, ibu sendirian lagi di rumah. Karna bapak lagi di bogor, luthfi juga berangkat pagi pulang larut, mungkin ibu kesepian. Sayangnya, gw gak cukup peka untuk menyadari bahwa pernyataan ibu yang gak secara langsung itu sebenernya minta gw di rumah aja.

Baru kerasa sekarang, sejak semalem pas pulang nyibukin diri kesana kesini, malam maksa kawan diajak nongkrong tapi balik jam 8, badan yang gw kira cuma sekedar kedinginan biasa mulai kerasa banget pas udah rebahan di kasur. Mati listrik, kedinginan mau mandi, terus pusing. 

Itu bukan pusing biasa, itu pusing kepikiran macam macam. Semaleman tidur gak tenang, perut melilit, badan kedinginan, parahnya... gw ternyata kesepian. Dan dalam kesepian kesepian parah itu, gw masih kepikiran. kesepian yang seperti ini bukan kesepian yang sembuh ketika ditontonin film, nyanyi nyanyi, chating, atau olahraga. Btw, gw gak kuat lah olahraga semalem. Dan faktanya, gw olah raga bukan sekedar biar 50kg, gw olahraga supaya energi buat mikirin yang macem macem itu habis. sekaligus biar gw gak ada waktu buat kepikiran.

Jam 7an pagi ini Bapak nelpon, mungkin disana hari minggu juga waktunya leyeh leyeh. itu semua makin menguatkan prasangka bahwa gw libur gak pulang itu kesalahan besar. Sebesar penderitaan yang sekarang gw rasa rasakan, sendirian.

Namun, gw masih menduga ini semua cuma karna gw kelaperan, lalu gw pergi nyari makan. Warung warung tutup, gak ada makanan enak. Gw beli bubur ayam, habis setengah. Gw buang, beberesan, mandi. Terus gw nangis.

Ternyata kamar dan badan bersih bukan jawaban. Gw beneran sakit. Sakit kayak yang orang orang rasain. Secara drama gw ngakunya sakit karna banyak pikiran, karna ada yang gw pikirin berhari hari gak kelar, sampai detik ini, mungkin sampai besok. 

Beneran, gw sakit kayak orang orang, badan lemes, kepala sedikit pusing, perut juga sakit, dan kesepian. 

Mungkin aturan bener gw pulang kemaren. Nemenin ibu di rumah. Tapi gw gak pulang ke rumah karena gw takut di rumah gw bawa pikiran disini. Gw gak mau memperluas kenangan kepikiran di mana mana. Sampai gw selesai dengan ini, gw gak akan kemana mana.

Mungkin aku salah, mungkin aku berubah. Mungkin ini bukan apa apa. Tapi aku nangis lagi, membayangkan ibu yang lagi kepasar di anter lupi karena mbaknya yang gak tau diri ini sok sibuk padahal gak ngapa ngapain. 

Nyatanya emang bener apa yang di bilang orang orang, kalau mau temenan baik mah sama siapa aja. Karna kita gak pernah tau temen yang mana yang masih bisa dan mau di ajak main bareng kapan kapan.

Monday, September 19, 2016

maflashlight

Sedangkan hidup ini adalah rangkain hari yang padanya ada perasaan yang berubah ubah. Meskipun pernah mati matian mengendalikan diri, atau membuatnya marah sesekali, atau bahkan lama... akhirnya padaku jatuh juga rasa ini. 

Sejak entah kapan, setelah aku jarang mau merasa-rasakan kerinduan pada siapapun, lalu sekarang sejak kemarin apalagi semalam, aku merindukan seseorang yang padanya aku selipkan doa pada sujudku yang agak panjang, settt.

Karena tidak tahan lagi, aku mengalihkannya dengan berolah raga, “30 Mins Aerobic Dance Workout - Bipasha Basu Break free Full Routine - Full Body Workout”. Supaya aku berkeringat, lalu ada bahan tulisan.

Kepada abang yang entah keinget aku atau tidak, yang kutau sedang berusaha menafkahi diri, sehat terus ya!

Sunday, September 18, 2016

Being young, it’s beautiful!

Dulu sekali, ketika aku masih balita, ibu kerap mendongengkan cerita tentang kisah para Rasul. Kadang juga tentang timun emas, malin kundang, si kancil, dan cerita penuh hikmah lainnya. Dan mungkin sejak itulah, aku mulai tertarik dengan cerita-cerita. Dengan hikmah-hikmah yang kudapat dari cerita orang lain.

Kemudian, saat SD aku kenal dengan novel jadul yang ada di perpustakaan sekolah, koleksi buku princess milik tetangga, film Sherina & Harry Potter, dibelikan majalah bulanan, dan senang di foto.

Ketika MTs barulah aku mulai menulis, banyak puisi lalu cerita yang aku karang sesuka hati. Kadang tokoh tokohnya nyata yang aku andaikan menjadi apa, atau mimpi mimpi yang aku lanjutkan sendiri. 

Beranjak SMA, aku terlalu senang menyewa kaset di ultra disk, membaca majalah horizon, sesekali meminjam novel kak ita, dan kemudian bertemu dengan masa masa alay. Masa masa yang tidak usah di bahas lagi.

Namun sayang, hingga hari ini, tak satupun karya yang aku hasilkan dari kesukaanku pada banyak hal itu. Padahal, kalau di rasa-rasa, ya itukan passionku. Andai aku tekun melakukan hal yang rasanya ini passion, bisa jadi lahirlah karya-karya hebat dari seseorang yang sesederhana aku.

Tekuni dari sekarang, ya?

Saturday, September 17, 2016

I Won't Ever be Alone

Hari berganti, lalu menyisakan cerita yang jika indah ku sebut-sebut sebagai “kenangan”, pada beberapa kenangan yang teramat indah aku lebih keras mengendalikan diri untuk pasrah menerima kenyataan bahwa itu telah berlalu. Mungkin orang lain sudah lupa, atau sengaja melupakan, atau memang tidak cukup indah untuk dikenang baginya.

Sementara kita sendiri susah payah mengendalikan perasaan, khusus untuk kenangan kenangan yang kita jaga agar tidak ada orang yang tahu bahwa kita sebahagia itu. Kita kenal sekali bagaimana air muka yang berubah tegang saat menutup hari, gerakan yang di lambat lambatkan dan perasaan yang di tekan dalam dalam. Bahkan, pada calon kenangan yang kita tahu benar itu teramat singkat, dari awal sudah dibuat yakin bahwa semuanya akan sudah, jadi sudah sudahlah jangan buncah.

Di lain hari, aku suka diam saja untuk melupakan kenangan-kenagan itu. Menjaganya agar tetap menjadi rahasia. Dalam desis yang panjang dan tidak terdengar, aku berterimakasih kepada segalanya. Kepada hari hari yang sudah kita tinggalkan untuk menyambut kenangan yang lain, mungkin dengan orang orang yang sama, atau orang baru yang kita belum tau siapa.

Friday, June 10, 2016

Romantisme Sejarah

Salah satu rukun iman adalah iman kepada qodho dan qodhar Allah, mempercayai bahwa takdir yang Allah tetapkan kepada kita adalah semata mata bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Mau itu sulit ataukah mudah, pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Yang menjadi pelajaran, pengalaman yang berharga untuk hidup kita. Sementara tujuan kita dihidupkan adalah untuk beribadah kepada Allah, maka segala macam hal yang terjadi dalam hidup ini harus diniatkan untuk itu. Bila tidak ingin sia sia waktu yang akan berlalu.
 
#bijak

Alhamdulillah, dini hari tadi mendapat kabar bahwa informasi lokasi penempatan KKN-KT Unila tahun 2016 sudah keluar di kkn.fkip.unila.ac.id tak ayal, aku langsung saja login dan mencari lokasi aku ditempatkan. Alhamdulillah... Padang Ratu. Ketika melihat dua kata itu di layar handphone, yang ada dalam pikiranku hanya satu. Itu disebelah mananya banjit. Kemudian bbm ibu mengabarkan lokasi KKNku dimana, berharap ada saudara atau kenalan ibu yang tinggal tak jauh dari sana. Dan tentu update pm agar ada yang komentar, Alhamdulillah beberapa ada yang tau lokasi itu dimana, dan memberikan informasi kondisi di lapangan, banyak pesan “Jaga diri ya...", Pasti.

Aku sangat positive menerima takdir ini, tidak ada rasa kuatir sungguhan yang aku rasakan, tidak iri dengan lokasi teman teman, tidak juga iri dengan kawan sekelompok teman teman. Entah apa yang membuat aku yakin betul bahwa ini pasti sesuatu yang sangat menyenangkan. Dimanapun itu, bila mana di desa... aku 22 tahun hidup di desa, kalau dengan teman teman aku tidak kenal, yah... siapa aku. Aku juga bukan mahasiswa terkenal, pasti mereka juga kesulitan membayangkan aku seperti apa, belum lagi perangai ku yang suka asal asalan. Soal kondisi sosial masyarakat...

Ada yang menarik, ada yang membuat aku takjub dengan diriku sendiri. 22 tahun hidup di provinsi lampung, di Negara Indonesia, membuat aku mencintai daerah ini begitu dalam. Rasa cintaku kepada tanah air, dan provinsi ini membuat aku merasa bahwa ada jiwa “ke-Pancasilaan” dalam diriku, aku meyakini bahwa di manapun saudara saudaraku sebangsa dan setanah air berada, aku akan menjunjung tinggi persaudaraan tanpa melihat ras, suku, agama, karena islam mengajarkan kita untuk saling menjaga sesama muslim dan berbuat baik kepada non muslim. Dan pancasila memegang teguh dasar kemanusiaan itu. 

Semoga, 40 hari nanti kami bisa mengabdi dengan sebaik baiknya. Bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat, mengenalkan kearifan lokal kepada dunia, dan tentu memberikan kontribusi untuk kemajuan daerah lampung dan negara Indonesia. Terngiang ngiang pidato pak Karno di telingaku yang seolah menyemangati kami yang dititahkan untuk meneruskan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa, romantis sekali.