Membunuh sepi bisa dengan menulis, menulis apa yang
dirasakan saat kesepian. Tanpa memperhitungkan lagi apakah akan menjadi bagus,
menjadi spesial, menjadi bermakna, atau sekedar menulis yang tidak pernah selesai.
Tidak seperti orang lain yang kerap kali memperhitungkan semua tulisannya, menakar
betul tiap kalimat yang dirangkai, bahasa yang dipakai, aku menulis dengan
tanpa pertimbangan apa apa.
Makanya tulisanku jelek, atau jahat... dan membosankan.
Seperti malam kemarin atau banyak malam yang telah berlalu,
aku merasakan perasaan kesepian yang sama. Aku merasakan kepalaku berat,
perutku kembung, dan agak sedikit tertekan. aku kesepian sekali, aku benar
benar merasa kesepian. Seperti di scane film, aku duduk bersandar pada tembok,
menatap tembok lain di sebrang, membayangkan macam macam, merasakan kegelisahan,
lalu tak lama aku akan pindah posisi, merasakan kesepian dari sudut kamar yang
lain.
Aku menulis untuk mengusir sepiku, sepi yang ada secara
lahiriyah. Bukan seperti orang orang yang merasakan sepi di keramaian. Aku benar
benar sendiri, anehnya aku merasa menunggu sesuatu. Tapi aku yakin betul tak
ada apa atau siapa yang aku tunggu. Aku tidak menunggu lapar, aku tidak
menunggu pipis, aku tidak menunggu pintu diketuk, pun balasan.
Sepi ini... membuatku tersinggung.
No comments:
Post a Comment