Thursday, December 19, 2013

Today's History

Aku akan bercerita tentang betapa “miraculous”nya sepanjang hari ini. Dimulai dari mood buruk semalam yang menjadi penghambat hampir seluruh aktivitas “keren” ku. Mood itu emang gak serta merta dateng gitu aja, kemarin sore ada perempuan ababil yang uji nyali, dan nyasar. Tapi dari sanalah perempuan itu menyadari bahwa dia punya “perasaan” yang lumayan kuat , (karena nyasarnya ngebuat dia balik ke tempat semula alias muter). Paham ?

Jadi mood buruk itu berasal dari kegagalannya menemukan tempat tujuan, artinya indranya gak berfungsi dengan baik. Mungkin terlalu bebal. Karena mood buruk, tugas biologi dasar yang wajib dikumpulkan esok hari tepat jam 10.00 terbengkalai. Padahal tugasnya wah banget. Salah satu soalnya menanyakan tentang proses fotosintesis. Dan , retell “the brain” yang mestinya diujikan hari rabu, dipending karena gak kebagian waktu. Dan dijadwalkan esok hari jam 13.00.

Pada akhirnya, malam yang mestinya digunakan untuk mengerjakan tugas malah dipakai untuk nonton 3 film yang sebenernya gak bagus bagus amat. Tengah melem baru tidur, bangun kesiangan dan jeng jeng jeng, untuk menyelesaikan tugas itu aku butuh waktu sampai jam 10.15, sampai kelas aku telat ngumpul. Temen temen udah pulang, dan aku kudu ngumpul diruang “DOSEN” sendirian. Pintu dosennya ditutup, gak ada dong? Mana berani nanya lagi dimana, kan baru kenal, dan dosen itu pasti gak tau namaku, la siapa aku, Bah...

Segala keribetan, dan kedegdegan yang kualami membuatku hampir putus asa, aku udah mau nangis. tapi di saat aku hampir putus asa itu, ajaib sekali karena tiba tiba saja ada ibu ibu yang ngebuka pintu ruang dosen itu, walhasil aku bisa mengumpulkan tugas penting itu setengah jam lebih setelah waktu wajib ngumpul. How amazing ?

Setelah ngumpul tugas, temen temen sewot karena aku gak dateng dateng untuk ngebuat miniatur tempat parkir, mereka sebel, tapi aku bisa menghadapi, retell “ALHAMDULILLAH” berjalan lancar (aku inget kata mbak hanif, “kalo kita nyaman dengan dosennya, kita bakal bebas jadi diri sendiri”) aku ngerti banget maksudnya :3

Dan sore ini .... aku menemui orang orang yang jauh diatasku. Mereka cantik dan menenangkan sekali. Dan ternyata, berkumpul dengan mereka menenangkan ya, ajaib. Allah maha sempurna dan Dia menuntunku dengan indah sekali hari ini.


I Like Manga


Hello Good Bye




























Sore ini memang tidak seperti sore senin kemarin. Aku bisa melihatnya dengan jelas, tidak tampak lagi olehku mata yang berkaca kaca dan napas yang sering dipanjang panjangkan. Karena aku selalu duduk disini, sejak dia juga selalu duduk disana. Diposisi aku selalu bisa melihat gerakannya dengan begitu jelas. Ini sudah kesekian kalinya aku mencoba untuk mengambil jarak yang lebih dekat, pernah. Pernah beberapa kali dan salah satunya tepat disore senin kemarin, aku hampir ada disana. Dijarak paling dekat, hingga aku bisa mendengar jarum jam tangannya berdetak. 

Dan baru aku menyadari, ternyata dia bisa merasakan kehadiranku. Selama ini aku mengira dia hanya duduk disini tanpa menyadari apa apa yang ada disekitarnya. Duduk dengan selembar kertas dan kembali pulang dengan kertas penuh coretan, untuk dibuang ke tongsampah disamping pintu keluar. Dan seperti biasa, aku akan menjadi yang terakhir keluar dan memungut kertas itu. aku sampai hafal, kertas itu selalu bertuliskan, namaku.

Aku tidak ge-er, aku kasihan. Karena dia selalu ragu ragu. Dan sore ini, aku mendapatkan keputusannya. Aku membuntutinya sampai dia dihalaman parkir, tapi sore ini hujan teramat lebat. Dan kulihat dia duduk disana, sambil matanya mencari cari-ku. Aku agak gugup, karena baru pertamakalinya dia begitu, baru pertama kalinya aku akan disapanya, atau dipanggilnya?

Matanya berhasil melihat dimana aku berada, walau sore ini hujan, tapi disini aku bisa jelas melihatnya melambaikan tangan dan pesan tersirat dari matanya yang cerah. Selamat tinggal “putus asa”.

Wednesday, December 11, 2013

Ridha Pangastuti


Namaku Ridha Pangastuti. Dipertemuan pertama, sebagian besar orang akan tanya dua kali “pangas atau panges”. Waktu kecil aku risih ditanya itu, dan aku merasa normal ketika orang salah nulis jadi Ridha Pangestuti. Karena ya, itu lebih enak kedengerannya. Waktu aku kecil, aku selalu gugup pada detik detik dimana giliran namaku disebut pertamakali oleh guru. Hanya satu dua guru yang berhasil melafalkan namaku dengan benar. Dan sebagian besar lainnya akan mengira namaku adalah nama anak laki laki, “ridho pangestu”. Dulu sih aku malu ketika temen temen menetawai hal sepele ini, tapi beranjak besar badanku aku merasa punya nyali untuk ikut menertawai kekeliruan itu. 

Kata ibu, arti namaku bagus sekali. Ridha artinya ridho Allah, dan pangastuti artinya kemenangan. Jadi Ridha Pangastuti adalah “kemenangan yang diridhoi Allah”, atau “Allah Ridho aku menang”.

Aku lahir hari rabu, 15 juni 1994. Aku disekolahkan oleh keduaorangtuaku ketika aku berumur 5 tahun. Di TK Pertiwi Gadingrejo kelas B, setelah setahun aku dipindahkan ke SD 3 Purworejo kelas nol. Jadi aku masuk kelas 1 SD tepat berumur 7 tahun, karena aku lahir pada tanggal bagi raport. Ini jadi sebuah tradisi di keluarga mbah timan, adikku luthfi dan sepupu sepupuku yang lain juga masuk kelas 1 umur 7 tahun. Dan ya, kami akan masuk golongan tua di kelas. Selalu jadi 1 tahun diatas umur rata rata teman yang lain.

Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Aku punya mbak Tika Alkarima dan adik laki laki Luthfi Pambudi. Akhir akhir ini kami sudah jauh lebih stabil, karena sudah sama sama gedenya. Kalau dulu ribut gara gara apanya beneran, sekarang jadi ribut yang lucu. Mungkin semua ini karena kami jarang bertemu, mbak tika di klinik bu yuni diroworejo, aku dikarang dan adikku dirumah. Kata mbak tika suatu hari, “aku biasanya kangen banget pulang Cuma gara gara pengen makan petis bareng” aku dan luthfi. Sampai sekarang aku juga masih pulang tiap sabtu, karena aku juga selalu kangen rumahku, jalan pulang kerumahku. 

Orangtuaku adalah ibu dan bapak guru, bapak adalah guru di SD, dan ibu di SMP. Aku seneng ketika bapak cerita kisah orang-orang jaman dulu. Cerita waktu bapak kecil, bapak adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Dan kata bulekku bapak dulu “temuo” banget jadi mamas. Beda banget sama adikku luthfi. Aku paling seneng ketika bapak cerita masa bapak sekolah, dulu bapak kalau jaman istirahat sering lendehan di tembok sama temen temennya dan kalau haus lari kesumur, “pura pura cuci muka”. Dan cerita ketika bapak ditugaskan jadi guru dibanjit sana. Waktu aku kelas 1 SMA, kami sekeluarga pergi ke sana dan menengok SD dimana bapak mengajar. Dan aku selalu senang ketika lewat suatu tempat bapak mulai cerita  “dulu disini ....”

Kalau dulu aku meles malesan, ibu akan bilang “dulu, waktu ibu seusia kamu mbah sanem Cuma tinggal masak aja, ibu udah selesai beres beresnya” semuanya udah beres. Masa kecil ibu dipringsewu, kata embah dulu ibu juara kelas terus karena rajin dan tekun. Ibu anak pramuka yang aktiv dan aku membayangkan ibuku keren banget. Ibu seusiaku sudah jadi guru SMA PGRI, SMA dimana aku sekolah kemarin. Karena ibu sekolahnya 2 tahun lebih awal, dan waktu 19 tahun udah tamat D2. Aku broh ... 19 tahun masuk kuliah dan semuanya masih ibu. Ibu. Ibu.

Inilah aku, Ridha.

Wednesday, October 16, 2013

Hey Good Morning

Bisa jadi aku ‘merasa’ sakit karena beban yang aku rasa-rasakan aja, atau memang sedang jatahnya sakit. Aku sangat gelisah pagi ini, sudah 4 hari sejak hari minggu aku libur, aku merasa gelisah dan gak enak badan. Karena gak enak badan+gelisah jadi ‘merasa’ gak kuat mau kerja berat. Termasuk mikir.

Yang aku gelisahkan adalah banyaknya tugas yang dibebankan ke anak baru. Karena belum terbiasa dapet segitu banyak, aku jadi terbebani. Dengan sifatku yang kurang optimis, ini jadi beban pikiran banget. Diluar semua itu, ada faktor lain yang paling penting dan paling berpengaruh sih, yang aku gak perlu sebutkan. Gak penasaran kan? Yaudah. Hubungannya sama materi.

Ohya, aku punya cerita menyedihkan seminggu yang lalu. Aku kelupaan bawa dompet hari senin, dompetnya tertinggal dirumah. Bukan di kost. Jadi aku pulang lagi. Karena hari selasa gak ada jam, aku berangkat ke karang hari rabu, dan aku kelupaan kunci kost. Jadi aku pulang lagi kan. Sebenernya sudah ada firasat, aku jadi deg deg-an dan kerasa ada yang kurang. Sayangnya, aku gak cepet sadar apa. Jadi, kalau mau pergi kerasa ini lagi, aku harus bener bener teliti ngecek apa yang ketinggalan. Dan ... jeng jeng. Kejadian ini berulang hari minggu kemaren, pas mau pulang kerumah. Aku udah cek semua yang aku akan bawa pulang, udah aku catet. Tapi setengah perjalanan, aku deg degan lagi. Ah masak ada yang ketinggalan lagi sih. Aku inget inget ... apa ya. 

Jeng jeng!! Catetan fisika, buat belajar hari ini ada kuis. Yang aku bawa Cuma buku besar dan fotocopyan aja, tapi catetan inti ketinggalan. Aku gelisah deh. Beruntung ada temen yang rumahnya deket dan aku pinjem bukunya. Tapi aku tetep butuh bukuku sendiri. Semoga hal hal seperti ini gak terjadi lagi ya.

Lanjut ke bahasan gelisahku pagi ini. Aku pengen kembali ke masa jadi anak TK dan SD. Jadi gimana ?

Tuesday, September 17, 2013

Its Too Late

“Tidak ada gunanya memperbaiki sesuatu diatas penyesalan”

Aku baru paham makna kalimat itu sekarang. Percuma sekali rasanya. Yang aku rasain justru jarak yang semakin terasa  jauh. Harapan yang semakin memudar. 

Aku akan membagi sebuah pengalaman yang banyak menyesakkan. Yang hari ini menjadi puncak kekesalan itu. Aku akan menasehati siapapun yang akan memutuskan sesuatu yang sudah tau akan berpengaruh banyak dihidupnya. Putuskan atas dasar yang paling jelas. Pilihan itu karena Allah bukan? Sesuai dengan keinginan dan kemampuan (dari banyak faktor) bukan? 

Sebenarnya aku sudah melakukan prosedur pengambilan keputusan dengan sangat baik. Tapi kenapa yang aku rasakan justru “Penyeselan”. Aku kira ketika aku putuskan ini, pilihan ini adalah pilihan yang tidak akan pernah membuat aku menyesal. Pilihan yang akan membahagiakan. Pilihan yang akan terus kurasa paling tepat.

Tapi ... kenapa? Kenapa perasaan menyesal malah datang diwaktu paling awal dari perjalanan ini. Kenapa ya? Apa ada yang salah dengan niat awalnya? Apa waktu itu aku tidak serius mendengarkan petuah orang lain? Apa aku terlalu bebal untuk mengulang ulang memikirkan pilihan mana yang paling pas?

Dan, kenapa kabar-kabar “baik” jika dilihat pada waktu yang “pas” itu datang baru baru ini. Dan sekarang kabar baik itu telah berubah rasa. Ada rahasia apa yang Allah simpan sehingga aku seperti digariskan takdir menjadi baru tau sekarang. Lalu aku semakin menyesal, panas ubun ubunku. Ya, aku sedang marah. Dengan isi kepala yang begitu ... tidak cerdasnya.Mungkin aku hanya kaget dengan kebiasaan baru yang menuntutku bergerak lebih banyak dan cepat. Mungkin aku belum bisa melakukannya secara efektiv dan efisien.

Tapi, apakah tuntutan itu akan menjadi berbeda rasanya jika aku duduk di bangku dan tempat yang lain. Di tempat yang jauh, ditempat yang dari awal kelas tiga SMA sudah di mimpi-mimpikan, sudah dibayang bayangkan. Pernah kan kita punya passion yang sangat besar terhadap sesuatu. Pernah kan kita selalu bermimpi menjalani hidup seperti apa? Dan semakin merasa mimpi itu kian dekat ... semakin dekat ... rasanya gak sabar segera menyambut hari pertama ... mungkin aku akan meledak kalau harapan itu terjadi.

Aku terlalu dini untuk berputus asa waktu itu, ternyata benar. Akan ada saat kamu ingat kamu duduk disini, didepanmu ada kertas yang akan kamu tuliskan sesuatu yang besar yang menjadi mimpi mimpimu, tapi justru kamu menulis dengan huruf lain. Kenapa rida? Seandainya kamu lebih berani, sedikit lagi. Kalaupun kamu gagal, kamu sudah melakukan tindakan yang mendekat kesana, bukan belok kiri.

Hal hal seperti itu cepat sekali berlalu ya... cepat sekali aku berubah pikiran dan cepat sekali aku bisa berpura pura senang pada diriku sendiri. Lalu kenapa juga cepat sekali aku sadar kalau aku tidak begitu bahagia, cepat sekali aku sadar, cepat sekali aku menyesal... 

Oh hidupku, kirimi aku secarik surat. Yang akan menjelaskan alasan dibalik takdir yang Allah gariskan. Agar aku berbeda dengan hari ini. Agar aku paham bagaimana memulai hidup dengan mau jujur pada diri sendiri. Menulis ini tidak selesai loh, dipundakku ada banyak beban yang seiring waktu berlalu semakin memberatkan saja. Dengan Cuma menulis tidak selesai loh... aku kudu gimana?

Sunday, August 25, 2013

My Dear Yumna








Menyambut Hari Esok yang Cerah

Hi guys, masih sehat ?
                     
Well, gw membuka tulisan ini dengan sapaan entah kepada siapa.

Hi boy, my darling. Ini baru pas.

Sore ini gw stress, terutama saat gw nulis ini. Gw bingung gambarin perasaan gw, gw bingung membuat kalimat yang efektiv, dan gw bingung apakah ini penting buat gw. Gw sedang penasaran dengan penyakit yang gw idap beberapa bulan terakhir. Gejalanya adalah gw amat sensitiv, gw minder, dan amat khawatiran.

Walaupun gw belum pernah benar benar jadi perempuan tenang, tapi gw merasa tingkat kepanikan gw lebih tinggi dari yang dulu. Dan, gw jadi tidak terlalu obsesif lagi. Dan sebenernya yang paling kerasa adalah gw gampang bingung, gw jarang punya deskripsi yang jelas tentang sesuatu yang ingin gw sampaikan atau tulis. Parah. Ohya satu lagi, gw ini gak percayaan dengan orang dan beberapa buku pengembangan diri.

Kira kira gw sakit apa?

Gw pernah liat soul healer di  acaranya sarah sechan, dan gw yakin kalau gw konsultasi ke si mbak soul healer ini gw akan menemukan benang merahnya. Oh ya ampun, gw jadi pengen bisa ngomong english lancar. Gw tidak tau kalau bahasa inggris akan jadi salah satu dari segelintir obsesi gw. Dan gw mulai dikit dikit menyesal milih jurusan. Oh No! Enggak kok ... gw baik baik aja dengan biologi. Lama lama kenorak-an gw jadi ketara banget yach.

Gw cinta dengan biologi, bahkan setelah gw diberi gambaran oleh pak kepala gank (Kepsek) betapa biologi mungkin bla bla bla, gw masih disini, menikmati imaji gw jadi Ibu guru spesial untuk anak anak gw, Ilmuan, dan Penulis. Keren ya? Tapi gw tetep pengen bisa ngomong english.

Gw jadi lupa mau nulis apa sebenernya ... tunggu gw inget inget dulu.

Ohya gw stress ya, iya. Hari ini gw dibuat kecewa oleh induk semang kost, kost gw belum bisa ditempati karena sedang proses perbaikan, gw gak mau nginep dimana mana, jadi gw laju dari rumah. Satu jam tiap pagi dan pulang. Gw capek dong.

Udah, itu doang yang gw inget. Kata hati baik, gw kudu semangat. Orang yang mau bahagia emang sering susah susah dulu. Jadi, gw akan bahagia kan esok hari? Jadi gw gak masalah kan nulis judul “Menyambut Hari Esok yang Cerah” ?

Monday, August 12, 2013

Kamatian Itu Terasa Dekat

Tiba tiba saja aku teringat sebuah pengalaman hidup yang begitu menyentuh, aku bersyukur karena ingatan ini hadir ketika hatiku memang benar benar membutuhkan sebuah asupan energi yang banyak. Kisah ini terjadi belum lama, mungkin 5 atau 6 bulan yang lalu.

Ibuku adalah seorang guru smp, kisah ini diawali dari pertemuan ibuku dengan seorang anak muridnya yang baru duduk dikelas 7. Kala itu sedang dilangsungkan ulangan semester, berhubung ibu yang piket, maka ibu yang melayani seorang murid yang berhalangan mengerjakan ujian sebagaimana mestinya. Ibu Cuma tau kalau anak ini sakit dan harus ditunggui walinya di meja kantor untuk mengerjakan ulangan. Hal ini terjadi beberapa hari, sampai suatu hari anak itu bertemu lagi dengan ibuku untuk bertanya keberadaan wali kelasnya, karena anak ini mau izin pergi ke RS untuk operasi.


Berhubung anak ini hanya sempat bertemu dengan ibuku, maka dia minta nomer hp ibu untuk sewaktu waktu dihubungi kalau ada keperluan. Sejak saat itulah ibu yang paling sering dihubungi si murid di moment paling penting dalam hidupnya. Beberapa menit menjelang operasi operasi yang lain.

Setelah beberapa lama, kondisi si murid semakin memburuk. Ibu dan teman guru yang lain mulai sering menjenguk si murid ke RS untuk menyemangati, termasuk teman temannya dikelas.

Saat itu aku Cuma mendengar ibu atau bapak bercerita dan belum pernah menjenguk langsung si murid, hingga tiba suatu kesempatan aku diajak ibu dan mbak tika menjenguknya. Aku terenyuh … ya Allah … rupanya dia tinggal disebuah rumah kontrakan yang kuukur mungkin hanya sebesar ruang kelas bahkan lebih kecil dari itu dan hanya disekat untuk memisahkan kamar dan dapur. Aku jadi ingat hal yang paling sedih, oh iya ... rupanya dia hanya tinggal bertiga dengan ibu dan kakak lelakinya yang sudah tidak bersekolah lagi. Ayahnya … belum meninggal. Ayahnya ada, tapi entah dimana. Mereka tidak memiliki kerabat di lampung, karena dulu si istri dari pulau jawa dan saat menikah mereka pindah ke lampung.

Aku merinding … selama ini aku hanya melihat korban keganasan penyakit kanker dari TV atau internet atau gambar. Dan ini, aku melihatnya langsung. Kondisinya benar benar akan membuat orang sombong sepertiku ini loyo dan tertampar. Dia begitu kurus, dan karena telah beberapa kali menjalanii kemoterapi maka rambut kepalanya juga tinggal beberapa helai saja, Dan… benjolan disekitar leher dan lengan itu … yang melekat ditubuh kurusnya itu… saat dia bernapas …

Dan saat simurid terbatuk … ya Allah… aku seperti merasakan sebuah penderitaan yang amat dalam… disini ya Allah… hatiku sakit membayangkan bagaimana si murid menanggung rasa sakit yang entah seperti apa. 

Tak lama kami disana, karena dia mau beristirahat, kami pamit pulang. Dan semua orang yang pulang dari sana mungkin akan berlinang air mata sebelum sampai rumah, termasuk aku. Sejak saat itu aku mulai sering tanya kabar si murid ke ibu, kabar yang terakhir ibu dapat hp si murid hilang di RS. Ya Allah dek …

Aku lupa selang beberapa minggu tepatnya, si murid dipanggil Allah. Kami menangis lagi. Aku sangat menyesali karena tidak bisa ikut bertakziah karena saat itu aku masih ada kewajiban disekolah. Tapi dek … mbak dan semua orang yang mengenalmu ikut mendoakanmu. Dan kami percaya, di alam sana kamu akan bahagia … mbak akan selalu ingat pelajaran berharga dari kisah hidupmu dan keluargamu …

Saturday, July 20, 2013

Pesan Pesan Di Kaca


Halo ? apa kabar ? sudah cukup lama ya saya gak menulis. Apapun. Yang saya ingat terakhir saya menulis adalah to do list di kertas yang ditempel di pintu lemari, isinya 86 nomer yang saya rencanakan selesai diminggu ini saja. 

Baik, Saya akan bercerita tentang kisah saya beberapa hari belakangan, saya bertemu kesedihan hari ini. Saat saya sadar, saya melihat ada beberapa tulisan tangan dengan spidol di kaca. Disana ditulis oleh seseorang yang sedang berduka, sebuah janji dan pesan.

Katanya, 

“saya tidak perduli dengan ingatan berapa banyak waktu yang sudah dilewati tanpa banyak kesan menyenangkan, saya tidak perduli dengan kesempatan yang belum lagi datang, saya tidak perduli lagi dengan keinginan mengeluh saya. Saya hanya melihat pada bayangan yang terlihat dikaca, dengan jelas saya lihat berbadan sempurna. Seharusnya sudah amat cukup menjadi alasan saya untuk bahagia?”

Lalu, tertulis sebuah janji …

“saya akan selalu mengucapkan terimakasih kepada bapak dan ibu yang merawat saya, saya akan mengantarkan ibu kesekolah, saya akan menulis untuk bapak”

“saya akan menjaga cinta dan kekasih saya dengan cara seorang wanita muda yang siap menjadi dewasa, saya akan menyampaikan semuanya dengan hati hati, saya akan mendukung dengan doa, suara dan tulisan”

“saya akan menjaga persahabatan saya, saya akan membalas pesan mereka dengan hormat”

Karena, saya takut tidak sadar bahwa saya sudah menua dan lupa cara untuk sekedar menulis balasan terimkasih pada mereka, lebih saya tidak tau sisa waktu hidup saya berapa banyak lagi.