Tuesday, March 24, 2015

Kotor, Berhantu

“kepribadianmu ngeri”

Kata seseorang kepadaku pagi itu. Lalu dia melanjutkan,

“kamu pengen nunjukin kan ke orang orang, lewat instagram, facebook, twitter, liat nih gw bagian dari itu, ini kegiatan kegiatan gw, keren kan, gw udah anu banget kaann”

 “gak semua orang nganggep itu keren lho, kayak aku, biasa aja tuh”

dia mencekal kerah bajuku,

kamu suka akting ya, kamu terlalu show up, berlebihan. Dengan kamu begitu, kamu  pengen sekalian bilang ke mereka  ‘gw lebih dari kalian, gw bagian dari ini dan liat gw sekarang, gw lebih, haha”

"Sombong!"

.... dar.

Sedetik kami diam. Saling menerka, siapa yang lebih sakit hati.

Kuperhatikan tampangku di cermin. Kutelanjangi batok kepalaku. Lalu aku tertawa, terguling guling. Sambil menusuk nusuk jarum di dua telingaku, di dua bola mataku, di jidat, dan pergelangan tangan. Rasanya tidak sakit, tidak perih, hanya benar. 

Orang di cermin tetap diam, membiarkan aku merasakan kebenaran. Sambil sesekali di tawarkannya pisau dan gunting, untuk membedah dadaku, mengeluarkan jantung, hati  dan paru paru. 

“Cuci bersih!”

Buta

Dua tiga hari sudah berlalu
Dia masih sama, menyimpan mata yang diam diam dirampasnya waktu itu
Dia masih begitu, menunggu siapa tau bisa menyimpan satu mata yang lain
Tapi... dua tiga hari itu, hanyalah dua tiga hari yang lalu

Karena... setelah  dua tiga hari itu tiba tiba datang rembulan
Sambil tertawa dia memaksa-nya menulis catatan:

“Hei... mata itu, kembalikan”

Dia dan rembulan  beradu pandang, saling menyalahkan
Tentang siapa yang mestinya duluan memberi tahu dua tiga hari yang lalu

Bahwa dua tiga hari yang lalu, atau entah sejak kapan
Dia dan rembulan sudah sama sama tau
warna langit tak pernah merah muda, tak pula biru
warnanya pucat, dua matanyalah yang salah
karena menebak warna langit dari mata yang buta
dia menduga langit bisa berwarna warnai, merah muda, biru, dan ungu

Dia sedih, lalu menutup buku, menuntaskan catatan, dan mengembalikan mata itu pada rembulan
sambil menangis, dan tertawa, dan diam diam menyelipkan pesan selamat malam

Wednesday, March 18, 2015

People

Kata temen deket gw, gw sering sekali ngelakuin hal nekat, dan salah. Ketika di nasehati begitu, biasanya gw akan berdalih bahwa gw masih muda, salah gak papa. Kayak jargon gw, we are young, so shut up and enjoy life.

Tapi setelah gw pikir pikir, dampak buruknya jauh lebih banyak ya ternyata. Contoh kecilnya begini, maksud gw Cuma pengan lega, terus gw ngelakuin misalnya ngomong jahat (ghibah), tidak berapa lama kemudian efek ghibah itu langsung kerasa. Padahal aturan bisa mendem aja. Bisa di tahan. Tapi berhubung nekat menghibah, gw jatuh dan tertimpa tangga. Ini berefek pada unmood yang sering kali berkepanjangan.

Gw juga kadang menduga, mungkin saja orang sulit menerima opini gw, atau sebutlah sulit percaya sama gw, karena... gw sering menggunakan kata kata yang tidak nyambung, gw sulit untuk memahami orang lain, apa lagi ketika emosi gw sedang, tapi sedang yang di buat buat. Marah udah lama, kesel udah lama, terpendam, rasanya sedang, tapi sewaktu waktu bisa meledak, asal ada reseptor ledakan yang cocok.

Itulah mengapa gw males menggantungkan apa apa kepada orang lain, bukan karna orang lain tidak bisa gw percaya, gw percaya. Tapi kadang kala ketika gw sudah merasa nyaman sekali, gw merasa seru sekali, mereka jadi hilang. Hilang aja gitu. Dan gw harus mengalami rasa sedih yang aneh, contohnya gw jadi marah... tapi kemana bisa marah. Mantul lagi, gw jadi marah ke sini.

Dan mungkin bener, jadi orang yang isi dalemnya kayak yang suka jalan sendirian atau sepedahan sendirian sambil dengerin earphone lagunya hunter hayes, invisibel. Yang bebas, yang tidak terikat dengan apa apa. Jadi jarang gantungin harapan ke siapa, intinya, lagi kecewa nih.

Mereka ngambekan sekali.

Mentari

Betul betul lucu.

Ketika orang orang sudah sampai pada obrolan tentang raport merah presiden, aku masih duduk di terasnya, menulis puisi tentang malu malu, tentang perasaan. Alangkah tertinggal.

Menulis sajak, 

Hari senin biru selasa ungu, dan rabu merah muda. Masih begitu.

Ini bukan soal kata orang, ini beban. Nah...

Mulai lagi kan, topik gelisahnya masih sampai di bab satu. Itu itu saja.

Mungkinkah, besok atau lusa masalah ini beres, ya sebut saja masalah. Harus di paksa selesai. Karena ingin sekali rasanya lanjut bab dua, agar aku bisa sejalan, Dengan orang orang yang begitu mengagumkan.

Tuesday, March 17, 2015

Begitu?

Bandarlampung, 17 Maret 2015

Mari sejenak berpikir
Berhenti sebentar, untuk sekedar menengok ke belakang, atau arah lain-lah.
Siapa tau disana ada nasib orang yang diam begitu, menunggu.
Siapa tau ada yang diam diam meneriaki, tanpa suara.
Namun gemanya sampai larut malam, terbawa sampai jam tidur, menggantung bersama rembulan.

Bayangkan bila malam juga diam ,
Enggan memberikan jawaban, padahal... sudah mengaduh, memanggil nama yang tak jua kau dengar.

Tengoklah...
Siapa tau dia ada di ujung matamu,
Atau terselip dalam baris kata di catatan ini.
Siapa tau dia masih menunggu, tanggalan berganti.
Karna katanya, waktu dapat menghapus jejak, menghapus bayangan.
Begitu?

Monday, March 16, 2015

Selamat Malam Gunung Betung

Mari kita mulai dari bangun kesiangan di kost karib gw, linda. Gw buru buru pulang ke kost untuk menyiapkan perlengkapan rencana mendaki hari ini. Benar saja, untuk menyiapkan baju dan perlengkapan lain, gw terlambat 1 jam. Pasang muka bersalah.

Semua feeling yang gw rasa hari ini sama, mirip sabtu kemarin. gw rada sedih, gw excited, dan gw penasaran, kemana gw akan bawa hari ini. 

Gw memutuskan untuk naik motor bareng reza, sudah gw wanti wanti dari awal, bila orang lain merasa “sampai” ketika sudah ditempat tujuan, maka gw dan reza telah sampai sejak kita mulai perjalanan ini. Gw harus bahagia, gw harus dapet sedapnya perjalanan ini.

Dengan sorak sorai selama perjalanan, sampailah gw dan reza di lokasi. Tos hai, dibariskan, foto dan mulai mendaki. Menjadi fotografer dalam sebuah event adalah hal yang spesial, karna di situ gw mendapat hak untuk selalu “terserah”.

Hingga jatuhlah korban pertama, adik tingkat gw. Gw merasa tertantang untuk berlatih berempati. Seperti pesan ibu, gw harus belajar punya rasa kemanusiaan, care, dan penyayang.

Jadilah gw bersama adik tingkat gw yang sakit menunggu di post pertama atau entahlah apa itu. Di sinilah hal tidak biasa itu di mulai....

Siang itu hujan, tengah hari disana bak senin pagi yang pilu. Gw duduk berdua dengan rani, sesekali gw pandang adik kecil rani yang sama bosennya menunggu. Mungkin sejam telah berlalu, gw mulai khawatir dan menghubungi satu persatu geng yang telah berpisah sejak sejam yang lalu itu. Mati, tak ada jaringan. Cukup lama gw menghubungi mereka, hingga tibalah saat paling memilukan itu... saat kepercayaan gw runtuh, saat tingkat suudzon gw meningkat, dan saat dada ini sesak sekali.

Bla... bla... bla.

“inikah solidaritas yang kalian maksud kawan kawan”

Masalahnya sepele, hanya gara gara gw gagal ndaki, karena... teman yang kata mereka akan lewat sini tadi yang gw dan rani bisa bareng dia, gak jadi lewat jalan kami. Jadilah gw dan rani di perintahkan menunggu sampai mereka kembali. 

Deg. Hati gw hancur.

“gw di tinggalin...”

Waktu itu gw menangis, gw sedih sekali, gw kecewa sekali, seperti cinta bertepuk sebelah tangan kawan kawan. Gw terlalu ngarep sama kalian, gw terlalu percaya, gw terlalu sayang.... sampai gw kira kalian gak mungkin begini. Gw belum sepenting itu.

Setelah gw timbang timbang lagi, dari pada gw menangis dan ketika mereka benar benar kembali gw tidak siap mau berekspresi seperti apa, akhirnya gw bergabung dengan bapak bapak di post, gw harus juga dapat pengalaman. Hingga mereka, kawan kawan kecil gw datang...

Leli, ganis, asih... bertiga lagi dengan cowok mereka masing masing. Gw memutuskan untuk bergabung dengan mereka untuk mendaki. Tujuannya adalah air terjun bawah. Gw tinggal rani sendirian. Itu kejam, tapi gw marah, gw sedang marah. Gw pintar sekali menyimpan marah dalam ketawa gw.

Medan yang gw tempuh cukup terjal, untuk bisa sampai ke atas, gw kadang merayap, membungkuk, pelan pelan. Cukup jauh, mungkin 20-30 menit untuk sampai di sana. Kala itu perasaan gw masih antara marah dan lega gw dapat pengalaman mendaki, seru banget, gw melihat keatas, dan gw mengira ngira, kalau rombongan ini lama nanti, gw akan berani balik sendirian. Gw merasa kuat bersama mereka.

Sampailah gw di air terjun, terbayar sudah kemarahan gw. Gw tidak sanggup marah. Disana terlalu sejuk, terlalu senang, naif sekali jika gw masih saja menyimpan dendam. Mungkin gw ditinggalkan, mungkin gw di abaikan, tapi ah sudahlah... gw lah yang memutuskan untuk semua itu. 

Gw sempatkan ngobrol dengan mereka berenam, gw makan, gw menikmati betul betul air terjun bawah itu. Gw rasakan aromanya, gw teriaki, gw potret dengan mata hati gw. Welcome Indonesia...

Setengah jam, gw mulai kepikiran kawan kawan gw. Gw berhitung, mungkin mereka sudah kembali, apa kata mereka jika gw nekat kemari, gw akan salah. Maka gw berpamitan dengan kawan kawan kecil gw itu untuk balik duluan. Gw rasa itu keputusan yang benar.

Dan ... berjalanlah gw sendirian. Benar benar sendiri. Sampai gw menulis ini, ulu hati gw masih sakit, kepala gw masih disana. Benarlah, ketika benar benar sendirian, kita akan tau betul seberapa kuat diri kita. 

Rupanya medan balik jauh amat jauh lebih payah, jalanan licin, hah dan suananya cukup mencekam. Untuk seorang perempuan penakut seperti gw, itu adalah hal yang amat amat sangat memilukan, bayangin gw berjalan ditengah hutan, sendirian, sempet ada tempat yang rada gelap, dan gw, Allahuakbar... kekuatan itu benar benar dari Allah. Tidak bisa gw bayangkan, gw... anak yang gak seberapa ini, yang belum pernah masuk hutan beneran, yang baru pertama kali ndaki, gw jalan sendiran, dan gw ketawa, gw jalan sambil ketawa... gw menghibur diri. Semacam tolol. Dan gw masih mikirin gw harus buru buru karna bisa jadi temen temen gw nungguin.

Ya Allah... gw kepleset berkali kali. Gw bingung sekali caranya turun apakah harus merosot atau gw pakai kayu. Kaki gw lecet, aaa~ dan gw masih ketawa. Menertawai kesendirian gw.

Entah berapa lama, sampai gw bertemu persimpangan jalan, entah kemantapan dari mana, gw merasa harus mengambil jalur kanan, padahal gw benar benar kadang ngembang soal jalan, gw berharap betul gw tidak salah jalan, kaki gw sudah mulai kram, njarem, karna gw mblandang dan kebingungan.
                                                 
Sampai 3 orang entah yang tiba tiba datang. Entah maksudnya apa. Karena gw menyambut mereka dengan ketawa. Pilu rasanya hati ini. Gw ini Cuma bisa ketawa, ekspresi paling menyedihkan.

Pak... hari ini luar biasa, anak gadis jagoan bapak naik turun gunung betung, turunnya sendirian. Dan aku sedih mengingatnya pak.

Lalu sampailah gw di post tadi, dengan banyak orang yang telah kesuh dengan gw, gw telah membuat mereka menunggu lama, jenuh, gw takut sekali. Gw benar benar pengen udahan. Inilah, gw sudah bilang bahwa hal yang tidak lillah, akan rapuh sekali. Persaudaraan ini. Meski hanya gw yang menganggap begitu.

Luar biasa... gw tidak sengaja. Maaf, jika hari ini gw membuat kesan yang buruk. Gw menyakiti dan membuang banyak waktu kalian. Mestinya kalian tidak seperti ini. Bencilah gw, ghibahin gw, pincingkan mata kalian ke gw. Gw takut... tapi gw tau betul ini salah gw. Marahlah kawan kawan... lalu maafin gw.

Selamat malam gunung betung, salam lestari dari kost seorang gadis berkaos merah yang setengah hari tadi menjejekakkan kaki di tempatmu, yang setengah hari tadi ingin sekali memangis dan mengadu. Semoga kita dapat berjumpa lagi, nanti... kalau kaki ini sudah lebih kuat, hati ini sudah lebih siap, aku pasti merindukanmu. Semoga lain kali aku tak pernah sendirian. Karena ngeri sekali betung, sedih sekali. Terimaksih karena telah begitu mengesankan.

Selamat malam, siang.

Thursday, March 12, 2015

Gak Usah Pulang

Apa yang orang bilang itu bohong, gak ada yang bener bener permanen, kesukaan menulis, tekun, rajin, aktiv. Semua akan berhenti pada waktunya, berubah jadi kedataran yang bikin kesel.

Separuh hari ini aku kesel banget. Mulai dari orang orang yang susah di hubungi, bingung mau ngapain, sampai males mulangin buku di perpus. Ini semua memang cuma separoh hari kamis yang menyebalkan, bukan seluruh hidup yang buruk.

Mungkin memang belum saatnya aku menulis hal kudu dibatasi, bahasa, pemikiran, supaya orang lain menilai aku dewasa, blah. Toh aku bukan orang yang bisa dijadikan teladan, ya aku salah. Aku tidak dewasa, terus kamu mau apa? Memaksa aku berehenti ngomong? mulai nulis yang bener?

Berhenti jadi anak anak?

Aku benci setengah hari ini. Aku nangis, aku sendirian. Aku benci orang orang, aku benci orang yang belum aku maafkan, aku benci bajuku, aku benci tulisanku, aku benci akun media sosialku, aku benci jalan jalan. 

Aku cuma kesel sama separuh hari ini, aku tidak dewasa, tapi bukan berarti aku gak bisa berubah. Aku cuma pengen ada yang ngertiin aku. Bilang tenang ya , jangan kesel lagi. dingertiin? dibaikin? iya, emang aku apa.

Aku kesel... terserah.

Wednesday, March 11, 2015

Hidup

Pernah suatu hari aku merasa sombong, udah ikut ini itu lalu tau ini itu, berteman dengan ini itu. Sombong sekali, sampai pada keadaan menganggap beberapa orang lain gak seberapa lagi di mataku. Luar biasa sombongnya.

Pernah juga beberapa kali tidak terkontrol, ketawa, marah, menggunjing, mengadu domba, iri. Macam macamlah.

Lalu tiba suatu hari yang lain, hari dibukanya mata hati, di tayangkan kenyataan...

Apa yang mau di sombongkan dari semua itu, kita semua akan mati. Kita semua tidak pantas begitu, kita harus akrab, kita harus saling menolong, kita harus menyiapkan teman teman sungguhan yang kelak menjadi makmum sholat jenazah , ketika hari mati itu tiba.

Kalo seputar urusan dunia, mudahlah ikhlas.