Sunday, November 11, 2018

Aku Pengen Kita Ngomongin Soal Mati

Aku pengen kita ngomongin soal mati.

Mati yang bisa dateng kapanpun, di manapun, kepada siapapun. Lucunya, aku sering menggunakan guyonan pengen mati untuk mengancam supaya semua terkendali. Tanpa berpikir konsekuensinya, tanpa berpikir akutuh bakal selamat tidak kalau udah mati.

Kemarin aku ikut pengajian, membahas tentang gimana ya caranya jadi pribadi yang kokoh? Katanya suruh sabar, ikhlas, dan syukur. Selama mendengar pengajian aku mengingkari banyak nasihat yang disampaikan guru ngajiku. Aku banyak tidak setuju.

Terjadi karena aku tengah mengalami masa yang sulit. Baru membatin begini, guru ngajiku melanjutkan lagi “Setelah kesulitan ada kemudahan…” lalu terus terdengar ditelingaku.

Kemudahan…

Kemudahan…

Kini usia kandunganku sudah 5 bulan 2 minggu. Aku sudah mulai mempersiapkan persalinanku, membayangkan gimana rasa sakitnya, mencari nama yang cantik, mengira-ngira akan beli perlengkapan dimana. Bahkan, aku sudah menyiapkan kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul setelah ini.

Kadang terlintas juga, gimana kalau takdirku mati saat melahirkan?

Siapa yang harusnya aku pikirkan? Suamiku? Anakku? Apakah perlu membuat rencana jika itu memang terjadi, misalnya menyiapkan dengan siapa anakku akan dirawat dan dibesarkan. Perempuan seperti siapa yang akan suamiku pilih untuk jadi istrinya ya, ah aku penasaran.

Aku iri membayangkannya. Aku iri membayangkan kebahagian mereka. Aku takut dilupakan. Apakah file di notebook ini akan dihapus? Notebook ini akan dipakai perempuan itu untuk liat tutorial masak di youtube. Aku akan hilang. Bajuku, bukuku, mukenaku, celana dalam, dan make-upku.

Aku bisa mati tanpa sempat mendengar anak di perut ini memanggil “Ibu…”

Mungkin dia akan memanggil ibunya ummi. Duh, geli.

Tapi…

Setelah mati aku tidak mungkin membawa pikiran macam ini kan. Aku serius mempertanggung jawabkan kegiatanku di dunia pada Allah. Aku sibuk menjawab pertanyaan para malaikat.

Ikut Pulang, Boleh?

Hari ini ada acara arisan keluarga mbah metro yang bertempat di kediaman bude Nani di poncowati. Sejak seminggu yang lalu aku sudah membayangkan dan menanti-nanti hari besar ini. Di luar dugaan, mbak Tika ternyata juga sedang pulang kampung, yang mana berarti dia akan ikut datang ke arisan. Aku semakin excited dan nervous menanti-nanti kedatangan mereka.

Pukul 8.30 aku sudah bersiap berangkat ke rumah bude dengan niat rewang seperti yang ibu Titin pesankan semalam, kurang dari 2 jam lagi aku akan bertemu dengan kesayangan kecintaan aku!

Wah!

Aku berangkat naik motor seperti linglung, bingung menghadapi kebahagian sekaligus kekhawatiran karena sadar kalau waktu ini akan cepat sekali berlalu, aku sadar tau-tau mereka akan pulang, tau tau aku merasa sendirian.

3 jam berlalu belum ada kabar kedatangan mereka, aku tengak-tengok ke jalan siapa tau itu mobil bapak. Bude dan pakde sudah mulai berdatangan, aku menyibukkan diri dengan mendengarkan obrolan sembari sekali-kali menengok ke arah jalan. Karena tak sabar, akhirnya aku menelepon ibu.

“Sudah dimana bu? Kok belum sampai?”

“Sudah masuk gang PB nih”

Aku lega, kepala dan mataku tak kulepas dari pintu.

“Assalamualaikum…”

Akhirnya!

Aku malah nangis, sekarang aku juga nangis. Sekuat tenaga aku menahan supaya tidak jatuh air mata ini, aku sibuk melayani mengambil piring. Namun saat duduk bersama, aku sudah tak kuasa, aku malah nangis lagi. Nangis hampir sesegukan, kutahan diri supaya bisa sadar, ingat-ingat besok ada apa supaya tak jadi lama. Tapi aku malah tambah sedih, tambah nelangsa.

“Kok malah nangis…”

“Kangen…”

Sudah. Aku sudah nangisnya lalu menyuapi ghaisan bakso sambil tungtang-tungtang khalila. Aku sibuk sekali. Seperti dugaanku waktu berlalu begitu cepat tanpa sempat aku sadar bahwa bapak dan ibu ada dalam rombongan, atau sebenarnya aku kebingungan menghadapi kondisi harus tegar saat seperti ini.

Lepas acara arisan, bapak dan ibu ku ajak mampir ke rumah yukum. Aku, ghaisan, dan mbak tika naik motor duluan, kami sampai lalu ghaisan main ayunan, melihat ikan, makan mangga, lari sana lari sini. Lalu anak-anak kecil kumandikan, kubisiki, “Nginep sini aja ya…”. Sampai ashar mereka masih lari lari, lalu saat berpamitan ghaisan gak mau diajak pulang.

“Mau sama tante ridha…”

Haduh… berat sekali hari ini. tau kan rasanya sedih dan haru tapi gak boleh nangis? Aku gak boleh nangis karena takut tidak bisa diam dan malah menimbulkan kesan yang macam-macam. Aku ingin ghaisan tau bahwa, aku sedih banget… jangan pulang, jangan tinggalin aku. Aku ikut pulang, boleh?

Ingatan tentang pulang dan pergi bersama mobil bapak begitu lekat, begitu dekat, begitu kurindukan. Aku ingin ikut pulang, ingin mengulang banyak kejadian jaman dahulu. Haduh pedihnya haha…

Dan… hari ini menyisakan cerita singkat yang indah. Aku senang bertemu keluaga, senang semuanya berjalan lancar, senang semua baik-baik saja. Alhamdulillah. Dalam aku menangis, aku tetap senang karena bapak dan ibu sehat, mbak tika dan anak-anaknya sehat. Semoga, semua ada gantinya kelak. Hari-hari bahagia yang tidak membawa khawatir apa-apa.

Wednesday, April 04, 2018

Love is Real #2

Pagi itu tidak seperti biasanya, aku bangun lebih awal dan bergegas menyiapkan semua peralatan sekolah dan menyapu rumah. Setelah morning routineku beres, aku ke dapur membantu ibu memasak, yang ini baru tidak biasa. Sejak semalam aku telah diam-diam menyisihkan sayur-mayur dan membuat perkedel kentang sendiri. Sebagian perkedel terbaik aku simpan di lemari dan kusimpan sembunyi-sembunyi. 

Tak lama, bento istimewaku beres. Dengan 2 kepal nasi yang kubentuk emoticon, mi goreng special, sayur hiasan, telur dadar istimewa, dan tentu saja perkedel kentang terbaik yang bisa kubuat. Ah, lega… 

Setengah jam kemudian aku sudah berada di sekolah, aku tidak konsentrasi mengikuti pelajaran. Aku sudah menyiapkan bento dan baju ganti untuk rencana rahasiaku siang ini. Aku sudah nervous membanyangkannya. SMA ku memang bukan sekolah yang popular, yah meski dikenal, orang mengenalnya sebagai sekolah dengan murid yang pandai tawuran dan tentu saja cewek-cewek hot yang sebagian adalah teman kelasku. Aku sekolah hanya sampai pukul satu siang, setelah dzuhur masuk satu jam pelajaran lalu pulang. Tapi hari ini aku tidak akan langsung pulang,aku akan berkencan.

Aku hampir tertidur saat bel sekolah tanda berakhir pelajaran berbunyi. Yeay! Akhirnya selesai juga penantianku. Kubuka ponsel untuk mengirim pesan singkat kepada seseorang yang mungkin sudah 2 jam lalu menungguku di depan gerbang sekolah.

“Kamu di mana mas? Ini udah bel pulang”

“Iya dek, mamas nunggu di depan sekolah”

Aku keluar gerbang dan mendapati seorang laki-laki berjaket biru duduk di motornya sambil matanya mencariku. Itu dia!

“Hey… udah lama nunggu ya?”

“Iya, tadi mamas nunggu kamu di masjid sana itu sambil tidur. Yuk, mau kemana kita?”

Tanpa disuruh, aku langsung naik di boncengnya, sambil mengarahkan kemana tujuan kami hari ini. Tak sabar aku menyajikan bento cintaku padanya. Hingga berminggu-minggu kemudian, dia terus berteria kasih untuk bento cintaku. Dia senang aku mau sedikit repot membuatkan bekal sebagai penawar lelah setelah lebih dari 3 jam perjalanan demi menemuiku sepulang sekolah. 

“Dek, mamas berangkat ya”

“Eh, iya sayang… ini bento nanti buat makan siang di kantor”

Dia tersipu, dia masih terus begitu sampai kami menikah. 

“I love you… terimaksih untuk bento cintanya ya sayang”

Aku mengantarnya sampai gerbang rumah hijau kami. Aku sudah tak sabar menunggunya pulang sore nanti.

Tuesday, April 03, 2018

Love is Real #1

Aku tidak sempat memakan cokelatku yang terakhir saat Dave menarikku untuk cepat-cepat mengikutinya ke tepi pantai. Aku memang sudah lama sekali tidak keluar rumah, hal ini berlangsung sejak Dave berangkat ke Aceh bulan lalu. Saat dia bekerja jauh, aku hanya menunggunya kembali pulang sembari menata rumah kami yang baru. Sebuah rumah yang hijau nan sejuk yang ku desain sendiri dengan saran dan masukan dari suamiku, Dave. 

Rasanya seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan sejak aku bertemu Dave untuk pertama kalinya. Saat itu dia mengenakan kaos lengan panjang berwarna orange dengan gambar lebah di dada kirinya, santai sekali. Aku tak begitu ingat bagaimana kami memutuskan untuk akhirnya bertemu setelah sekian lama menjalin hubungan melalui facebook.

Kami hanya diam dan sesekali saling memandang saat itu, sebetulnya tidak memandang seperti yang biasa dilakukan dalam film atau dituliskan dalam novel. Tentu malu, malu sekali rasanya kasmaran. Aku melihatnya saat dia tak melihatku, dan aku tak tau apakah dia  melakukan hal yang sama. Badannya tinggi dan bugar, untunglah. Untuk perempuan jangkung sepertiku, mendapatkan laki-laki yang seimbang tentu sebuah takdir yang indah.

“Hey, kamu lagi mikirin apa sayang? Kok sampai bengong gitu…”

Aku tersadar dari lamunanku yang jauh di 7 tahun lalu. Aku menatap matanya yang agak sayu dan menarik tubuhnya untuk kupeluk. 

“Terima kasih untuk mencintaiku Mas…”

Dave memelukku lebih erat saat matahari senja hampir habis tenggelam. Aku benar-benar bersyukur bisa menjadi utuh dengannya. Dave, dia adalah laki-laki pendiamku. Aku selalu mencintainya, dan akan terus begitu.

Thursday, March 29, 2018

Tidak Harus Kita Jawab Sekarang

Sore tadi saat aku sedang akan mengangkat jemuran, angin bertiup sepoi-sepoi. Warna langit saat itu putih cerah dan sedikit rona jingga senja hari. Bah, puitis sekali aku menggambarkan suasananya.

Ada aroma sore yang begitu lekat dalam ingatanku, sore ini seperti sore yang ada di rumah dan pulang kampus. Sore saat aku begitu menggebu ingin lari, ingin berkebun, ingin jalan-jalan dengan keponakan atau ibuku ke rumah mbah tini. 

Sore yang bebas dan indah. Sore yang memiliki aroma kenangan yang membahagiakan.

Hey, aku sudah begini sekarang.

Karena sudah begini, aku semakin ingin mewujudkan kehidupan yang lebih bahagia. Tapi yang aku bayangkan hanya yang tidak-tidak. Aku membayangkan kehidupan yang terlalu sulit untuk dicapai. Ck.

Dan jawaban untuk ketidak sempurnaan ini adalah “Oke hidup, mungkin semua tak bisa kuubah sekarang. Maka, aku hanya akan membayangkan kehidupan yang lebih abadi saja. Kumohon agar kali ini tidak ada yang akan mengecewakan saat aku berani ambil langkah memulainya.”

Aku sudah mengaduh, aku sudah hampir puas mencaci maki kenyataan. Lalu sekarang aku lelah sendiri… mungkin ini saatnya berhenti. Aku akan berhenti mengharapkan orang lain membahagiakanku. Aku akan mencari cara sendiri untuk membeli kebahagiaan yang sesuai dengan rencanaku semula.

Tapi, mungkinkah? Mungkinkah dengan tidak melakukan apa-apa?

Aku tidak tau, kita tidak harus menjawabnya sekarang.

Thursday, March 15, 2018

Iya, Rindu itu Berat.

Alhamdulillah.

Hari ini adalah hari ke-39 setelah aku menikah dengan seseorang bernama Mas Andi Setiawan. Menikah itu seru!

Apa-apa yang dilarang dulu kini menjadi halal nan berpahala. Kurang asik apa coba? Dan sejauh ini aku merasakan ketenangan selama hidup berumah tangga dengan Masku. Memang masih banyak sekali ilmu yang perlu kami pelajari, tapi itu tidak aku keluhkan seperti mau ujian karena sekarang kami bisa belajar sama-sama. Misalnya aku yang baca, Mas yang menyimak. Lalu berdua manggut-manggut dan bilang Hmmm… Oh… Ya ya ya. 

Atau ketika kami mendapatkan pelajarannya langsung dari pengalaman, manis sekali saat kemudian Ia menggenggam tanganku atau segera memelukku dengan tubuh harumnya. Oya, salah satu yang aku syukuri dari takdir ini adalah bahwa Mas Andi itu wangi, even sedang keringetan dia tetap wangi. Alhamdulillah.

Pada hari ke-39 ini, aku ditinggalnya bekerja di lapangan Aceh. Jauh ya… demi mendapatkan nafkah, kami LDR untuk sebulan kedepan. Baru saja ia mengabari sudah sampai di lokasi, dapat jadwal malam dari jam 19.00 sampai 08.00. Jadi pas aku bobo dia kerja, pas aku bangun dia bobo. Btw, aku tidak bekerja di luar rumah, untuk saat ini aku memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. Why? Mas pengan aku begitu, Ridho Allah itu Ridho nya suami, jadi apa lagi kalau bukan oke mas. Lagian seru juga bisa doing something dan bener-bener fokus sama something itu.

Lalu agar tetap productive, aku telah membuat to do list yang harus aku wujudkan agar tetap menjadi wanita yang dicintai suamiku. Belajar memasak, menjahit, obat-obatan, jualan… ya banyak lah PR ku ini.

Malam ini aku rindu… rindu sekali. Tapi aku kudu kuat, agar bisa menjadi supporter yang baik buat dia, jadi jangan banyak ngeluh. Ya Allah, kuatkan.

Tuesday, January 23, 2018

Asap Rokok

Sudah hampir dua bulan ini aku ikut bantu-bantu di panwaslu kecamatan. Aku tak mau bilang ini kerja, karena aku tak merasa kerja ini cocok untukku, kecuali gajinya.

Disini kerjanya gampang, tapi banyak asap rokok.

Dari sini aku mulai punya kriteria baru soal kerja yang mau aku geluti. Tidak boleh ada pegawai yang merokok seenak jidatnya. Bisa kubilang sekarang, perokok yang merokok di manapun seenak jidat adalah mereka yang gak punya etika, yang gak tau diri, manusia serendah-rendahnya.

Kenapa?

Enak sekali dia ngisep racun lalu orang lain suruh ikut-ikutan juga. faq kan?

Aku yang takut setengah mati kena sakit tapi gak berani bilang blak-blakan soal jangan merokok di depan aku! Hanya bisa tahan napas, hanya bisa pergi bentar benar agar tak jadi perokok pasif. 

Sial kan, kalau sakit sendiri yang ngobatin. Duit dari mana? Mikir dong. 

Aku kesal bukan main. You! Kalian semua gak berhak nyebar racun kampret ini ke orang-orang yang pengen hidup sehat kayak aku. Gara gara you semua aku jadi ikut-ikutan kena racun sialan ini. Sekarang aja sudah kerasa pusingnya, bagaimana nanti? Aku beli obat herbal mahal untuk kuminum tiap pagi agar terus sehat, kalian enak-enakan nyebar racun tiap hari.

Perduli setan dengan jadi pengangguran, aku mau resign akhir buan ini.