Sudah hampir dua bulan ini aku ikut
bantu-bantu di panwaslu kecamatan. Aku tak mau bilang ini kerja, karena aku tak
merasa kerja ini cocok untukku, kecuali gajinya.
Disini kerjanya gampang, tapi banyak
asap rokok.
Dari sini aku mulai punya kriteria
baru soal kerja yang mau aku geluti. Tidak boleh ada pegawai yang merokok
seenak jidatnya. Bisa kubilang sekarang, perokok yang merokok di manapun seenak
jidat adalah mereka yang gak punya etika, yang gak tau diri, manusia
serendah-rendahnya.
Kenapa?
Enak sekali dia ngisep racun lalu
orang lain suruh ikut-ikutan juga. faq kan?
Aku yang takut setengah mati kena
sakit tapi gak berani bilang blak-blakan soal jangan merokok di depan aku!
Hanya bisa tahan napas, hanya bisa pergi bentar benar agar tak jadi perokok
pasif.
Sial kan, kalau sakit sendiri yang
ngobatin. Duit dari mana? Mikir dong.
Aku kesal bukan main. You! Kalian
semua gak berhak nyebar racun kampret ini ke orang-orang yang pengen hidup
sehat kayak aku. Gara gara you semua aku jadi ikut-ikutan kena racun sialan
ini. Sekarang aja sudah kerasa pusingnya, bagaimana nanti? Aku beli obat herbal
mahal untuk kuminum tiap pagi agar terus sehat, kalian enak-enakan nyebar racun
tiap hari.
Perduli setan dengan jadi
pengangguran, aku mau resign akhir buan ini.
No comments:
Post a Comment